Makin Berat Atas Masalah Kemiskinan

NERACA

Jakarta---Peran negara dalam mengatasi kemiskinan terus dipertanyakan. Masalanya anggaran negara yang mencapai triliunan rupiah belum mampu mengentaskan kemiskinan. “Pemerintah sudah banyak mengeluarkan anggaran untuk pengentasan kemiskinan dan berbagai program telah diluncurkan. Tapi masalah kemiskinan masih menjadi tantangan berat,” kata Presiden Direktur Dompet Dhuafa, Ismail A. Said, dalam pembukaan seminar Poverty Outlook dengan tema "Wajah Kemiskinan di Tanah Air pada 2012" di gedung Perpustakaan Nasional, Selasa, (27/11)

Berdasarkan catatan, jumlah penduduk miskin mencapai sekitar 31,2 juta atau 13,33% dari total penduduk indonesia. Bahkan Bank Dunia (World Bank) memperkirakan jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 100 juta jiwa. Sementara itu, 40 individu terkaya di negeri ini menguasai lebih dari Rp 700 triliun.

Lebih jauh Ismail mengaku sangat kecewa melihat masih adanya ketimpangan besar antara kaum kaya dan miskin. Potret kemiskinan sangat vulgar terlihat di mana-mana. Padahal pembangunan terus digencarkan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “Namun pertumbuhan dan pembangunan tersebut dinilai belum berdampak signifikan terhadap pengurangan kemiskinan di negara ini,” tambahnya.

Sementara itu, ekonom UGM, Gunawan Sumodiningrat mengatakan pemerintah tampak masih menutup sebelah mata persoalan kemiskinan. Padahal prospek kedepan, ekonomi Indonesia akan lebih membaik. “Saya melihat masih menutup mata,” terangnya,.

Menurut Guru Besar FE UGM ini, kesadaran manusia Indonesia terkait pengelolaan sumber daya alam masih rendah. “Kita ini kaya dengan alam tetapi tingkat manusia yang kurang menyadari. Ditambah lagi, peran pemerintah yang belum serius menyadarkan masyarakat untuk memanfaatkan kekayaan alam,”tegasnya

Sedangkan ekonom Indef, Ahmad Erani Yustika mengatakan, angka pengangguran saat ini mencapai 6,8%. Jelas ini menggambarkan berapa buruknya angka penganguran di Indonesia. “Persoalan kemiskinan saat ini sudah kompleks, artinya pembangunan ekonomi tidak membantu mengatasi kemiskinan,”paparnya

Namun diakui Guru Besar FE Unibraw ini, target Bappenas mematok tingkat kemiskinan 2012 sebesar 10,5-11,5% tidak terlalu muluk. Alasanya target itu lebih tinggi dari 2011 yakni sebesar 12,49% dari total penduduk. "Jumlah penduduk tahun ini mencapai 240 juta jiwa. Tahun depan kemungkinan naik sekitar 5 juta jiwa. Kami yakin target bisa tercapai karena kondisi ekonomi sangat memungkinkan," ucapnya.

Wakil Ketua Komisi XI DPR, Harry Azhar Aziz mengatakan garis kemiskinan dinilai telah salah kaprah karena mengabaikan orang yang berpenghasilan sedikit di atas garis kemiskinan tersebut. ”Kalau garis kemiskinannya Rp 230.000, lalu bagaimana orang yang hanya menghasilkan Rp 280.000 sebulan? Itu kan berarti dia hanya punya Rp 9.000 sehari. Padahal banyak pengemis yang menghasilkan Rp 10.000 sehari, masa mereka tidak termasuk orang miskin,” ujar Harry.

Atas dasar itu, Harry menegaskan, pihaknya akan mendorong pemerintah untuk memasukkan satu pasal khusus dalam Rancangan Undang-undang tentang APBN 2012 yang menekankan bahwa anggaran yang dialokasikan pada APBN 2012 adalah untuk mengatasi kemiskinan dengan target tertentu.

Pasal itu juga harus menegaskan bahwa target pengentasan rakyat dari kemiskinan tersebut didasarkan atas garis kemiskinan yang baru. ”Jadi, dasarnya tidak lagi garis kemiskinan Rp 230.000 itu. Ini angka yang tidak operasional. Jadi yang di bawah angka itu orang miskin, lalu yang 20 % lebih tinggi, yakni yang berpenghasilan Rp 280.000 dianggap hampir miskin. Orang ini sudah dianggap kaya,” pungkasnya. **sahlan/cahyo

Related posts