Kurangi Subsidi Tak Selalu Naikkan Harga BBM

NERACA

Cilacap - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan perlunya pembenahan dan mengendalikan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini demi mencegah jebolnya APBN. Namun penghematan penggunaan BBM tidak selalu dengan menaikkan harga BBM. "Kurangi subsidi tidak selalu dengan kenaikan harga BBM. Namun dengan menata kembali yang diperlukan dan tetapkan berapa yang harus dipenuhi," katanya di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (28/12)

Lebih jauh Kepala Negara mengakui beban subsidi dalam APBN merupakan salah satu pos yang terbesar. Sudah seharusnya, lanjut SBY, subisidi diberikan kepada orang yang membutuhkan alias tepat sasaran. "Komponen subsidi dalam APBN cukup besar. Subsidi ini harus tepat sasaran dimana ditujukan kepada saudara kita yang membutuhkan. Jangan sampai keliru memberikan subsidi," tambahnya

Menurut Presiden, beban terbesar subsidi yakni BBM dan listrik oleh karena itu diperlukan untuk mengurangi beban subsidi kedua pos tersebut. "Dengan cara mengendalikan volume dan harus dipastikan seluruhnya sesuai dengan yang kita perlukan. Oleh karena itu diatur dengan baik agar keperluan rakyat bisa terpenuhi," tegas SBY. "Salah satu cara lain yakni mengubah kebiasaan penggunaan BBM dengan menggantinya kepada Bahan Bakar Gas (BBG). Serta kita harus banyak menghemat," imbuhnya

Disisi lain, Presiden berharap secara perlahan Indonesia bisa memasok energi ke masyarakat global. Hal ini selain bisa menentukan harga energi dunia juga memberikan keuntungan bagi Indonesia. "Total produksi energi kita harus semakin besar untuk bisa memenuhi keperluan rakyat kita, dan manakala lebih bisa disumbangkan ke masyarakat global melalui perdagangan dan output akan menguntungkan kita," tuturnya

Dikatakan Presiden, saat ini Indonesia telah mampu memproduksi minyak, gas dan batubara setara 6 juta barel per hari. Angka tersebut sudah termasuk besar jika dibandingkan dengan negara-negara yang

SBY menambahkan pemerintah akan meningkatkan produksi energi dan harus bisa mendistribusikan dengan efisien dan tepat. Caranya dengan membangun sistem distribusi dan penyimpanan yang bagus. "Pengalaman membuktikan, harga pangan dan energi ditentukan oleh perekonomian global itu lah realitas yang kita hadapi," katanya.

Dikatakan SBY lagi, dengan peran Indonesia bisa menghasilkan energi berlebih bagi masyarakat global maka akan bisa mempengaruhi harga energi global. Ia mencontohkan saat ini harga minyak dunia cenderung naik turun karena permainan perdagangan minyak yang imbasnya sangat buruk bagi perekonomian negara lain maupun Indonesia. "Ini lah kritik kita pada kapatalisme global," katanya.

SBY juga mengingatkan penduduk dunia yang saat ini mencapai 7 miliar orang akan membengkak menjadi 9 miliar orang di tahun 2045. Peningkatan ini akan berimbas pada naiknya permintaan pangan maupun energi global. "Sampai tahun 2045 di seluruh dunia perlu tambahan komoditas pangan 70% dan komoditas energi 60% ini menunjukan bahwa energi semakin penting," pungkasnya. **cahyo

Related posts