Sisa Anggaran vs Krisis Global

Oleh : A Eko Cahyono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Jakarta - Sisa anggaran 2011 sejatinya dapat digunakan untuk menghadapi krisis 2012, terutama pengeluaran yang terkait dengan peningkatan daya saing seperti pembangunan infrastruktur dan insentif fiskal. Masalahnya ini terkait dengan penyerapan anggaran yang baru mencapai 71% pada akhir November 2011 dan diperkirakan mencapai 90% pada akhir tahun ini.

Yang jelas, ancaman dampak krisis AS dan Eropa diperkirakan mulai terasa awal 2012 yaitu berkurangnya daya beli dan impor kawasan tersebut. Hal ini akan mendorong negara-negara mitra dagang Eropa mencari pasar baru bagi produk mereka. Indonesia harus bersiap menghadapi serbuan produk impor. Selanjutnya sektor-sektor yang paling parah terkena dampak ini bisa dipertimbangkan mendapat insentif fiskal agar dapat bersaing.

Intinya, pemerintah harus serius memperbaiki penyerapan anggaran tahun depan. Di tengah perlambatan permintaan ekspor dan daya beli domestik akibat rencana pembatasan BBM bersubsidi tahun depan, pengeluaran pemerintah diharapkan dapat menjadi pendorong perekonomian. Dalam APBN-P 2012 seharusnya dibicarakan peruntukan sisa anggaran tersebut.

Yang paling penting, pengunaan SAL 2011 untuk mengantisipasi gejolak ekonomi global butuh perangkat aturan yang jelas. Dengan peraturan itu, diharapkan penggunaan SAL tidak melalui proses panjang.

Berdasarkan Undang-Undang APBN, sisa anggaran lebih (SAL) dapat digunakan untuk antisipasi risiko fiskal, pembalikan arus modal, risiko operasional PT PLN dan PT Pertamina, ketahanan pangan, dan bantuan langsung tunai (BLT) jika terjadi krisis. Kondisi ini untuk mengantisipasi keadaan krisis. Karena masyarakat yang berada di garis kemiskinan sangat rentan jatuh menjadi masyarakat di bawah garis kemiskinan.

Besaran dana yang disiapkan untuk mengantisipasi krisis belum tercantum dalam APBN 2012. Oleh karena itu, besaran dananya akan diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) jika terjadi krisis. Sesuai Undang-Undang APBN, sebelum menggunakan dana tersebut, pemerintah meminta persetujuan DPR.

Pemerintah juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan No 188/PMK.08/2011 tentang Tata Cara Penggunaan SAL dalam rangka Stabilisasi Pasar Surat Berharga Negara Domestik yang berlaku mulai 23 November 2011

Padahal dampak dari krisis ekonomi global yang sudah beberapa kali terjadi. Selain menimbulkan dampak negatif. Ternyata di satu sisi juga menimbulkan dampak positif, yakni sebagai dinamisator bagi pertumbuhan ekonomi, contohnya ekonomi Indonesia kini terbukti kuat.

Krisis 2008 yang ditandai dengan bangkrutnya Lehman Brothers melahirkan krisis likuiditas. Bahkan krisis itu berpengaruh pada “bailout” korporasi keuangan, kenaikan deposit “guarantee”, injeksi likuiditas, penurunan suku bunga global maupun regulasi di pasar saham.

Sementara krisis 2011 yang ditandai dengan krisis utang Yunani dan melahirkan gejolak krisis keuangan negara-negara di Eropa. Krisis akan semakin akrab, sementara magnitude-nya (dampak guncangan) saja yang berbeda. Ini ibarat kapaitalisme tanpa krisis bagaikan agama tanpa neraka.

Related posts