Krisis Mendinamisator Pertumbuhan Ekonomi

NERACA

Medan-----Krisis ekonomi global yang sudah beberapa kali terjadi. Selain menimbulkan dampak negative. Ternyata di satu sisi juga menimbulkan dampak positif, yakni sebagai dinamisator bagi pertumbuhan ekonomi. "Ekonomi dunia sedang mengalami krisis menuju krisis. Krisis di sisi positif merupakan dinamisator bagi pertumbuhan ekonomi," kata ekonom FEUI, Faisal Basri kepada wartawan di Jakarta,22/12

Lebih jauh Faisal mencontohkan Indonesia misalnya, dengan kekuatan yang ada sudah terbukti kuat menghadapi kriris, meski diakui krisis itu berdampak pada penekanan harga berbagai komoditas ekspor. "Melihat kondisi 2011 yang masih cukup bagus, ekonomi Indonesia di 2012 diprediksi masih tetap baik. Tetapi emmang harus tetap hati-hati," tambahnya

Faisal menjelaskan, krisis 2008 yang ditandai dengan bangkrutnya Lehman Brothers melahirkan krisis likuiditas. Bahkan krisis itu berpengaruh pada "bailout" korporasi keuangan, penaikan deposit "guarantee", injeksi likuiditas, penurunan suku bunga global maupun regulasi di pasar saham.

Menurut Faisal, sementara krisis 2011 yang ditandai dengan krisis utang Yunani dan melahirkan gejolak krisis keuangan negara-negara di Eropa. "Krisis akan semakin akrab, sementara `magnitude`nya (dampak guncangan) saja yang berbeda. Kapaitalisme tanpa krisis bagaikan agama tanpa neraka," terangnya

Dikatakan Faisal, pada krisis global 2008-2009, pemerintah Indonesia melakukan berbagai upaya agar ekspor Indonesia tdak semakin anjlok. Sementara di bidang moneter dan perbankan, terjadi penurunan BI rate, upaya menaikkan deposit guarantee LPS menjadi Rp2 miliar. "Krisis di AS yang merupakan masalah struktural. Dampaknya pengangguran. Hal ini membuat harapan ekonomi Indonesia masih akan bagus di 2012," katanya.

Sementara itu, Kepala Biro Riset Ekonomi Bank Indonesia, Iskandar Simorangkir menyebutkan, pada 2012, investadi diperkirakan masih akan tetap tumbuh tinggi sejalan dengan rencana peningkatan pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur dan perbaikan persepsi iklim investasi Indonesia. "Ekspor sendiri diperkirakan akan tetap tumbuh walau melambat seiring perlambatan global dan penurunan harga komoditas ekspor," ungkapnya

Iskandar menambahkan perlambatan pertumbuhan ekspor sendiri diperkirakan tidak terlalu signifikan mengingat negara mitra dagang Indonesia pertumbuhan ekonominya di 2012 juga masih bertumbuh. “Saya kira perlambatan ekspor tidak terlalu significant,” tegasnya.

Ditempat terpisah, anggota Badan Anggaran DPR Ecky Awal Mucharam menilai di tengah perlambatan permintaan ekspor dan daya beli domestik akibat rencana pembatasan BBM bersubsidi tahun depan, maka pengeluaran pemerintah diharapkan dapat menjadi pendorong perekonomian

Menurut Ecky, sisa anggaran pada 2011 dapat digunakan untuk menghadapi krisis tahun depan. Penyerapan anggaran baru mencapai 71 persen pada akhir November 2011 dan diperkirakan mencapai 90% pada akhir Desember 2011. "Sisa anggaran dapat digunakan untuk menghadapi krisis pada 2012 terutama pengeluaran yang terkait dengan peningkatan daya saing seperti pembangunan infrastruktur dan insentif fiskal," kata Ecky.

Dampak dari krisis Eropa diperkirakan akan mulai terasa tahun depan yaitu berkurangnya daya beli dan impor kawasan tersebut. Hal ini mendorong negara mitra dagang Eropa mencari pasar baru. Karena itu Indonesia harus bersiap menghadapi serbuan produk impor.

Menurut Ecky, sektor-sektor yang paling parah terkena dampak ini bisa dipertimbangkan mendapat insentif fiskal agar dapat bersaing. "Nanti di APBN-P 2012 akan dibicarakan peruntukan sisa anggaran tersebut,”pungkasnya. **cahyo

Related posts