Tradisi Mereguk Keuntungan

Oleh : Noor Yanto (Wartawan HE Neraca)

Setiap akhir bulan Desember, kesibukan demi kesibukan dilakukan oleh hampir setiap orang di dunia. Semua ini dalam rangka menyambut pergantian tahun. Apa yang baru dari tahun baru? Secara hakiki tidak ada yang baru sebenarnya. Yang baru adalah cara kita memaknainya. Yang baru adalah cara kita menjalaninya.

Salah satu nilai yang perlu kita telaah kembali pada awal tahun ini adalah soal kesetiaan. Ketika mendengar kata ini, yang biasanya muncul adalah kesetiaan pada kekasih. Namun soalnya bukan hanya itu. Perlu kita telaah dan perdalam lebih jauh adalah kesetiaan pada panggilan hidup kita. Kesetiaan selalu melibatkan kejujuran. Dan kejujuran adalah momen, ketika kata dan tindakan berjalan searah. Bisa juga dikatakan bahwa kejujuran adalah jantung hati dari kesetiaan. Tanpa kejujuran tidak akan pernah ada kesetiaan.

Di Indonesia semakin lama kejujuran semakin sulit ditemukan. Politisi yang berbohong. Pengusaha yang menipu konsumen. Suami yang menipu istrinya, atau sebaliknya. Perempuan yang menipu kekasihnya, dan sebagainya.

Dunia perhotelan pun dilandasi kesibukan menyambut yang ’baru’ tersebut. Liburan akhir tahun di dalam negeri tak kalah mengasyikan. Apalagi banyak tempat di Tanah Air yang menawarkan lokasi beragam dari mulai wisata pantai hingga pegunungan dengan kenyamanan yang lengkap. Sehingga menjadi peluang mengeruk keuntungan bagi kalangan bisnis perhotelan.

Meskipun diprediksi kunjungan dari wisawatan asing dari benua Eropa akan berkurang, namun hal ini tidak menyurutkan pihak pengusaha penginapan di Indonesia. Mereka masih yakin akan kenaikan tingkat hunian menjelang akhir tahun ini. Bahkan, jika di perhatikan jumlah hotel di tanah air sendiri semakin bertambah.

Peningkatan ini perlu diimbangi dengan peningkatan penyediaan kamar hotel maupun akomodasi lainnya sehingga tidak menimbulkan kesenjangan antara permintaan dan penawaran atas kamar/akomodasi tersebut. Untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya di bidang akomodasi kepada wisatawan, kiranya perlu direncanakan dengan baik peningkatan atau penambahan jumlah kamar hotel dan akomodasi lainnya, peningkatan mutu dan jumlah tenaga kerja pada akomodasi, khususnya tenaga-tenaga profesional di bidang hotel dan kepariwisataan sesuai dengan peningkatan arus wisatawan yang datang dan menginap di akomodasi.

Musim liburan memang erat hubungannya dengan bisnis pariwisata, terutama perhotelan. Tingginya tingkat okupansi hotel di berbagai daerah menjelang tutup tahun semoga bisa menjadi tolak ukur yang baik untuk 2011. Sekaligus membantu mendorong perekonomian daerah.

Related posts