Perlu Introspeksi Lebih Dalam

Lembaga pemeringkat internasional Fitch menaikkan country ceiling Indonesia menjadi BBB minus, dan utang jangka pendek dalam mata uang asing dinaikkan menjadi F3. Kenaikan peringkat ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berdaya tahan, rasio utang publik yang rendah dan terus menurun, likuiditas eksternal yang menguat, dan kerangka kebijakan makro yang hati-hati ke depan.

Tidak hanya itu. Ekonom Kepala Bank Dunia di Indonesia Shubbam Chaudhuri mengatakan bahwa Bank Dunia merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2011 menjadi 6,2% dari prediksi 3 bulan sebelumnya 6,3%. Begitu juga neraca berjalan defisit US$1,7 miliar yang merupakan revisi dari surplus US$0,3 miliar. Sementara di sisi lain, survei dari Transparency International menunjukkan bahwa Indonesia masih merupakan negara terkorup rangking 100 dengan skor 3, dari 183 negara.

Ironis memang dari ekonomi makro bagus, pertumbuhan ekonomi negeri ini sekarang tersandera oleh infrastuktur dan institusi. Pelabuhan-pelabuhan laut sangat memprihatinkan keadaannya dibandingkan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Lalu lintas menuju Tanjung Priok harus melewati kemacetan makin parah yang menghabiskan energi dan menambah biaya. Sama halnya kondisi bandara utama di Indonesia seperti Bandara Soekarno-Hatta yang kumuh dan semrawut sehingga tidak menarik wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia.

Semuanya itu adalah terkait masalah korupsi yang terus menghantui setiap elemen pemerintahan, dari dari tingkat atas hingga bawah belum bebas dari virus KKN yang sangat menganggu. Jembatan Kutai yang baru berusia 10 tahun sudah ambruk, padahal Golden Gate di Amerika Serikat yang usianya 74 tahun masih kokoh. Jika diusut dengan benar dan dapat dibuktikan, pasti tak terlepas dari indikasi korupsi.

Kalangan masyarakat menengah dan bawah saat ini belum merasakan dampak dari pertumbuhan ekonomi. Masyarakat mengeluh harga-harga barang yang makin melonjak tetapi tidak diikuti kenaikan pendapatan. Pengusaha mengeluh serbuan produk impor, terutama dari China dan lesunya daya beli masyarakat. Resesi di Amerika Serikat dan Eropa juga menimbulkan kekhawatiran banyak pihak sehingga semua pihak mengerem belanja mereka. Kondisi ini berisikomemperdalam resesi dan bisa memicu krisis global yang lebih parah dari krisis 2008 seperti diindikasikan oleh Wapres Boediono waktu lalu.

Namun menjelang berakhirnya tahun 2011, Indonesia tampil sebagai juara umum SEA Games XXVI, pertumbuhan ekonomi di atas 6%, tertangkapnya Nazaruddin dan Nunun Nurbaetie, serta beberapa prestasi lainnya. Tidak ketinggalan pula kenaikan peringkat investment grade yang diberikan Fitch Ratings mampu menaikkan pamor negeri ini.

Walau demikian, masih ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Masalah klasik seperti proses perizinan yang lambat dan berbelit-belit, pembebasan lahan yang tak kunjung usai, distribusi logistik yang tak terurus, dan biaya produksi yang tinggi merupakan persoalan yang tak kunjung selesai dari tahun ke tahun. Pemerintah juga ditengarai sedang berubah dari rezim keterbukaan pasar global menjadi rezim proteksi. Kebijakan keterbukaan atau proteksi seharusnya dalam konteks pembangunan nasional. Contohnya, proteksi impor buah seharusnya diikuti dengan pembangunan holtikutura buah di dalam negeri.

Melihat banyaknya pekerjaan rumah (PR), pemerintah perlu bekerja lebih keras lagi membenahi banyak lini. Presiden dan para pembantunya tidak boleh lagi berpikir sempit untuk kepentingan partai atau golongannya tapi harus bekerja demi kepentingan rakyat yang telah memberikan amanat kepada mereka. Dengan sumber daya alam melimpah, kondisi politik yang relatif stabil, jumlah penduduk besar, dan lokasi geografis yang strategis seharusnya Indonesia mampu mencatatkan diri sebagai bangsa yang memiliki harkat dan martabat tinggi. Introspeksi diri lebih dalam patut jadi renungan kita semua.

Related posts