Inflasi Diperkirakan Hanya 0,6% - Desember 2011

NERACA

Jakarta---Bank Indonesia (BI) berani mengklaim inflasi Desember 2011 bisa berada pada posisi sekitar 0,6%. Karena itu hingga akhir 2011, maka angka inflasi tahunan kemungkinan berada 3,8%. Perkiraan ini lebih rendah dibandingperkiraan awal yaitu 3,9%. “Survei BI, sampai minggu ketiga Desember, angka inflasi masih berada di angka 0,6%. sehingga sampai akhir tahun bisa berada pada 3,8%," kata Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta, Kamis (29/12)

Lebih jauh kata mantan Dirjen Pajak ini, beberapa harga kebutuhan pokok seperti sembako memang cenderung naik pada Desember 2011. Namun begitu angka inflasi di bulan Desember masih aman di angka 0,6%. "Inflasi Desember berdasarkan survei sekitar 0,5%-0,6%. Sampai akhir tahun sedikit di bawah 4%,”terangnya.

Sedangkan menurut Deputi Gubermur BI Hartadi A Sarwono, salah satu pemicu terdorongnya inflasi. Karena transportasi pada semua lini mengalami kenaikkan harga. “Itu karena faktor transportasi musiman dan harga-harga barang yang secara keseluruhan juga ikut naik," ungkapnya

Menurut Hartadi, masalah musiman seperti Natal dan Tahun Baru merupakan factor klasik menjelang akhir tahun. “Faktor utama untuk membuat lebih tinggi dari bulan lalu yaitu transportasi, karena masalah musiman dimana akhir tahun transportasi agak naik dan harga barang tetapi secara keseluruhan tidak terlalu tinggi 0,5%-0,6%," tuturnya.

Hartadi meminta agar masyarakat berhemat dalam membelanjakan dananya pada akhir 2011 ini. Akibatnya, harga-harga barang sepanjang tahun masih tidak banyak mengalami kenaikan karena permintaan yang rendah. Rendahnya inflasi tahunan ini. Karena masyarakat lebih berhati-hati membelanjakan uangnya. "Orang sekarang lebih hati-hati dalam spending uangnya,” paparnya.

Dikatakan Hartadi, masyarakat sudah pandai dan tidak terlalu berlebih-lebihan menjelang tahun baru. Meskipun ada kenaikan harga tidak terlalu tinggi. “Natal kemarin pun kita lihat orang pesta Natal, belanja, tapi tidak terlalu berlebih-lebihan dibandingkan historical level kita," jelasnya.

Hal ini, lanjut Hartadi, karena ada keyakinan dalam diri masyarakat akan suplai barang yang cukup sehingga masyarakat tidak terlalu terburu-buru membeli barang. "Ada satu yang mungkin, kita masih akan teliti, tapi kelihatannya betul, yaitu kecukupan akan supply, itu penting. Jadi kalau konsumen melihat supply barang dan jasa cukup, dia tidak perlu buru-buru belanja dengan harga yang menabrak harga-harga tinggi," ujarnya.

Hartadi melihat kondisi saat ini berbeda dengan dulu di mana gairah berbelanja masyarakat mulai berkurang. "Dulu diskon-diskon itu kurang populer, sekarang sangat populer kalau saya lihat di mal-mal. Bahkan ada yang berani 50% dan sebagainya ini menandakan supplynya cukup sehingga orang tidak perlu berebut dan menaikkan harga. Itu agak struktural perubahannya, mudah-mudahan kalau ini bisa kontinyu tahun-tahun ke depan itu bagus untuk pengendalian inflasi," paparnya.

Sebelumnya, Direktur Riset Ekonomi BI Perry Warjiyo sempat memperkirakan laju inflasi di 2012 akan berkisar 4,5% plus minus 1% di tengah melambatnya perekonomian global. Inflasi bisa naik apabila harga BBM subsidi dan tarif dasar listrik (TDL) naik tahun depan. "Tekanan inflasi 2012 msh terkendali dan berada di kisaran 4,5% plus minus 1%. Dampak kinerja ekonomi global menyebabkan pertumbuhan ekonomi mereda sehingga tekanan inflasi mereda seiring dengan penurunan harga komoditas," ujarnya.

Harga BBM subsidi, listrik, dan elpiji bisa saja naik karena harganya saat ini jauh di bawah tingkat keekonomiannya. Jika ini terjadi, maka komoditas strategis lainnya seperti pangan bisa ikut terkerek harganya. **cahyo

Related posts