Merayakan Nyepi di Tengah 'Kebisingan' Kota

Indonesia bukan hanya Islam, bukan cuma Katolik atau Protestan. Di antara 255 juta orang penduduknya, ada juga yang memeluk agama Konghucu, Buddha dan Hindu. Saat ini, sebanyak 3 persen umat Hindu di Indonesia sedang bersuka cita merayakan Tahun Baru Saka 1939 atau Hari Raya Nyepi, yang jatuh pada Selasa (28/3).

Pulau Dewata, tempat di mana penduduk yang memeluk agama Hindu menjadi mayoritas, berdiam diri di hari tersebut. Selama 24 jam, seluruh keriaan di sana sengaja dihentikan, demi sakralnya ritual Nyepi, yang dimulai pada Selasa (28/3) pukul 6 pagi sampai pukul 6 pagi pada Rabu (29/3).

Dari kelab malam sampai bandara berhenti beroperasi sehari semalam. Seluruh umat Hindu berada di dalam rumah untuk mengamalkan ajaran Catur Brata; tak menyalakan cahaya, tak beraktifitas di luar, berdoa, sambil berpuasa.

Berada di antara mayoritas saat hari raya memang hal yang sangat menyenangkan. Tapi, tidak sedikit juga umat Hindu yang merayakan Nyepi di tengah "kebisingan" alias di kota-kota lain di mana mereka menjadi kaum minoritas.

Agung (30) masih ingat betul saat dirinya merayakan Nyepi di rumah indekos. Ketika itu, ia masih kuliah di salah satu universitas di Bandung. Karena belum memiliki penghasilan tetap, selama dua tahun ia terpaksa melewatkan waktu "Lebaran" bersama keluarganya di Ubud, Bali.

"Kalau diingat-ingat sedih juga. Umat Hindu di kampus juga segelintir, oleh karena itu kami sepakat untuk merayakannya bersama-sama di kamar, yang juga tidak terlalu besar ukurannya," kata Agung sambil."Sudah pasti ada tahapan ritual yang terlewatkan. Tapi kami berusaha beribadah semampunya," lanjutnya.

Saat ini Agung sudah menjadi karyawan salah satu perusahaan telekomunikasi di Jakarta. Semenjak memiliki penghasilan sendiri, ia selalu menyempatkan diri mudik saat Nyepi. "Memang masih bisa merayakannya di Jakarta, tapi di Bali suasananya berbeda. Lebih khusyuk," ujar Agung.

Pengalaman Agung juga dirasakan oleh Gede Adi atau yang akrab disapa Odi. Pemuda berusia 23 tahun ini berasal dari Tabanan, Bali.

Bermukim di Bekasi membuat Nyepi dalam kebisingan bukan hal baru bagi Odi dan orang tuanya. Beberapa kali, Odi pernah pulang kampung. Namun, semenjak belum lagi bekerja, ia terpaksa mengurungkan niatnya.

Saat diwawancarai secara terpisah di hari yang sama, Odi sependapat dengan Agung, kalau suasana Nyepi di Bali tak akan tergantikan. Apalagi saat masih bersama sang ayah, sebelum meninggal dunia pada 2008 lalu.

Meski demikian, ia tetap bisa melakukan ritual-ritualnya di Jakarta. Pura Segara Cilincing dan Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi menjadi dua tempat ibadah yang biasa dikunjungi keluarganya untuk menjalani ritual Tahun Baru Saka. Jika Agung merayakan di indekos, Odi punya pengalaman yang tak kalah lucu.

"Sekitar dua tahun yang lalu kejadiannya. Di rumah kami ada jasa isi ulang air minum. Sewaktu Nyepi, pernah ada tetangga yang mengetuk sampai memanggil-manggil, padahal kami tak boleh keluar rumah. Sepertinya ia tidak tahu kalau kami keluarga Hindu," ujar Odi sambil tertawa.

Baik Agung dan Odi sadar diri kalau kaumnya merupakan minoritas di Jakarta. Tapi, tak pernah muncul perasaan tersinggung kalau ritualnya sedikit terganggu oleh kesibukan kota besar. Agung tidak mendapat jatah libur dari kantornya selain di Hari Nyepi, hari yang memang ditetapkan sebagai tanggal merah oleh pemerintah. Ia mengaku bisa mudik ke Bali karena mengambil jatah cutinya. Ditanya mengenai Tunjangan Hari Raya (THR), Agung juga mengatakan biasanya baru diberikan bersamaan dengan Idul Fitri.

"Hanya bisa maklum, namanya juga minoritas. Mungkin ke depannya sistem jatah mudik dan THR bagi karyawan pemeluk agama Hindu dan umat beragama lainnya bisa lebih baik," kata Agung. Ada atau tidaknya jatah libur dari kantor, yang terpenting bagi Agung dan Odi, saat ini pemerintah Indonesia sudah memberikan kebebasan yang sebegitu besar bagi umat Hindu untuk beribadah di mana saja dan kapan saja.

"Nyepi merupakan satu-satunya hari raya umat Hindu yang diberi tanggal merah. Hari untuk introspeksi diri menuju tahun yang baru. Hari itu juga sangat istimewa bagi saya, salah satunya karena saya bisa makan Ayam Betutu Kuah Pedas khas bikinan ibu hahaha…" ujar Odi sambil tertawa sebelum menutup pembicaraan.

Related posts