Pasar Modal Masih Sebatas Angka dan Belum Berkualitas - MENGHADAPI TANTANGAN KRISIS GLOBAL

Oleh : Ahmad Nabhani

Jakarta – Sepanjang tahun 2011, banyak catatan dan peristiwa penting dalam industri pasar modal yang makin mengasah pengalaman para pelaku pasar. Pasar modal menjadi pintu pertama masuk dan keluarnya dana asing ke Indonesia, dan karena itu segala berita baik dan buruk dalam dan luar negeri sangat mempengaruhi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebut saja, kenaikan peringkat Indonesia dalam kategori investment grade oleh lembaga rating Fitch dari BB+ menjadi BBB- makin menyakinkan investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia, dan kondisi ini pun mendongkrak pergerakan indeks dalam beberapa hari kemudian.

Berbicara IHSG, prestasinya belum bisa memuaskan dan terlebih bila bicara dampaknya pada sektor riil. Selama ini, setiap tahun nilai kapitalisasi pasar modal dipicu untuk terus meningkat tetapi soal kualitas masih jauh dari harapan hingga kontribusinya pada PDB masih rendah. Pada pembukaan perdagangan awal tahun 2011, pemerintah mengklaim prestasi indeks dalam negeri menjadi yang terbaik di Asia-Pasifik. Kala itu, indeks dibuka menguat 23,228 poin atau 0,63% menjadi 3.726,740.

Posisi indeks di level 3.726 terus meningkat tajam dan bahkan kuartal kedua tahun 2011, indeks tembus level 4.000. Saking agresifnya pergerakan indeks, hingga memicu keyakinan para analis pasar modal jika akhir tahun 2011, indeks mampu tembus di atas 4.000. Namun dampak krisis ekonomi Eropa dan Amerika, dimulai krisis utang Yunani dan Itali memaksa indeks turun tangga dan sempat tembus level bawah psikologisnya 3.500 pada kuartal ketiga tahun ini.

Berfluktuasinya pasar global hingga isu resesi ekonomi di Amerika dan Eropa telah memicu investor untuk bersikap hati-hati dalam mengkoleksi saham-saham unggulan. Tak ayal, indeks diproyeksikan sulit bisa tembus level 4.000.

Analis saham First Asia Capital Irfan Kurniawan pernah mengatakan, IHSG pada akan sulit mencapai level 4.000 poin, karena pasar global yang masih fluktuatif. "Kekhawatiran terhadap krisis oleh pelaku asing mendorong mereka untuk sementara melakukan aksi lepas saham, sehingga menekan indeks di BEI terus merosot,” katanya.

Menurut dia, aksi lepas saham yang terus terjadi itu juga dipicu oleh lembaga pemeringkat asing, Stanley Morgan yang memperkirakan pertumbuhan indeks harga saham hanya tumbuh satu persen turun tajam dibanding sebelumnya 13%. Namun, diyakini aksi lepas itu bersifat sementara, karena pasar saham Indonesia tetap menarik bagi asing untuk melakukan investasi.

Apapun yang disampaikan analis dan termasuk pemerintah yang mencoba menyakinkan pelaku pasar, belum bisa meredam kepanikan pelaku investor yang terus menjual portofolio sahamnya. Akhirnya kala itu pergerakan indeks tidak karuan posisinya dan sempat membuat BEI menyiapkan opsi suspensi perdagangan kepada Bapepam-LK bila kondisi tersebut dinilai makin parah.

Terkesan tidak mau dibikin malu, otoritas pasar modal tetap ngotot bila dampak krisis global tidak mempengaruhi pasar saham. Kendatipun ada, otoritas pasar modal dan BEI mengklaim telah mengantisipasi berupa pengembangan crisis management protocol (CMP). Menurut Ketua Bapepam-LK Nurhaida, dengan adanya CMP segala bentuk krisis yang terjadi akan ada protokol standar untuk semua pihak yang menghadapinya.

Nurhaida juga tetap percaya diri, indeks pasar modal masih lebih baik dibandingkan dengan indeks harga saham di bursa Asia, kendatipun indeks BEI sempat terkoreksi dalam dalam dua pekan. "Indeks bursa Singapura (Straits Times) telah mengalami koreksi sebesar 16%, indeks bursa Hong Kong (Hang Seng) sebesar 24%, sementara koreksi IHSG baru mencapai 11%," ujarnya.

Menurut Nurhaida, keyakinan dirinya bila indeks dalam negeri masih yang terbaik didasarkan pada penurunan yang tidak terlalu parah atau relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan indeks di Asia, seperti Singapura ataupun Hong Kong.

Penurunan IHSG kali ini, lanjut Nurhaida, lebih dipengaruhi faktor eksternal sehingga tidak perlu terlalu dikhawatirkan. “Bapepam-LK terus berupaya melakukan monitoring dan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai ketentuan yang berlaku," tegasnya.

Dia juga menambahkan, pihaknya juga terus melakukan koordinasi dengan otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memantau kondisi bursa dan siap mengambil langkah-langkah yang tepat apabila terjadi penurunan yang signifikan terhadap IHSG.

Hal senada disampaikan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, kinerja indeks harga saham masih yang terbaik di dunia, Menurutnya, dalam sepanjang tahun 2011 ini kinerja IHSG masih lebih baik ketimbang negara-negara lain. Anjloknya IHSG hanya terkena sentimen negatif, tidak berkaitan dengan fundamentalnya. Artinya, kondisi ini masih lebih baik dalam sepanjang tahun dan sangat tidak berkaitan dengan fundamental ekonomi dalam negeri.

Minat IPO

Ditahun ini pula, BEI berhasil memenuhi target 25 emiten baru di pasar modal yang ditutup dengan listing-nya PT Greenwood Sejahtera Tbk. Padahal dua tahun berturut-turut target IPO BEI melesat hingga tahun ini, BEI sempat menyampaikan pesimistis bila target IPO sulit terealisasi.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito pernah bilang, untuk capai 25 emiten tahun ini sulit, karena pengaruh sentimen pasar negative bursa global sangat signifikan walaupun fundamental ekonomi dalam negeri cukup bagus.

Menurut dia, kondisi saat ini dinilai wajar jika BEI tidak memenuhi target emiten yang listing di pasar modal. Alasannya, kondisi pasar global yang negatif memberikan andil minat perusahaan untuk listing tahun ini.

Perlu diakui, derasnya sentimen negatif krisis ekonomi Eropa dan Amerika sempat mempengaruhi agenda aksi korporasi beberapa perusahaan, sebut saja rencana IPO PT Krakatau Wajatama yang juga anak usaha PT Kratau Steel Tbk (KRAS). Sejatinya berniat listing ditahun ini, kemudian ditunda hingga tahun depan karena gejolak pasar, Semen Baturaja dan hal yang sama juga terjadi PT Toba Bara Sejahtera dan masih banyak lagi.

Sejak diawal tahun 2011, beberapa emiten yang listing di pasar modal sempat dibuat malu didepan investornya karena harga perdana sahamnya langsung jatuh. Pengalaman inilah yang dirasakan PT Martina Berto Tbk, PT Megapolitan Development Tbk dan yang lebih menguras tenaga adalah IPO-nya PT Garuda Indonesia Tbk. Tudingan harga saham yang terlalu mahal hingga intervensi politik menjadi penyebab IPO Garuda tidak laku dipasaran. Imbasnya membuat tekor penjamin emisinya, diantaranya Mandiri Sekuritas, Bahana Sekuritas dan Danareksa Sekuritas yang harus menyerap sisa saham IPO senilai Rp 2,5 triliun dari target Rp 4 trilun hanya terserap Rp 1,5 triliun.

Gagalnya pelaksanaan IPO Garuda, membuat Menteri Keuangan Agus Martowardojo angkat suara dan mengkritik penjamin emisi Garuda. Dirinya meminta tim privatisasi BUMN memiliki ketajaman dalam negosiasi dan tidak terlalu berambisi memperoleh harga saham perdana yang tinggi. "Jangan berambisi harga terlalu tinggi, tapi malah tidak bisa kesampaian," katanya.

Dominasi Asing

Di usia ke-34, industri pasar modal mencatatkan pertumbuhan kepemilikan lokal yang cukup signifikan. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyebutkan, total aset investor domestik yang tercatat di C-Best naik dari Rp899,68 triliun pada September 2011 menjadi Rp946,57 triliun pada Oktober 2011. Selain itu, total aset investor asing naik dari Rp1.172,76 triliun pada September 2011 naik menjadi Rp1.257,256 triliun pada Oktober 2011. Total aset asing dan lokal mencapai Rp2.203,832 triliun pada Oktober 2011.

Selain itu, disebutkan pula nilai kepemilikan saham oleh investor domestik naik dari Rp737,64 triliun pada September 2011 menjadi Rp781,12 triliun pada Oktober 2011. Nilai kepemilikan saham oleh asing naik menjadi Rp1.243,49 triliun pada Oktober 2011 dari periode September 2011 senilai Rp737,64 triliun.

Total nilai kepemilikan saham baik asing dan lokal senilai Rp2.024,61 triliun pada Oktober 2011 yang tercatat di KSEI Central Depository. Sementara itu, nilai kepemilikan obligasi yang dimiliki investor domestik naik dari Rp129,34 miliar pada September 2011 menjadi Rp130,16 miliar pada Oktober 2011. Nilai kepemilikan obligasi yang dimiliki investor asing turun dari Rp6,56 miliar pada September 2011 menjadi Rp6,19 miliar pada Oktober 2011. Total kepemilikan obligasi senilai Rp136,35 miliar pada Oktober 2011.

Menyadari masih dominasi investor asing di pasar modal menjadi perhatian serius PT BEI agar bisa mengembangkan ketertarikan investor lokal bermain saham. Mungkin beda cerita bila pasar modal dalam negeri di dominasi investor lokal, karena indeks akan tahan banting dan bisa stabil terhadap pengaruh global dan bukan sebaliknya bergantung terhadap dana asing yang sangat mudah didikte sehingga bisa mengancam perekonomian nasional.

Sebagai informasi, selama Januari-Juli 2011, investor asing mencatat transaksi beli bersih (nett buy) sebesar Rp 22,9 triliun. Namun, pada Agustus-22 September 2011, asing melakukan transaksi jual bersih (nett sell) hingga Rp 13,7 triliun.

Baik Bapepam LK, BEI serta anggota SRO lainnya mempunyai kepentingan besar agar investor lokal lebih banyak lagi berinvestasi di pasar saham. Pasalnya, hadirnya investor lokal akan menopang pergerakan indeks lebih kuat lagi. Setiap tahunnya, BEI tidak bosan-bosannya untuk terus melakukan edukasi dan penyebaran informasi tentang investasi saham dan perannya bagi ekonomi bangsa. Sementara untuk edukasi tingkat pelajar dan mahasiswa, BEI juga telah banyak mendirikan pojok bursa di beberapa universitas hingga mengkampanyekan nasional cinta pasar modal.

Membandingkan dengan Singapura yang jumlah investor lokalnya sebesar 4 juta dari total penduduknya 7 juta dan Malaysia sekitar 20% dari jumlah penduduknya, maka Indonesia masih dibawah. Berbagai macam cara pun dilakukan BEI, guna meningkatkan minat investor lokal di pasar modal diantaranya menghadirkan fatwa halal transaksi saham dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan terus mengembangkan daftar efek syariah.

Direktur Pengembangan BEI Friderica Widyasari Dewi mengatakan, permintaan fatwa MUI didasarkan akan kebutuhan para investor terhadap efek syariah dan juga meningkatkan jumlah investor. Sehingga keraguan investor daerah akan transaksi saham haram atau halal bisa disudahi dan mempunyai kepastian hukum. BEI menargetkan dengan hadirnya fatwa halal jumlah investor lokal meningkat minimal 1% dari jumlah penduduk saat ini atau sekitar 2,3 juta orang.

Lalu bagaimana dengan kapitalisasi, BEI mencatatkan hingga akhir Oktober 2011 mencapai Rp3.434,44 triliun atau mengalami pertumbuhan 6,96% dibandingkan dengan akhir September 2011 senilai Rp3.210,81 triliun. Namun ironisnya, kapitalisasi pasar yang besar tersebut masih didominasi saham-saham emiten itu-itu saja hingga sempat ada tuduhan kartel dibalik dominasi saham, sebut saja PT Astra International Tbk (ASII) mencatat kapitalisasi terbesar, yaitu senilai Rp279,33 triliun, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp197,70 triliun, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rp165,16 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp164,85 triliun, dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) Rp149,18 triliun.

Selanjutnya, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mencatatkan kapitalisasi pasar saham senilai Rp138,72 triliun, disusul saham PT Unilever Tbk (UNVR) Rp119,40 triliun, saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) Rp112,75 triliun, saham PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp91,76 triliun.

Merespon masih terlihatnya dominasi dalam kapitalisasi pasar saham saat ini, langsung dibantah Dirut BEI Ito Warsito yang menuturkan, dominasi kapitalisasi pasar sudah tidak terlihat di BEI. Kapitalisasi pasar saham emiten di Bursa Efek Indonesia dalam dua tahun terakhir sudah mulai merata. "Banyaknya emiten yang mampu meningkatkan kapitalisasi pasarnya terjadi karena kinerja emiten yang semakin membaik dan ekspansi-ekspansi yang dilakukan," ujarnya.

Menurut Ito, dominasi terakhir terjadi terakhir pada 2008, dengan emiten yang mendominasi pasar modal adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), yang kapitalisasi pasarnya mencapai 10 % dan bahkan sempat 20%.

Aspek Keamanan

Keamanan berinvestasi di industri keuangan dan termasuk pasar modal menjadi kebutuhan dan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Sepanjang tahun ini, prestiwa soal penyimpangan dana nasabah atau kejahatan pasar modal terus terjadi dan jumlahnya makin meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Diawal sebut saja, kasus penggelapan dana deposito Elnusa oleh PT Bank Mega Tbk, Askrindo dan Falcon. Belum lagi bicara penyelesaian kasus Bakrie Life yang awet belum terselesaikan dan juga penggelapan dana IPO Katarina.

Meminimalisir kasus tersebut, berbagai macam perangkat dan instrument telah dilakukan BEI dan salah satunya adalah kewajiban pemisahan rekening efek nasabah dengan perusahaan sekuritas hingga mewajibkan memiliki kartu acuan kepemilikan sekuritas (AKSes) sesuai dengan aturan Bapepam-LK No.V D.3. Rencananya, penggunaan kartu AKSes yang juga sebagai single investor ID akan dilakukan pada awal tahun depan seiring dengan tegat waktu pemisahan rekening efek nasabah dan perusahaan sekuritas. Namun menjelang pelaksanaan aturan baru tersebut, penyebaran kartu AKSes dinilai belum optimal.

Ketua Bapepam-LK Nurhaida meminta KSEI untuk terus meningkatkan jumlah kepemilikan kartu ASKes, “Kami harapkan KSEI tingkatkan penggunaan fasilitas AKSes. Sampai dengan saat ini penggunaannya masih belum optimal,"ungkapnya.

Nurhaida menyebutkan, saat ini total sub rekening efek pasar modal mencapai 348.373 investor. Namun sayang, kepemilikan kartu AKSes baru 101.244 investor. Beda ceritanya dengan yang disampaikan Direktur Utama KSEI Ananta Wiyogo, kepemilikan kartu AKSes tiap bulannya bertambah dan dapat mencapai 350 ribu secepatnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pihaknya akan terus meningkatkan jumlah kepemilikan kartu AKSes dengan menerbitkan kartu AKSes baru tanpa diminta oleh investor. Tidak hanya itu, BEI juga mewacanakan Investor Protect Fund sebagai lembaganya LPS dalam industri pasar modal. Namun rencana ini masih jauh dari progress. Tapi yang pasti rencana ini akan dimasukkan dalam revisi UU pasar modal dan akan dibahas di DPR tahun depan.

Bapepam-LK sebagai otoritas pasar modal banyak menghadirkan peraturan baru untuk meningkatkan kualitas industri pasar modal dan yang pasti sangat memperhatikan keamanan dan kenyamanan berinvestasi. Sebut saja peraturan soal pemisahan rekening efek dan kewajiban investor memiliki kartu AKSes pada tahun depan, yang teranyar adalah menerapan pedoman standar akutansi keuangan baru berstandar internasional atau International Financial Reporting Standart(IFRS).

Langkah ini diambil karena praktikgood corporate governancebagi perusahaan publik mewajibkan pelaporan keuangan yang transparan dan dapat dipertanggung jawabkan dalam mendorong kepercayaan pemangku kepentingan, termasuk penanam modal.

Dalam sosialisasinya kepada beberapa emiten dan industri keuangan, Bapepam-LK memberikan penjelasan tujuan konvergensi PSAK ke IFRS adalah meminimalisasi perbedaan antara prinsip akuntansi yang berlaku di Indonesia dengan IFRS.

Kepala Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan Bapepam-LK, Etty Retno Wulandari mengatakan, penerapan IFRS dimaksudkan untuk mengurangi dampak psikologis dari investor asing dalam pengambilan keputusan investasi. “Kendala yang dihadapi dalam penerapan PSAK berbasis IFRS adalah terjadinya perubahan konsep,”ujarnya.

Menurutnya, jika sebelumnya merupakanrule based,setelah di konvergensi menjadiprinciple based.Selanjutnya, terdapat perubahan konsep penilaian, di mana sebelum revisi utamanya menerapkanhistorical cost,namun setelah di konvergensi menggunakanfair value.Tapi ada juga dua PSAK yang di konvergensi ke IFRS memperbolehkan emiten atau perusahaan memilih menerapkanhistorical costataufair value.

Bapepam LK mengklaim siap mengefektifkan konvergensi 18 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) keInternational Financial Reporting Standart(IFRS) pada 2012 mendatang. Namun bila membandingkan dengan Malaysia dan Singapura yang telah menerapkan IFRS pada 2006 sedangkan Australia pada 2005, maka Indonesia masih tertinggal.

Konsekuensi penerapan IFRS adalah pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 51 (Revisi 2003) tentang Kuasi Reorganisasi akan dicabut awal tahun depan. Karena itu, banyak emiten mengajukan kuasi reorganisasi dan Bapepam-LK mencatat sudah lebih 20 emiten mengajukan fasilitas tersebut.

Pasar Obligasi

Memasuki akhir tahun, pasar obligasi banyak diramaikan industri keuangan dan pembiayaan. Alasannya, aksi korporasi ini dinilai lebih tepat ketimbang pinjaman perbankan. Disamping itu, bagi investor cara ini sebagai alternatif investasi yang baik mendatangkan returen yang tinggi ditengah terpangkasnya suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) hingga 6%.

Data BEI menyebutkan penerbitan obligasi korporasi hingga awal November mencapai Rp 30,81 triliun dan tahun depan nilai penerbitan obligasi korporasi pada 2012 diperkirakan mencapai Rp35-40 triliun.

Masih besarnya minat investor asing di pasar modal menanamkan investasinya di pasar modal membuktikan Indonesia menjadi tempat yang menjanjikan. Namun ironisnya, peran dan kontribusi pasar modal belum seutuhnya memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian sektor riil. Alhasil, derasnya dana asing yang masuk hingga triliunan hanyalah sebagai angka-angka kosong yang tidak memberikan banyak manfaat.

Oleh karena itu, tahun 2011 menjadi pelajaran untuk memperbaiki diri kedepannya lebih baik dan tahun depan industri pasar modal bisa menjadi sokongan bagi pertumbuhan ekonomi dan sektor riil. Karena ambisi bisa mengalahkan pasar modal Singapura dan Malaysia tidak hanya perbanyak perusahaan untuk IPO ataupun BUMN, tetapi bagaimana menyiapkan SDM pasar modal berkualitas dan regulasi yang tegas meminimalisir kejahatan pasar modal dengan tetap ramah terhadap pelaku pasar modal.

Related posts