Sejarah Penyakit Hipertensi di Dunia

Neraca. Hipertensi adalah masalah umum pada pasien dengan diabetes; sekaligus masalah serius yang dapat meningkatkan peluang timbulnya penyulit dan kematian. Perkembangan ilmu tentang hipertensi telah bermula dari peradaban Mesir kuno yang mengembangkan hukum hidraulic dengan mana, 5000 tahun yang lalu, mereka melaksanakan irrigasi yang mengalirkan air sungai NIL, yang suci itu, ke ladang-ladang mereka sampai jauh ke pelosok.

Mereka telah mengubah padang pasir menjadi ladang-ladang yang subur. Berbagai papyri menganalogikan aliran sungai NIL dengan aliran darah yang berasal dari jantung dan mengalir memberi darah ke seluruh tubuh dan memberi kehidupan kepadanya. Denyut nadi dianalogikan dengan keadaan pasang sungai NIL yang dapat surut dan naik. Hal ini diuraikan oleh Masters, yang selanjutnya mengemukakan bahwa pengalaman orang Mesir dengan rusaknya tanah dan tanaman bila saluran air dari dari sungai NIL mengalami gangguan menjadi ibarat dari penyakit yang timbul akibat rusaknya saluran dalam tubuh.

Konsep ini tertuang didalam Papyrus Berlin, yang membawa para dokter Mesir kuno mendekati konsep sirkulasi tubuh manusia. Selanjutnya dikemukakan pula bahwa denyut nadi merupakan satu tanda yang amat penting karena mudah diraba dan diamati.

Pada tulisan-tulisan Cina kuno dituliskan ada sekurang-kurangnya 23 variasi denyut nadi radial. Banyak peneliti yang menekankan pentingnya kualitas denyut nadi. Denyut yang kuat dan lemah dikaitkan dengan penyakit tertentu.

Pada tahun 2000 SM Choven You Y menulis, bahwa “Penyakit ginjal ditemukan bila nadi kuat dan sulit ditekan kandas dengan perabaan superfisial.” Orang Yunani kuno juga menunjukkan perhatian besar kepada nadi. Herophilus, bapak ilmu anatomi pada 350 SM menilai adanya empat jenis denyut nadi yang ditentukan oleh besar, frekwensi, kuat dan iramanya yang sampai sekarang masih digunakan dalam klinik. Akan tetapi mereka belum sampai kepada pengertian mengenai hubungan antara daya pompa jantung dengan denyut nadi. Perkembangan pengetahuan ini selanjutnya gelap, sampai berabad abad kemudian.

Kemudian Akhbar Mohammad, 1874, juga di Inggeris, mengemukakan bahwa hipertensi dapat terjadi lepas dari penyakit ginjal. Padahal pada saat itu, alat pengukur tekanan darah yang akurat belum ditemukan. Istilah, “Hipertensi Essential,” kali pertama dipakai oleh Frank, di Jerman pada tahun 1911. Dengan istilah ini dimaksudkan suatu gambaran penyakit yang disertai tekanan darah yang meningkat sebagai tanda utama, namun tidak disertai kelainan ginjal dan jantung. Lalu Goldblatt, 1934, secara eksperimental memperlihatkan bahwa tekanan darah dapat meningkat bila arteria ginjal secara parsial dibendung dengan jepitan.

Butler, 1937, bahkan berhasil menyembuhkan penderita hipertensi dengan mengeluarkan satu ginjal yang ischaemis. Adalah Irvine Page, 1940, yang mengajukan keterkaitan berbagai faktor yang telah terbukti berhubungan dengan pengaturan tekanan darah di dalam satu skema yang octagonal, yang lazim dikenal dengan nama, Mosaic Theory.

Bagian sentral teori ini adalah perfusi jaringan yang menjadi resultan dari tekanan darah dan tahanan pembuluh. Kedelapan faktor yang dikaitkannya adalah faktor-faktor neural, kimiawi, reaksi terhadap stimulus, volume darah, kaliber pembuluh darah, viskositas darah, curah jantung (cardiac output), dan elastisitas pembuluh darah.

Menurut teori ini semua komponen harus berada dalam keseimbangan untuk mempertahankan tekanan darah itu pada tingkat-tingkat yang wajar dan menjamin perembesan darah yang ade kuat ke dalam jaringan. Bila satu komponen atau faktor berubah menjadi dominan, maka yang lain akan menyesuaikan diri.

Alat pemantau tekanan darah terus menerus selama 24 jam secara ambulant ABPM (Ambulatory Blood Pressure Monitoring =) yang non invasive. Alat seperti ini pertama sekali diperkenalkan oleh Hinman pada tahun 1964, akan tetapi baru pada tahun 1992 dipergunakan secara klinik setelah diketahui nilai normal tekanan darah dengan ABPM diterima pada 1991. Pada tahun 1997 ditunjukkan bahwa jumlah obat yang diperlukan dalam terapi hipertensi yang dipantau dengan ABPM lebih rendah dibanding pengukuran konvensional.

Related posts