Merugi Terus Merpati Diusulkan Ditutup

NERACA

Jakarta----Ada wacana kuat untuk menyetop bantuan Rp561 miliar kepada PT Merpati Nusantara Airlines (MNA). Alasanya sudah banyak bantuan diberikan kepada BUMN Aviasi tapi tak ada perubahan. “Daripada uang Rp 561 miliar tersebut akan terhambur ke udara begitu saja dan karyawan pada akhirnya akan kehilangan pekerjaan juga, lebih baik Merpati ditutup sekarang juga,” kata Komisaris PT MNA, Said Didu mengutip pernyataan Dahlan Iskan di Jakarta, 27/12.

Dahlan mengusulkan untuk segera menghentikan kegiatan usaha Merpati karena beban operasionalnya sangat tinggi. Apalagi beban itu belum ditambah beban-beban utangnya. Pendapatan Merpati tiap bulan hanya Rp 133 miliar, padahal pengeluarannya Rp 178 miliar. “Restrukturisasi perusahaan dengan cara yang modern sudah dicoba sejak dua tahun lalu. Tapi sayang belum ada hasil yang significant,” tambahnya.

Padahal, kata mantan Dirut PLN ini, pemerintah dan DPR sudah sepakat untuk membantu keuangan Merpati dengan suntikan dana Rp 561 miliar. Karena itu Merpati harus bisa memberi jaminan atas suntikan dana ini. “Tidak seperti suntikan uang ratusan miliar pada masa lalu. Dana ini diharapkan menjadi uang terakhir untuk Merpati. Karena sudah terlalu besar negara menyuntik Merpati,” paparnya.

Menurut Said yang masih menyitir pernyataan Dahlan, ketimbang dana itu untuk Merpati lebih baikm dibelikan kebun kelapa sawit. Pembelian lahan sawit dinilai lebih berprospek ketimbang kelangsungan hidup Merpati. “Tiap karyawan mendapat pesangon 2 hektare kebun sawit," ujarnya

Namun menanggapi usulan Dahlan, Komisaris Utama Merpati M. Said Didu meminta kesempatan lagi untuk menjawab tantangan Dahlan tersebut. Bahkan Said mengaku optimistis dana tersebut akan menjadi manfaat yang sangat baik bagi kelangsungan hidup maskapai MNA di masa mendatang. "Manajemen tetap yakin bisa menyelamatkan dan mengembangkan Merpati," ungkap Said lagi.

Yang jelas, kata Said, manajemen MNA masih percaya masih ada harapan di tubuh Merpati untuk terbang lebih tinggi. Bahkan akan semakin membaik di tahun-tahun mendatang. Perseroan juga siap melakukan berbagai perbaikan. "Langkahnya adalah penambahan armada, peningkatan promosi, peningkatan pendapatan non-pasasi (kargo, carter dan lain-lain) juga peningkatan efisiensi biaya," ujar Said.

Lebih jauh kata mantan Sesmen BUMN ini, manajemen masih percaya Merpati bisa kembali pulih. "Jadi kesimpulannya Merpati tetap jalan. Manejemen tetap yakin bisa menyelamatkan dan mengembangkan Merpati," ucapnya

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa sempat melontarkan pernyataan kalau ada perusahaan milik negara yang merugi, pemerintah harus berani menutupnya. Ini agar tidak sampai merugikan BUMN lain.

"Saya sudah membahas sering kali, kalau ada perusahaan yang merugi, kita harus berani menyatakan tutup. Jika kita menginjeksi modal, kasihan nanti perusahaan lain," ujarnya beberapa waktu lalu.

Menurut Hatta, selama ini terdapat 10 perusahaan BUMN yang mengalami kerugian. Di antaranya, PT Istaka Karya dan PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo). "Sepuluh yang rugi terus. Apakah dalam konteks BUMN, satu perusahaan yang alami persoalan keuangan harus datang ke pemerintah untuk sampai kepada penyertaan modal negara (PMN)," terangnya

Hatta mengharapkan, sebab setiap dana yang dikeluarkan BUMN harus memberikan dampak positif untuk masyarakat Indonesia. "Setiap rupiah yang dikeluarkan BUMN harus beri impact positif, charity, harus berikan pertumbuhan, dan kesejahteraan masyarakat," tuturnya. **cahyo

Related posts