Harapan dan Prospek Tahun 2012

Gambaran perubahan seperti apakah yang diharapkan oleh rakyat menjelang pergantian tahun 2011 ke 2012? Sudah pasti jawabannya adalah peningkatan kesejahteraan ekonomi yang dilandasi terwujudnya rasa keadilan dari dunia penegakan hukum. Berkaca dari tahun 2011, dua tema utama jeritan rakyat itu paling menonjol mengusik kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Pasalnya, kemiskinan dan pengangguran masih membayangi, sementara kualitas penegakan hukum meluncur ke arah tak menentu.

Logikanya, di tengah kesalahpahaman di level elit kekuasaan akibat munculnya berbagai skandal, pemerintah sebagai pengemban amanat rakyat tidak cukup punya waktu dan energi untuk melakukan konsolidasi memacu pertumbuhan ekonomi sebagai penopang peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dari skandal dana talangan Bank Century yang belum tuntas dari sisi hukum, mafia peradilan, mafia pajak, mafia pertanahan, kasus rekening “gendut” PNS, serta berbagai kasus kakap lainnya, ternyata belum tuntas diselesaikan.

Nyala harapan untuk menuntaskan skandal-skandal itu menghadapi realitas skeptisitas, manakala awam pun paham betapa kepentingan politik saling melilit, sehingga menyandera independensi penegakan hukum. Antara elit politik yang satu dengan lainnya sama-sama memiliki “kartu truf” yang setiap saat bisa diungkap ke publik, memicu kegamangan untuk memproses tuntas suatu kasus. Realitas seperti ini, bagaimanapun masih bakal mewarnai penegakan hukum 2012 nanti.

Kemasabodohan rakyat untuk memilih ”meninggalkan” kondisi demikian dan mencari jalan membangun survivalitasnya sendiri, merupakan ungkapan kekecewaan karena hanya disuguhi perseteruan elit yang tidak bermutu dari sisi pendidikan etika politik. Persoalannya, apakah pelepasan frustrasi publik itu bermuara pada energi positif untuk membangun kemandirian ekonomi yang non-politik, atau malah menimbun keputusasaan dengan menciptakan makin banyak ruang keterpinggiran?

Pendek kata, ketika bermaksud bersenang-senang untuk mengekspresikan kegembiraan menyambut tahun baru, imajinasi kita tertuju kepada orang-orang kecil yang notabene kebanyakan dalam kondisi susah. Apalagi sebagian masyarakat yang sedang berduka akibat bencana, seketika pula dia mengambil keputusan untuk membatalkan ekspresi kegembiraannya lalu memilih berdiam diri sembari berdoa.

Imajinasi ekonomis akan meyakinkan seseorang bahwa merayakan pergantian tahun harus secara mewah bukan lagi gaya hidup. Menyimak ungkapan pakar sosiologi David Chaney (1996), gaya hidup itu merupakan ciri sebuah dunia modern. Gaya hidup adalah pola-pola tindakan yang membedakan tindakan antara seseorang dan orang lain. Gaya hidup menyingkirkan nilai fungsional, tetapi lebih mengedepankan nilai simbolik. Orang bergaya hidup tinggi, ternyata lebih mementingkan nilai simbolik ketimbang fungsional.

Misalnya dalam memilih alat transportasi, bila memperhatikan nilai fungsional maka cukuplah mobil seadanya. Tetapi demi simbol, dipilihlah mobil mewah termahal. Begitupun dalam merayakan pergantian tahun, sebenarnya bermakna introspeksi, tetapi yang terjadi justru mengumbar symbol kemewahan di tengah jutaan orang yang masih miskin di negeri ini.

Itulah tantangannya ketika pemerintah benar-benar menjadikan momentum pergantian tahun ini sebagai introspeksi total. Membangkitkan kembali kepercayaan rakyat sejatinya mesti diawali dengan “pertobatan” dalam realita penegakan hukum. Penyegaran pucuk pimpinan lembaga hukum seperti Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad, apakah hanya seperti sebelum-sebelumnya, yang cuma formalisme yang tak membawa perubahan ke depan?

Jadi sangatlah terkait, tidak bisa terpisahkan antara mutu penegakan hukum dengan pertumbuhan ekonomi. Padahal, penegakan hukum yang terukur merupakan modal membangun kepercayaan publik dan investor. Apa yang terjadi selama 2011 adalah kepahitan yang melemahkan semangat rakyat, dimana hanya bisa melihat sepak terjang kepentingan sekelompok orang yang bisa seenaknya memain-mainkan Indonesia. Kita tentu berharap terjadi perubahan, atau sampai jumpa lagi dengan kondisi yang sama? Selamat Tahun Baru 2012!

Related posts