Moodys-S&P Tak Mau Lihat Subsid BBM

NERACA

Jakarta----Predikat Investment Grade yang diperoleh dari lembaga pemeringkat Fitch di Hong Kong belum diikuti dua lembaga pemeringkat lainnya, yakni S&P 500 dan Moodys. Kemungkinan besar dua lembaga ini masih melihat kebijakan terkait BBM subsidi masih menjadi kendala. "Mereka (S&P 500 dan Moodys) masih melihat subsidi BBM yang tinggi,” kata ekonom Center For Information and Development Studies (Cides) Umar Juoro, di Jakarta, Selasa (27/12)

Menurut Umar, dua lembaga ini menilai program pemberian subsidi BBM ini belum mengenai sasaran. “Mereka melihat ini tidak efisien, makanya pemerintah harus melihat lagi keefektifan program ini, karena tahun ini kuotanya juga jebol lagi," tambahnya

Dalam APBN-P 2011, pemerintah menganggarkan kuota BBM subsidi sebesar 40,49 juta kiloliter (kl) atau sekitar Rp100 triliun. Namun kenyataannya kuota ini jebol di akhir 2011. Sehingga pemerintah perlu menambah Rp30 triliun lagi untuk subsidi BBM ini.

"Subsidi BBM masih cukup tinggi, dan pemerintah melihat itu. Ke depan kouta subsidi BBM akan dibatasi, atau dengan rendahnya inflasi harusnya ini menjadi momentum pemerintah untuk penyesuaian harga BBM," terangnya

Lebih jauh kata Umar, pada 2012 pemerintah bisa melakukan salah satu di antara opsi ini, rentang angka inflasi masih bergerak stabil di angka 5%. "Tahun depan kalau ada kenaikan ataupun pembatasan BBM, inflasi masih akan terjaga di angka 5,1%-5,2%," paparnya

Meskipun begitu, lanjut Umar, dengan melihat kondisi makro Indonesia, rasio GDP terhadap utang, dan standar keamanan berinvestasi, Umar yakin bahwa peringkat investment grade dari dua lembaga pemeringkat tersebut hanya tinggal menunggu waktu.

"Kalau pemerintah semakin efisien, saya pikir triwulan pertama tahun depan mereka akan memberikan peringkat investment untuk Indonesia," imbuhnya

Sebelumnya, Analis valuta asing David Sumual juga berpendapat yang sama. Kebijakan penerapan pembatasan BBM bersubsidi yang maju mundur dinilai menjadi factor penghambat meraih predikat investment grade. Padahal sejak 2010 inflasi sudah rendah. "Kita agak telat dapat investment grade. Dari tahun lalu inflasi kan sudah rendah. Namun karena masih tertekan oleh tingginya BBM subsidi," ungkapnya

Menurut David, rating yang dikeluarkan oleh Fitch bukan merupakan suatu hal yang mengejutkan. Alasanya pasar sudah memprediksi jauh hari sebelumnya. "Karena tahun depan (2012) akan ada pembatasan, jadi Fitch melihat dari situ," terangnya

Lebih jauh kata David, imbas dari Fitch Rating tersebut adalah akan adanya sentimen positif dalam jangka panjang. Aliran modal yang masuk ke Indonesia diprediksi akan masuk lebih banyak lagi. "Investment grade ini investasi langsung, investor jangka panjang. Jadi untuk jangka panjang, terjamin volatilitas rupiah kecil," paparnya**cahyo

Related posts