Biaya Transportasi Ancam Inflasi - Jelang akhir 2011

NERACA

Jakarta---Biaya transportasi menjadi akhir akhir sudah bisa ditebak. Apalagi Natal dan Tahun Baru menjadi salah satu pemicu inflasi. Yang jelas naiknya harga tiket transportasi jelas menghantui inflasi Desember 2011 ini. "Kemungkinan besar naik, biaya transportasi kan tidak ada diskon lagi, ini yang biasanya menjadi penyebab inflasi bulan Desember ini," kata Deputi Bidang Statistik, Jasa, dan Distribusi BPS, Djamal kepada wartawan di Jakarta,25/12.

Menurut Djamal, kenaikan harga biaya transportasi hampir terjadi pada semua sarana transportasi. Alasanya tariff tiket, bus, kereta dan pesawat menggunakan batas atas dalam penjualan tiketnya menjelang libur panjang akhir tahun. “Biaya transportasi ini biasanya menggunakan batas atas, termasuk pesawat,” tambahnya

Namun Djamal tetap optimis terhadap tekanan inflasi hingga akhir 2011 tidak terlalu tinggi dibandingkan 2010 lalu. Demikian pula dengan tekanan pada Desember 2011. "Desember 2010 tekanan inflasi sekitar 0,92%, sementara hingga akhir tahun 6,96% pada tahun 2010,” tandasnya

Lebih jauh kata Djamal, dalam menyediakan pangan pemerintah sudah cukup bagus. Karena itu inflasi hingga akhir 2011 kemungkinan akan tetap rendah. “Inflasi 2011 dari Januari sampai November baru 3,2%, itu 11 bulan, kalau Desember ini 1% saja. masih 4,2%-4,3%," tuturnya

Djamal mengungkapkan selama Desember 2011 ini, terdapat gejala kenaikan harga makanan pokok, seperti beras yang kenaikan harganya hampir 2% per minggu ketiga Desember. "Desember minggu ketiga, harga beras sudah mengalami kenaikan dibandingkan November, naik hampir 2%, 1,84% untuk beras yang murah, 1,6% untuk beras umum yang banyak dimakan masyarakat, daging sapi naik 1,5%, daging ayam 3% , cabai merah 9%, cabai rawit 14%," paparnya

Djamal menjelaskan memang terdapat tren kenaikan harga beras pada bulan Desember. Hal tersebut disebabkan pada terakhir ini, biasanya Indonesia mengalami musim paceklik. "Panen itu 60% di Februari-Maret, kemudian sisanya di sekitar Mei-Agustus. Kalau bulan Desember ini memang stok di pasar memang berkurang, tapi bukan stok Bulog ya, stok di pasar," tegasnya.

Sebelumnya, Direktur Riset Ekonomi Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo memprediksi laju inflasi di 2012 akan berkisar 4,5% plus minus 1% di tengah melambatnya perekonomian global. Inflasi bisa naik apabila harga BBM subsidi dan tarif dasar listrik (TDL) naik tahun depan. "Tekanan inflasi 2012 msh terkendali dan berada di kisaran 4,5% plus minus 1%. Dampak kinerja ekonomi global menyebabkan pertumbuhan ekonomi mereda sehingga tekanan inflasi mereda seiring dengan penurunan harga komoditas," ujarnya.

Harga BBM subsidi, listrik, dan elpiji bisa saja naik karena harganya saat ini jauh di bawah tingkat keekonomiannya. Jika ini terjadi, maka komoditas strategis lainnya seperti pangan bisa ikut terkerek harganya.

Dikatakan Perry, harga pangan tahun depan juga bisa naik karena faktor dalam negeri maupun luar negeri. "Diharapkan kebijakan koordinasi pengendalian harga pangan menjadi penting untuk ditingkatkan," ujarnya.

Untuk itu, Perry menyatakan pemerintah dan BI tetap melakukan penguatan koordinasi kebijakan antar lembaga. Begitu juga koordinasi kebijakan antara Tim Pengendali Inflasi baik pusat maupun daerah tetap dilakukan, seperti adanya kelompok kerja nasional pada Juli 2011 antara BI, Kementerian Koordinator Perekonomian, dan Kemendagri. "Kalau dari BI ini terkait kebijakan moneter, suku bunga, dan nilai tukar. Tidak hanya itu juga dari sisi pasokan, distribusi," pungkasnya. **cahyo

Related posts