Menanti Keuntungan Yang Akan Datang - Perhotelan Indonesia :

Natal dan Tahun Baru, dua even yang selalu di tunggu oleh banyak orang di dunia. Berbagai persiapan dilakukan untuk menyambutnya. Terlebih lagi, biasanya bersamaan waktunya dengan musim liburan sekolah. Tidak heran berbagai daerah kunjungan wisata selalu dipenuhi oleh para wisatawan, terlebih lagi menyambut kedua even tersebut.

Perayaan Natal dan Tahun Baru tinggal menghitung hari. Bagi sebagian orang, momen istimewa itu merupakan waktu tepat untuk dinikmati bersama anggota keluarga lain. Banyak orang tua kemudian mengambil cuti, mengikuti libur anak-anaknya, yang biasanya datang mendekati Natal dan Tahun Baru. Di momen bahagia itu, banyak orang memilih berjalan-jalan ke luar kota ( atau luar negeri ) untuk merayakan momen istimewa setahun sekali.

Alhasil, banyak orang Jakarta yang terbang ke Bali, Lombok, Yogyakarta, atau berwisata ke kota terdekat, Bandung. Imbasnya, tingkat hunian hotel dan penginapan jenis lain di kota-kota itu penuh. Menurut Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bandung, rata-rata pada malam pergantian tahun, 85 persen dari total jumlah kamar hotel Kota Kembang terisi.

Dan tahun ini, perkiraan mereka, sekitar 11.000 unit kamar hotel, dari total 12.962 kamar yang tersedia, akan dipesan jauh jauh hari. Meningkatnya permintaan kamar, disebabkan padatnya kegiatan Meeting, Incentives, Convention dan Entertainment (MICE) ditambah perayaan Natal dan Tahun Baru yang berdekatan.

Berbagai pihak penyedia jasapun, berduyun-duyun mempersiapkan diri menerima kedatangan para tamu spesial tersebut. Terutama sekali di kalangan perhotelan, atau jasa penginapan di wilayah-wilayah tujuan wisata. Berbagai penawaran menarik ditawarkan kepada para calon tamu, dan biasanya disesuaikan kepada kedua even tersebut, terutama sekali even menyambut tahun baru.

Target utama pengunjung adalah wisawatan mancanegara dari benua Eropa. Namun, jika dilihat terjadi krisis yang terjadi di banyak negara pada benua tersebut ada kekhawatiran akan ada penurunan jumlah kedatangan.

Hingga saat ini, Bali selalu menjadi tujuan favorit saat libur Natal dan Tahun Baru. Buktinya hampir semua hotel yang ada telah habis dipesan wisatawan. Kondisi itu sudah mulai terlihat di Kuta, lokasi pariwisata yang selalu menjadi favorit.“Permintaan akhir tahun cukup baik. Sampai sekarang sudah 70% terjual,” kata Presiden Direktur Intiwhiz Moedjianto Soesilo Tjahjono di sela membuka operasional Hotel Grand Whiz Kuta kemarin. Meski baru saja dibuka, hotel bintang tiga yang memiliki 135 kamar ini sudah banyak dipesan wisatawan yang ingin menikmati liburan akhir tahun.“Harapan semua kamar akan terisi karena permintaan masih tinggi,”ujarnya.

Kondisi serupa terlihat di Tune Hotels Double Six, Legian, Kuta.Sekitar 95% dari kapasitas 169 kamar sudah terjual untuk liburan Natal dan Tahun Baru. “Kamar yang sudah terisi itu sebagian dipesan sejak Februari tahun ini dengan sistem pembayaran penuh di muka,” kata Manajer Tune Hotels Double Six Deki Irwanto. Tamu yang memesan, kata Deki, didominasi wisatawan asing dari negara-negara di Asia, seperti Malaysia, serta Australia dan sebagian lagi oleh wisatawan domestik dari sejumlah daerah seperti Jakarta, Surabaya, danYogyakarta.

Sekretaris Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Bali Perry Markus mengatakan, tingkat hunian hotel saat ini sudah mencapai 70%, bahkan sebagian hotel ada yang sudah menolak reservasi alias full booked. “Kami perkirakan 20 Desember ke atas, semua hotel sudah terisi penuh,” kata dia. Dari data reservasi yang ada, wisatawan domestik lebih mendominasi rencana liburan, seperti dari Jakarta, Yogyakarta, Jateng, dan Jatim.

Mereka rata-rata telah memesan hotel jauh-jauh hari dan bahkan tidak sedikit yang telah menyerahkan uang deposit ke pihak hotel, baik kelas melati maupun hotel berbintang. Kondisi itu, kata Perry, tidak terlepas dari pertumbuhan pariwisata Bali yang terus meningkat.

Menjelang tahun baru 2012, tingkat hunian hotel di perkampungan seniman Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali mulai naik, termasuk bertambahnya pemesanan, namun kondisi peningkatannya tidak seperti pada tahun 2010.

"Hunian rata-rata sampai pertengahan Desember masih 35 persen," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Gianyar, Dewa Arimbawa, Minggu (11/12).

Hal itu terlihat ada peningkatan pemesanan kamar menjelang tahun baru, namun pemesanan itu kondisinya tidak seperti menjelang hari raya Idul Fitri lalu. Penyebab menurunnya pesanan kamar dibanding tahun baru sebelumnya akibat krisis global yang melanda Amerika dan Eropa.

"Krisis ini selain mempengaruhi pemesanan kamar, dipastikan juga mempengaruhi tingkat hunian hotel," jelasnya. Wisatawan asing yang berkunjung ke Ubud pada musim liburan tahun baru kebanyakan berasal dari Eropa, Asia, Australia dan Amerika.

"Untuk paket hotel sendiri biasanya menyediakan jamuan makan malam dan sejumlah pertunjukan seni sebagai paket tahun baru," katanya. Sementara itu, selain tingkat hunian hotel dan restauran, sejumlah objek wisata seperti Pura Tirta Empul, Monkey Forest, Pasar Seni Sukawati, Goa Gajah dan objek wisata lainnya diperkirakan akan menjadi sasaran kunjungan wisatawan pada akhir tahun dan menyambut tahun baru 2012. Pasar Seni Sukawati, sampai saat ini sudah terlihat ada peningkatan kunjungan, kendatipun kunjungan itu tidak begitu tinggi.

"Ya mulai terlihat kenaikan kunjungan itu, dan kemungkinan membludak H-3 menjelang Tahun Baru 2012," kata Kepala Pasar Seni Sukawati, I Nengah Namaartawa, Minggu.

Persiapan Dari Berbagai Daerah

Sekretaris Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Dumai, Provinsi Riau, Darwin Siahaan, mengatakan, tingkat hunian hotel menjelang malam pergantian tahun 2011 ke 2012 diprediksi mengalami penurunan sekitar 40 persen.

Darwin di Dumai, Rabu mengatakan, penurunan itu disebabkan, selain tidak adanya objek wisata andalan di wilayah itu, juga karena Dumai merupakan daerah kunjungan untuk usaha bisnis.

"Sama seperti tahun sebelumnya, tingkat okupansi kamar hotel menurun sekitar 40 persen. Karena Dumai merupakan daerah kunjungan tamu untuk melakukan usaha dan bisnis," katanya.

Ia menjelaskan, dibandingkan hari biasa, tingkat hunian di 27 hotel dan penginapan yang tergabung di wadah PHRI bisa mencapai 60 persen dari kamar hunian. Kebanyakan dari tamu hunian kamar ini adalah mereka yang melakukan usaha bisnis di kota Dumai dengan berdirinya puluhan perusahaan industri.

Kecenderungan penurunan tingkat hunian hotel ini, lanjutnya, dikarenakan Dumai bukan kota tujuan wisata yang kerap menjadi incaran para tamu pengunjung hotel. Tidak seperti kota lainnya yang memiliki wisata andalan, seperti Padang dan Bukit Tinggi.

Ia berharap, kedepannya pemerintah setempat mendukung terciptanya banyak objek wisata andalan yang bisa menarik minat dan antusias wisatawan dari luar daerah untuk datang singgah di kota pelabuhan ini.

Kendati demikian, dalam rangka menyambut malam pergantian tahun, PHRI menerapkan kebijakan ke seluruh perhotelan yang ada agar melakukan promosi dan taris diskon kamar guna meningkatkan hunian hotel.

"PHRI sudah mengeluarkan kebijakan melonggarkan manajemen masing-masing hotel agar mempersiapkan diri dengan membuat tarif harga diskon atau promosi. Karena bagaimanapun momen pergantian tahun baru saat yang tepat untuk ajang meningkatkan daya tarik hotel," terangnya.

Terakhir diharapkannya, pihak perhotelan dan restoran agar menciptakan suasana aman dan kondusif saat menggelar selebrasi pergantian malam tahun baru. Serta membenahi fasilitas dan tingkat kenyamanan kamar hunian untuk tamu pengunjung.

Sementara itu, menjelang datangnya liburan Natal dan Tahun Baru 2012, tarif hotel berbintang di kawasan wisata Pangandaran Kabupaten Ciamis naik hingga tiga kali lipat. Salah satu Pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Ciamis Andis Sose mengatakan, menjelang liburan Natal dan Tahun baru kali ini, tarif hotel mengalami kenaikan yang begitu sigfinikan.

"Kenaikannya cukup sigfinikan hingga mencapai tiga kali lipat," ujar Andis kepada media. Untuk tarif kamar hotel, lanjutnya, bisa mencapai Rp1,2 juta per malam. Padahal di hari–hari biasa, tarif hotel hanya Rp400.000. Demikian pula sewa kamar di rumah penduduk yang biasanya hanya Rp100.000, melonjak saat libur tahun baru menjadi Rp600.000.

"Tidak hanya rumah penduduk yang didekat pantai saja yang bakal ramai, akan tetapi di kawasan Katapangdoyong yang cukup jauh juga pasti penuh," tuturnya

Saat ini, tambahnya, untuk hotel berbintang atau hotel kelas ekonomi menengah ke atas, diperkirakan sudah penuh untuk masa libur Natal. Yakni mulai tanggal 23 Desember hingga pergantian tahun.

Meski demikian, Andis mengaku, pengusaha hotel sebagian besar menolak untuk booking kamar pada saat tahun baru. Selain harga sewa kamar lebih mahal saat liburan Natal dan Tahun Baru, alasan lainnya untuk mengantisipasi tamu membatalkan kunjungannya ke Pangandaran.

Related posts