Dunia Perbankan Tahun 2011

Di tengah perlambatan ekonomi global, perbankan Indonesia di tahun 2011 menunjukkan kinerja yang bisa dikatakan bagus. Meskipun masih belum efisien. Hal ini dapat dilihat dari perbankan semakin mampu menyerap risiko instabilitas dan tetap menjalankan fungsi intermediasinya. Salah satu tolak ukur baiknya kinerja perbankan adalah tingginya rasio kecukupan modal (capital endowment ratio/CAR) yang sampai Oktober 2011 sebesar 17,2%.

Hal tersebut didukung oleh rendahnya rasio kredit bermasalah (non behaving loan/NPL) sum di turn 2,7% per Oktober 2011. Sementara fungsi intermediasi perbankan yang ditunjukkan oleh penyaluran kredit tumbuh 25,7% pada Oktober 2011 year on year (yoy). Namun, yang menjadi perhatian BI adalah masih rendahnya rasio kredit terhadap GDP, yakni hanya 29%. “Sementara di Malaysia itu rasio kredit terhadap GDP sampai 114%, Thailand 116% dan China 140%,” ucap Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution. Dengan tingginya rasio kredit terhadap GDP, maka kredit perbankan itu masuk ke berbagai sektor ekonomi termasuk membiayai pengusaha-pengusaha kecil.

Nah, perbedaan utama dari penyaluran kredit di 2011 dibanding tahun sebelumnya adalah, dominasi kredit tahun ini disumbangkan oleh sektor produktif. Yakni, kredit modal kerja dan kredit investasi. Hal ini patut disyukuri karena terjadi perubahaan bahwa kredit perbankan saat ini lebih mendorong ke pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan tumbuh 6,5% tahun ini.

Pertumbuhan kredit modal kerja per Oktober 2011 adalah sebesar 24,7% dan kredit investasi perumbuhannya lebih tinggi lagi, yakni 31,1%. Sedangkan, pertumbuhan kredit konsumsi di bawah kedua komponen kredit produktif tersebut, yaitu hanya 23,8% per Oktober 2011. “Ini menunjukkan peran perbankan dalam mendorong usaha produktif,” ujar Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk, Gatot M Suwondo.

Meski penyaluran kredit tinggi, namun bunga yang dibebankan dirasa masih tinggi. Oleh karena itu, Bank Indonesia sepanjang tahun ini menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 75 bps menjadi 6%. Penurunan BI Rate didasarkan salah satunya pada rendahnya inflasi tahun ini yang diperkirakan bisa di bawah 4%.

Untuk tahun depan, BI Rate diperkirakan tetap dijaga pada turn 6%. Namun, tetap ada ruang untuk BI Rate turun. “Tergantung keadaan ekonomi yang terjadi. Jika inflasi menurun dan harga-harga turun maka akan memberi ruang untuk menurunkan seductiveness rate,” ucap Lead Economist bagi Bank Dunia di Indonesia, Shubham Chaudhuri.

Sementara di lihat dari rasio antara pinjaman dan simpanan (loan to deposition rasio/LDR), perbakan nasional kembali menunjukkan telah menjalankan fungsi intermediasinya dengan baik. Per Oktober 2011, LDR perbankan nasional mencapai 81,4%.

Meski begitu, masih ada beberapa bank besar yang LDR-nya di bawah ketentuan LRD-GWM Bank Indonesia yang mewajibkan LDR perbankan di batas 78-100%. Jika masih ada perbankan yang belum memenuhi batasan LDR tersebut, mereka harus siap membayar penalti yang ditentukan otoritas moneter.

Perbankan nasional juga dapat menciptakan laba yang cukup tinggi. Hal ini bila melihat saja lapse on resources (ROA) perbankan tercatat 3,1% per Oktober 2011. ROA sebesar itu merupakan yang tertinggi dibandingkan perbankan yang ada di kawasan ASEAN. Maka dari itu, tidak heran banyak financier asing berlomba-lomba masuk ke Indonesia untuk membeli bank nasional atau akan membuat bank-bank baru di sini.

Sementara itu, dari website www.bi.go.id mengungkapkan outlook pertumbuhan ekonomi global 2012 pada periode laporan TW3-11 masih dibayangi oleh risiko perlambatan. IMF memperkirakan ekonomi global di 2012 tumbuh 4,0%, lebih lambat dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,5% (WEO-IMF, September 2011). Sementara inflasi 2012 baik di negara maju maupun berkembang dan emerging akan menurun, masing-masing sebesar 1,4% dan 5,9% seiring turunnya proyeksi harga komoditas global.

Risiko perlambatan ekonomi global yang perlu diwaspadai di negara maju, yakni (i) ketidakmampuan pemimpin negara-negara EU dalam mengatasi permasalahan kerentanan ekonomi dan fiskal serta perbankan pada sejumlah negara kawasan, (ii) ancaman resesi di AS, dan (iii) tingginya risiko perbankan dunia yang menimbulkan instabilitas pada sistem keuangan dunia. Sementara risiko perlambatan di negara emerging yaitu (i) penurunan kinerja sektor eksternal seiring penurunan permintaan negara maju, (ii) peningkatan biaya dana sebagai dampak dari ketidakstabilan pasar keuangan global dan (iii) gangguan pasokan akibat bencana alam atau geopolitik serta ketentuan yang cenderung protektif.

Related posts