Gaya Hidup Sehat Hindari Hipertensi

Neraca. Mengubah gaya hidup penting juga dilakukan bagi orang yang menderita darah tinggi atau hipertensi. Bagi orang bertekanan darah normal, langkah pengendalian hipertensi dilakukan dengan mengubah gaya hidup. Salah satunya adalah mengurangi asupan garam atau mengatur kandungan sodium/natrium yang berlebihan.

Berdasarkan hasil berbagai penelitian yang telah dilakukan, sampai saat ini dapat dikatakan bahwa menurunkan asupan natrium berarti menurunkan kejadian hipertensi; karena hipertensi adalah faktor resiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, dan penurunan fungsi ginjal.

Selain penurunan asupan natrium, modifikasi hidup sehat lainnya adalah meningkatkan kualitas asupan kalium, serat, magnesium yang dinamakan pola diet sehat yang dinamakan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension atau Pendekatan Diet Untuk Menghentikan Hipertensi). Aktivitas fisik dan modifikasi gaya hidup juga jangan dilupakan.

Menurut Riset Kesehatan Dasar Departemen Kesehatan Tahun 2007, 31,7 % dari penduduk Indonesia mengalami penyakit tekanan darah tinggi. Hipertensi (Darah Tinggi) adalah sebuah penyakit yang mematikan.

Angka kejadian hipertensi pada penderita diabetes meningkat dari 5% pada tahun ke-10 setelah diagnosis, menjadi 33% setelah 20 tahun dan 70% setelah 40 tahun. Bahkan menurut salah satu kelompok studi hipertensi pada penderita diabetes, 39% pasien diabetes yang baru terdiagnosis sudah mengalami hipertensi. Dalam keadaan diabetes, hipertensi merupakan salah satu tanda adanya sindrom metabolik.

Bahkan di Indoensia, kejadian darah tinggi di Indonesia mencapai 2-3 kali lipat. Karena komplikasi akibat darah tinggi akan lebih banyak terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia dibandingkan negara-negara maju.

Upaya untuk memperbaiki profil tekanan darah suatu negara, secara umum difokuskan pada pembatasan natrium. Natrium berperan untuk mempertahankan keseimbangan elektrolit serta fungsi otot dan sel normal. Natrium terdapat di makanan, garam meja, dan digunakan dalam proses pembuatan makanan (terutama sebagai penyedap rasa).

Diperkirakan 50% pasien hipertensi dan 25% individu dengan tekanan darah normal memiliki sensitivitas tinggi terhadap garam. Pada kondisi ini, saat asupan garam dikurangi, tekanan darah langsung menurun; dan akan meningkat kembali saat asupan garam ditingkatkan. Sensitivitas ini bergantung pada faktor genetik, ras, etnis, indeks massa tubuh, usia, kualitas diet secara umum, dan beberapa penyakit terkait (seperti diabetes dan gangguan fungsi ginjal).

Gejala awal stroke dapat dideteksi ketika pemeriksaan tekanan darah dilakukan. Umumnya, pasien akan mengeluh gangguan keseimbangan, hilang ingatan sesaat, susah bicara sesaat. Pengendalian penting untuk dilakukan, yang meliputi mencegah hipertensi dan mencegah timbulnya komplikasi. Pencegahan hipertensi biasanya diawali dengan memeriksakan tekanan darah secara rutin ke dokter.

Pemeriksaan bertujuan mengetahui tekanan darah, mencari penyebab hipertensi sekunder, kerusakan organ, serta menentukan faktor-faktor yang mempertinggi risiko stroke. Dan idealnya, pemerikasaan tekanan darah bagi orang berusia di atas 25 tahun dilakukan sekali setahun, sedangkan bagi orang berumur diatas 40 tahun, pemeriksaannya dilakukan dua kali dalam setahun.

Kegemukan, stres, gaya hidup tidak sehat seperti asupan garam yang tinggi, merokok, mengkonsumsi minuman berakohol dan kurang olahraga merupakan faktor risiko hipertensi yang sering ditemukan dari waktu ke waktu.

Risiko kematian makin mengecil bila diikuti dengan langkah-langkah perubahan gaya hidup lainnya. Diantaranya diet khusus hipertensi (DASH), mengontrol berat badan, olahraga, tidak mengkonsumsi minuman berakohol, membatasi mengkonsumsi makanan berlemak, tidak merokok, dan hidup teratur.

Mengubah gaya hidup penting juga dilakukan bagi orang yang menderita darah tinggi setelah diperiksa tekanan darahnya dan berkonsultasi ke dokter untuk memastikan penyebabnya. Olahraga bagi penderita hipertensi disesuaikan dengan tanda-tanda komplikasi untuk mencegah timbulnya komplikasi. Misalnya, penderita hipertensi dengan tanda-tanda stroke.

Penderita darah tinggi dengan tanda-tanda stroke sebaiknya lebih banyak olahraga jenis meditasi dan rileks. Bila cara-cara mengubah gaya hidup sebagi upaya non-obat yang dilakukan tersebut tidak bisa menurunkan tekanan darah, pengendalian hipertensi berikutnya adalah dengan obat, untuk menurunkan tekanan darah kembali ke normal dan mencegah komplikasi.

Related posts