Sahid Jaya Terhindar Bangkrut, Kuasi Reorganisasi Disetujui - Targetkan Pendapatan 30%

NERACA

Jakarta - Hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID), pengelola Hotel Grand Sahid Jaya, telah menyetujui pelaksanaan kuasi reorganisasi perseroan.

Direktur Utama SHID, Hariyadi Sukamdani mengatakan, pasca kuasi reorganisasi nantinya perseroan akan menghapus defisit sebesar Rp 257,84 miliar di semester I-2011 lalu melalui penilaian kembali seluruh aset dan liabilitasnya, “Defisit ini muncul dari saldo kerugian akibat selisih kurs mata uang asing saat krisis ekonomi 1997-1998 silam. Saat itu, kewajiban perseroan dalam bentuk dollar Amerika Serikat (AS) dan mata uang negara lainnya mengalami apresiasi atau kenaikan yang luar biasa terhadap nilai tukar rupiah, “katanya di Jakarta, Kamis (22/12).

Oleh karena itu, dirinya berharap aksi korporasi kuasi reorganisasi bisa dilakukan pada tepat waktu dan dapat memulai awal yang baik dengan kondisi keuangan tanpa dibebani defisit. Aksi korporasi tersebut, lanjut dia, meningkatkan total nilai aset perseroan dari Rp 636,48 miliar menjadi Rp 1,2 triliun.

Sehingga hal ini dapat meningkatkan daya tarik dan minat pemodal terhadap saham perseroan. Selain itu, SHID juga menargetkan perolehan pendapatan tahun depan meningkat 15% menjadi Rp 165,6 miliar dibandingkan dengan tahun ini yang diproyesikan mencapai Rp 144 miliar.

Hariyadi menambahkan, perseroan bahkan telah menargetkan kenaikan pendapatan sebesar 25%-30% dalam dua sampai tiga tahun mendatang.“Tahun depan pertumbuhannya tidak terlalu tinggi karena kami tengah merenovasi 220 kamar dari total 670 kamar yang ada,” tuturnya.

Untuk itu, dirinya mengatakan perseroan tengah menjajaki pinjaman perbankan sebesar Rp 60 miliar untuk belanja modal (capital expenditure/capex) di 2012. Sayang, dia belum bisa mengungkapkan calon kreditur tersebut.

Namun yang pasti, sambung pengusaha yang juga wakil ketua umum bidang fiskal dan kebijakan publik Kadin ini, pinjaman baru tersebut tidak didapatkan dari PT Bank Mega Tbk (MEGA) selaku kreditur perseroan saat ini dengan sisa pinjaman sebesar Rp 111 miliar.

Hingga akhir September 2011, perseroan telah membukukan pendapatan sebesar Rp 98 miliar, atau telah mencapai 68% dari total pendapatan yang ditargetkan. Sebagai informasi, perseroan telah melakukan kesekapatan penyelesaian utang di mana sebagian utang-utang tersebut dikonversi menjadi penyertaan saham.

Sejak 2008, perseroan telah membukukan laba bersih yang terakumulasi hingga 30 Juni 2011 sebesar Rp 46,02 miliar, tetapi defisit perseroan cukup besar senilai Rp 257,84 miliar per 30 Juni 2011. Dengan kuasi reorganisasi ini diharapkan perseroan dapat memulai awal baik dengan neraca perdagangan menunjukkan nilai sekarang dan tanpa dibebani defisit, memperbaiki struktur ekuitas perseroan dengan mengeliminasi defisit dan menilai kembali seluruh aset dan kewajiban perseroan sebagai nilai wajar.

Kemudian, memperbaiki kondisi keuangan dengan tidak dicatatnya lagi defisit pada ekuitas perseroan sehingga dapat membagi dividen, serta memperbaiki kondisi keuangan SHID dapat meningkatkan minat dan daya tarik investor untuk memiliki saham perseroan.

Pada penutupan perdagangan Kamis (22/12) kemarin, saham SHID ditutup di harga Rp 390 per lembar, atau naik 50 poin di harga pembukaan yang sebesar Rp 340 per lembar saham. Volume perdagangan sebesar 363 ribu dengan kapitalisasi pasar senilai Rp 132,8 juta.

Selain SHID, terdapat lima emiten sektor jasa lain yang mengajukan permohonan izin kuasi reorganisasi pada tahun ini yakni PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Asia Natural Resources Tbk (ASIA), PT Duta Anggada Realty Tbk (DART), PT Eterindo Wahanatama Tbk (ETWA), dan PT Prima Alloy Steel Universal Tbk (PRAS). [ardi]

Related posts