Pembatasan BBM Diyakini Takkan Ganggu Inflasi

NERACA

Jakarta----Kebijakan pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang mulai berlaku April 2012 dinilai takkan mempengaruhi tekanan inflasi. Alasanya pembatasan itu dikontrol melalui pengendalian yang cukup ketat. Karena itu tak perlu dikhawatirkan.

“Kekhawatiran inflasi tidak terlalu signifikan, itu kan kecil sekali, dan kita tahu inflasi kita rendah, tahun depan juga rendah,” kata Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati kepada wartawan di Jakarta,22/12

Bahkan Anny yakin kebijakan pembatasan BBM bersubsidi itu takkan mengganggu daya beli masyarakat. Karena itulah, maka Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mendorong komitmen Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menjalankan pengendalian subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada kuartal I tahun depan. “Karena subsidi BBM ini kan implikasinya ke fiskal cukup besar,” ungkapnya

Lebih jauh kata Anny, komitmen menjalankan rencana kebijakan pembatasan BBM akan berdampak cukup signifikan terhadap postur anggaran negara yang selama ini banyak tersedot untuk memenuhi konsumsi subsidi minyak dalam negeri.

Menurut Anny, kebijakan ini diharapkan bisa terealisasi. Sehingga konsumsi BBM bersubsidi bisa ditahan sesuai kuota yang ditetapkan dalam APBN 2012 sebesar 40 juta kiloliter (kl), maka ruang akselerasi fiskal akan terbuka. Pemerintah akan memiliki ruang yang cukup untuk mendistribusikan anggaran bagi pendanaan inflastruktur.

Dikatakan Anny, Kementerian Keuangan hanya berkepentingan untuk menjaga alokasi anggaran tidak melebihi target seperti dua tahun terakhir yang selalu melebihi target. “Untuk 2012, Kementerian ESDM menyampaikan pasti (dijalankan),” imbuhnya

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, pemerintah bertekad menjalankan kebijakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi dengan larangan kendaraan pribadi menggunakan premium. Pembatasan ini dilakukan mengingat pertumbuhan ekonomi makin membutuhkan energi yang besar. “Transportasi meningkat maka dipastikan kalau tidak ada pembatasan maka kuota yang 40 juta kiloliter (kl) akan terlampaui,” kata Hatta.

Sebelumnya, Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung mengingatkan pemerintah agar dalam penerapan pembatasan BBM bersubsidi ini dilaksanakan dengan penuh komitmen dan ketegasan sikap. Setidaknya, dalam melakukan penghematan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi 2012, pemerintah berencana menggunakan teknologi Radio Frequency Identification (RFID).

Pemilik CT Corp ini mengaku ide pemerintah melakukan pembatasan BBM bersubsidi dengan cara apapun berpotensi menimbulkan chaos atau rusuh. Menurutnya, pembatasan BBM bersubsidi bukanlah solusi. Menurutnya, solusi menghemat anggaran adalah dengan mengalihkan pengguna BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG). "Mencari solusi menurunkan subsidi. Kalau dibatasi jadi chaos, tetapi kalau anda men-set up gas, membutuhkan gas sekian jadi hemat," ujarnya

Dengan adanya pengalihan ini, akan menumbuhkan penghematan anggaran untuk subsidi. Pria yang akrab disapa CT ini mengatakan, dengan di-convert-nya penggunaan BBM bersubsidi ke gas akan menghemat kedua belah pihak, artinya pengguna BBM juga akan menghemat dananya jika menggunakan gas. "Pada saatnya di-convert saja, kalau nanti tidak ada gas, ya beli pertamax. Dari Jawa dan Bali terus ke Sumatera, dan terus ke seluruh Indonesia. Dan gas ini dioptimalkan, dan subsidi berkurang. Orang yang pakai gas lebih murah dari penggunaan BBM," pungkasnya. **cahyo

Related posts