Dongkrak Jumlah Investor Melalui Fatwa MUI - BEI Pastikan Kantongi Sertifikat Halal Maret 2011

NERACA

Jakarta – Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memberikan label halal dalam perdagangan saham atau efek syariah dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan berjalan mulus. Pasalnya, permintaan tersebut telah dikaji oleh MUI dan kabarnya akan segera turun pada Maret tahun ini.

Direktur BEI, Ito Warsito mengatakan, pihaknya telah mengajukan permintaan sertifikat halal dan mendesak untuk segera mengeluarkan fatwa mengenai halal dan haramnya jual beli saham. “BEI tengah memproses di Dewan Syariah Nasional dan diharapkan fatwa keluar bulan Maret,”katanya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (23/2).

Menurutnya, hadirnya fatwa halal dan haram jual beli saham dari MUI akan memberikan dampak positif. Namun lain ceritanya, bila fatwa tersebut lama dikeluarkan akan memberikan dampak negatif karena bisa menghambat investor. Pasalnya, selama ini para investor didaerah menginginkan adanya kepastian hukum agama terkait investasi saham dipasar modal.

Sebagaimana diketahui, permintaan fatwa MUI didasarkan akan kebutuhan para investor terhadap efek syariah dan juga meningkatkan jumlah investor. Selama ini jumlah investor di Indonesia masih kurang dari satu persen dibandingkan jumlah masyarakatnya. Sehingga kalah jauh dengan Malaysia yang telah mencapai 30%.

Perdagangan Efek Syariah

Sebelumnya, Direktur Pengembangan BEI Friderica Widyasari Dewi pernah bilang, keterlibatan masyarakat dalam investasi pasar modal masih sangat minim dan sehingga BEI terus melakukan berbagai upaya. Selain menghadirkan pojok bursa dan membuat sekolah pasar modal. Kali ini, BEI meminta sertifikat fatwa halal dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI). Langkah ini juga dimaksudkan untuk hal yang sama meningkatkan jumlah investor di pasar modal. "Kita ingin mendapatkan fatwa halal MUI untuk mekanisme perdagangan" kata Friderica Widyasari Dewi.

Saat ini, pada perdagangan saham terdapat 209 saham syariah. Dengan sertifikat halal tersebut maka pengembangan bursa lebih baik untuk meningkatkan jumlah investor. Ditambah Indonesia merupakan salah satu negara muslim terbesar di dunia.

Menurut Friderica, bursa regional lain seperti bursa saham Malaysia pun tertarik untuk meminta fatwa halal ke MUI. Bursa saham Malaysia menginginkan bursa saham syariah terbesar. “Malaysia telah meminta MUI untuk sertifikat halal, tetapi belum diberikan. Kita telah memasukkan evaluasi sertifikat halal,"ujarnya.

Friderica mengatakan, dengan adanya sertifikat halal tersebut maka bisa meningkatkan jumlah investor. Pihaknya ingin membangun investor di Aceh dan Makasar. "Investor di sana pernah menanyakan apakah halal atau tidak untuk mekanisme perdagangan saham,"ungkapnya.

Selain itu, bursa saham Indonesia juga akan menggerakkan kampanye nasional Cinta Pasar Modal pada 2011. Kampanye ini dilakukan di Jakarta. Namun dirinya enggan menyebutkan dana yang disediakan. "Dana akan dibagi tiga SRO," tutur Friderica.

Saat ini keterlibatan masyarakat di pasar modal dengan menjadi investor sangat minim atau baru sekitar 400 ribu investor. Padahal di negara-negara Asia seperti India, Malaysia, dan Singapura, investor pasar modal menembus angka jutaan.

Investor dalam negeri masih sangat minim. Tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang 230 juta. Untuk itu, BEI menargetkan pada 2012 jumlah investor minimal 1% dari jumlah penduduk saat ini atau sekitar 2,3 juta orang. Karenanya Bursa Efek berusaha menyebarluaskan informasi seputar investasi dan pasar modal melalui pembukaan pusat informasi pasar modal di daerah-daerah.

Go Public BUMN

Selain itu, Dirut BEI Ito Warsito juga menyinggung soal go public Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dinilai langkah terbaik untuk meningkatkan transparansi. Oleh karena itu, sudah saatnya BUMN untuk segera go public di pasar modal, karena selain untuk transparansi juga keuntungan lain mampu meningkatkan kinerja perseeroan.

"BUMN harusgo publicuntuk meningkatkan transparansi. Berdasarkan studi empiris, BUMN yanggo public kinerjanya meningkat pesat. BUMN harus hati-hati, tidak hanya bisnis danperformanceyang diperhatikan, jadi harusgo public," ungkapnya.

Ito menyebutkan keberhasilan BUMN bidang pelayanan publik pasca IPO antara lain, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Dimana harga sahamnya langsung melejit dan kapitalisasi perseroan pun meningkat delapan kali lipat. “Kapitalisasi Telkom menjadi Rp 170 triliun setelah IPO,”tandasnya. (Bani)

Related posts