Sulit Disembuhkan Namun Dapat Dikendalikan - Penyakit Hipertensi :

Neraca. Penyakit hipertensi, erat kaitannya dengan tekanan darah. Untuk lebih mengenal lebih jauh seputar hipertensi, ada baiknya kita telusuri seluk-beluk tekanan darah. Saat Anda melakukan pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis ke dokter, biasanya ada alat khusus yang digunakan oleh dokter untuk memeriksa tekanan darah. Alat untuk memeriksa tekanan darah disebut sphigmomanometer atau dikenal juga dengan tensimeter. Ada tensimeter digital dan ada juga tensimeter air raksa yang masih umum digunakan untuk pemeriksaan klinis.

Dokter akan melakukan pemeriksaan tekanan darah dengan menyuruh Anda duduk atau berbaring, karena itu posisi terbaik untuk mengukur tekanan darah. Lalu dokter biasanya akan mengikat kantung udara pada lengan kanan kecuali pada lengan tersebut terdapat cedera. Setelah itu, dilakukan pengukuran tekanan darah. Perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolik disebut tekanan denyut.

Tekanan darah yaitu, tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah dibuat dengan mengambil dua ukuran dan biasanya terdapat dua angka yang akan disebut oleh dokter. Misalnya dokter menyebut 140-90, maka artinya adalah 140/90 mmHg.

Angka pertama (140) menunjukkan, tekanan ke atas pembuluh arteri akibat denyutan jantung atau pada saat jantung berdenyut atau berdetak, dan disebut tekanan sistolik atau sering disebut tekanan atas. Angka kedua (90) menunjukkan, tekanan saat jantung beristirahat di antara pemompaan, dan disebut tekanan diastolik atau sering juga disebut tekanan bawah.

Orang menderita darah tinggi, berada pada tekanan darah sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan darah diastolic diatas 90 mmHg. Namun bagi tekanan darah normal adalah 120 mmHg dan 80 mmHg. Tekanan darah sistolik adalah tekanan tertinggi pada pembuluh arteri saat jantung kontraksi (memompa darah), sedangkan tekanan darah diastolic, adalah tekanan pembuluh darah arteri terendah saat jantung relaksasi.

Setelah mengetahui tekanan darah, pasti Anda ingin mengetahui apakah tekanan darah Anda termasuk rendah, normal atau tinggi. Harapan hidup orang yang bertekanan darah 150/90 mmHg menurun 15 tahun dibanding orang bertekanan darah normal, bahkan komplikasi akibat darah tinggi akan lebih banyak terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia dibandingkan negara-negara maju.

Tekanan darah tinggi yang belum diketahui penyebabnya dengan jelas disebut hipertensi primer. Biasanya ini berkaitan dengan keturunan dan usia. Darah tinggi yang sudah diketahui penyebabnya disebut hipertensi sekunder. Misalnya karena penyempitan pembuluh darah di ginjal atau kelainan hormon di anak ginjal.

Tekanan darah yang terus-menerus tinggi dalam waktu lama dan tidak segera diobati tentu berbahaya. Risiko terjadi komplikasi semakin besar. Target komplikasi dan kerusakan organ vital adalah jantung, otak, ginjal dan mata. Akibatnya? serangan jantung mendadak dapat menyebabkan kematian, sedangkan gagal ginjal beresiko harus cuci darah, bahkan serangan stroke akan mengganggu penglihatan, karena tekanan tinggi pada pembuluh-pembuluh darah di mata memunculkan bercak-bercak darah di retina yang mengakibatkan kebutaan.

Penggunaan obat antihipertensi itu biasanya berkaitan dengan tingginya tekanan darah serta adanya risiko penyakit jantung koroner dan kerusakan organ-organ lain. Ada beberapa jenis obat antihipertensi, yaitu diuretik, beta blocker,calcium channel blocker (CCBs), angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor danangiotensin II reseptor Blocker (ARB). Pilihan obat di tengah masyarakat memang bervariasi. Ada yang murah dan efektif.

Obat antihipertensi jenis diuretik tergolong murah. Sementara obat antihipertensi terbilang mahal, biasanya dibutuhkan oleh penderita darah tinggi yang disertai dengan risiko komplikasi dan kerusakan organ-orhan vital tubuh seperti jantung, ginjal, dan otak. Obat antihipertensi jenis ini memiliki efek ganda. Selain menurunkan tekanan darah tinggi kembali ke normal, obat tersebut juga memberikan efek perlindungan bagi jantung dan ginjal. Pasien dengan kondisi ekonomi rendah bisa mendapat obat antihipertensi itu, karena ada obat antihipertensi yang generik dan juga punya efek ganda.

Pemilihan obat-obatan pada pasien hipertensi dengan diabetes harus tepat, karena penggunaan golongan antihipertensi tertentu akan memperparah kondisi diabetes yang telah diderita. Sebagai contoh, daya respons insulin akan turun dengan pemberian diuretik dan perburukan penyakit pembuluh darah tepi oleh beta bloker. Dislipidemia juga dapat muncul dan mempersulit kondisi kesehatan yang sudah ada, dengan pemberian beta bloker tertentu.

ACE inhibitors merupakan pilihan obat pada pasien hipertensi dengan diabetes karena telah terbukti dapat melindungi organ dari penyakit jantung dan pembuluh darah serta melindungi ginjal. Namun obat ini memiliki efek samping batuk, sehingga terkadang membuat tidak nyaman bagi yang mengkonsumsinya. Oleh karena itu jika pasien tidak toleran terhadap ACE inhibitor, pasien tersebut dapat diberikan obat alternatif yaitu ARB (contoh: irbesartan). ARB dilaporkan lebih unggul dari ACE inhibitors karena dapat memperlambat kecepatan perburukan fungsi ginjal pada keadaan mikroalbuminuria. Selain itu ARB lebih dapat ditoleransi oleh pasien karena efek samping (termasuk batuk) lebih ringan.

Diuretik dapat digunakan sebagai terapi awalan atau tambahan, jika terapi obat tunggal tidak berhasil mengendalikan tekanan darah. Dosis yang memungkinkan adalah dosis rendah, di mana efek samping metabolik akan lebih minimal, karena dilaporkan bahwa penggunaan diuretik dengan dosis tinggi akan memperburuk profil metabolik pasien. Tetapi efek samping ini dilaporkan berkurang saat diuretik dikombinasikan dengan ACE inhibitor ataupun ARB.

Related posts