Perusahaan RI dan Pakistan Transaksi Batubara US$ 5 Juta

NERACA

Jakarta – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Karachi berhasil mewujudkan kesepakatan dagang batu bara sebanyak 50.000 ton atau senilai lima juta dolar AS antara perusahaan Indonesia PT Wira Yudha dan perusahaan Pakistan Techno World Instrument Service.

Hal itu disampaikan dalam keterangan pers dari KJRI Karachi yang diterima di Jakarta, disalin dari Antara. "Tentu saja kami ikut berbahagia karena kedua pihak berhasil meraih kesepakatan untuk merealisasikan perdagangan batu bara. Menurut mereka pengiriman perdana batu bara sebanyak 50.000 ton dengan nilai lima juta dolar AS itu akan dilakukan dalam waktu dekat," kata Konsul Jenderal RI Karachi, Dempo Awang Yuddie.

Menurut data Badan Pusat Statistik, ekspor batu bara Indonesia utamanya ditujukan kepada Jepang, Korea Selatan, Filipina, Thailand, Malaysia, India, Amerika Serikat, Belanda, Italia dan Spanyol.

"Pakistan belum masuk negara utama tujuan ekspor batu bara Indonesia padahal peluangnya cukup besar karena kebijakan energi nasional dan industri setempat, khususnya industri semen sangat membutuhkan batu bara," ujar Dempo.

Dia menyebutkan, teknologi industri semen di Pakistan saat ini membutuhkan batu bara berkalori tinggi (6000 GCV/Gross Caloric Value). PT Wira Yudha memiliki batu bara yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.

"Dengan seiring perkembangan teknologi yang terjadi pada industri semen di Pakistan, dalam lima tahun kedepan bukan tidak mungkin batu bara dengan GCV rendah dari Indonesia akan semakin banyak memasuki pasar Pakistan," ucap Dempo.

Dia berharap dengan adanya realisasi kesepakatan dagang batu bara antara kedua perusahaan tersebut, nilai ekspor batu bara dari Indonesia ke Pakistan dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.

Nilai ekspor batu bara Indonesia ke Pakistan pada 2014 mencapai 89 juta dolar AS dan 97 juta dolar AS pada 2015. Konjen RI Karachi menambahkan, Pakistan juga membutuhkan batu bara untuk pembangkit tenaga listrik sebagai alternatif terbatasnya persediaan air untuk pembangkit listrik. "Untuk itu, diharapkan eksportir batu bara Indonesia dapat meningkatkan penetrasi ke Pakistan," ujar dia.

Perusahaan asal Jerman, PT Zemag Clean Energy Techology GmbH sedang mencari mitra lokal untuk mengembangkan gasifikasi batubara di Indonesia. "Sedang menjajaki dan mencari local partner untuk membuat demonstration project," kata Dirjen Industri Kimia Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono belum lama ini.

Perusahaan tersebut telah menyatakan minatnya berinvestasi di Indonesia untuk mengembangkan turunan dari gasifikasi batubara. Sigit menilai, dibutuhkan investasi sekitar Rp13 triliun untuk menghasilkan 1.000 metrik ton turunan gasifikasi batubara.

Ia menambahkan, pabrik untuk pengembangan gasifikasi batubara bisa dibangun di wilayah Kalimantan. Menurutnya, industri batu bara di Indonesia masih menarik bagi investor asing di tengah perlambatan ekonomi global.

Jika dihitung, dalam masa pengujian dapat mengubah 100.000 ton batubara menjadi 3.600 million metric british thermal unit (mmbtu) gas per hari. Jika gas yang dihasilkan tidak digunakan, lanjut Sigit, bisa dipakai untuk industri dalam negeri dengan harga 4 dollar AS hingga 5 dolar AS per mmbtu. "Investasi ini akan menghasilkan nilai tambah yang besar bagi industri dalam negeri. Untuk gasnya bisa dipakai di dalam negeri, tinggal dibangun infrastrukturnya," ujar Sigit.

Sigit menambahkan, pihaknya akan mencarikan rekanan lokal untuk bekerja sama dengan Zemag dalam membangun industri gasifikasi batubara. "Kita punya cukup banyak batu bara yang berkalori rendah dan perlu dikonversi untuk menjadi gas sintetis, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan metanol. Kemungkinan perusahaan asal Jerman tersebut bekerja sama dengan perusahaan lokal agar projectnya bisa berjalan," kata Sigit.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan bahwa cadangan mineral dan batubara (minerba) RI akan habis sehingga pemanfaatannya harus dilakukan dengan kalkulasi atau perhitungan cermat. "Saya ingin ingatkan bahwa sumber daya mineral dan batubara merupakan sumber daya yang tidak bisa diperbarui," kata Presiden Jokowi dalam Rapat Kabinet Terbatas membahas pelaksanaan kegiatan usaha minerba di Kantor Presiden Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta.

Presiden menyebutkan saat ini Indonesia masih menduduki peringkat 10 untuk cadangan batu bara dunia, tapi harus diingat bahwa itu akan habis. "Diprediksi 83 tahun mendatang sudah akan habis," katanya.

BERITA TERKAIT

Penggunaan Dolar dalam Transaksi Perdagangan Bilateral Dikurangi

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menerbitkan peraturan penyelesaian transaksi perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal (local…

Investor Jembo Tunaikan Kewajiban SCB - Bayar Senilai US$ 16 Juta

NERACA Jakarta – Perusahaan kabel, PT Jembo Cable Tbk (JECC) menyebutkan penyelesaian kontijensi antara perseroan dengan Standard Chartered Bank (SCB)…

PKL dan Angkot di Stasiun Bekasi

Beberapa waktu yang lalu, pernah ada bantuan pasukan Brimob dari Polda Metro Jaya membantu menertibkan angkot yang parkir dan ngetem…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Perdagangan Internasional - Kinerja Ekspor Non Migas Terkoreksi 6,09 Persen di September

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan kinerja ekspor Indonesia pada September 2017 sebesar 4,51 persen dari…

Kemudahan Impor Tujuan Ekspor - Kemenperin Beri Masukan Kebijakan KITE Bagi IKM

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) mengusulkan beberapa langkah strategis untuk mendukung pelaksanaan…

Tingkatkan Daya Saing - Standar Keamanan Produk Perluas Ekspor Mamin

NERACA Jakarta – Pengembangan inovasi dan penerapan standar keamanan produk mampu memacu daya saing industri makanan dan minuman (mamin) nasional…