Investment Grade vs Kemiskinan

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Indonesia belum lama ini naik peringkat investment grade oleh lembaga internasional Fitch Rating dari level BB+ menjadi BBB-. Kenaikan peringkat ini banyak ekonom angkat suara dan termasuk presiden yang intinya kenaikan peringkat ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi menjadi lebih baik lagi. Pasalnya, dengan kenaikan peringkat tersebut tersebut Indonesia dinilai sebagai negara yang paling "sexy" untuk berinvestasi.

Kabar tentang kenaikan Indonesia oleh lembaga rating internasional tersebut juga memberikan suasana euforia pada perekonomian dalam negeri dari berbagai sektor. Namun hal yang dirasakan langsung dampaknya terhadap naik peringkatnya Indonesia itu, adalah industri pasar modal. Dimana indeks akhir pekan kemarin, ditutup menguat tajam 66,814 poin (1,81%) ke level 3.768,354.

Menurut Managing Research Indosurya Asset Management, Reza Priyambada, penguatan indeks akhir pekan di pengaruhi faktor "investment grade" sebagai salah satu katalis pendorong IHSG. Hampir seluruh sektor saham pada perdagangan akhir pekan kemarin mengalami penguatan, kecuali sektor pertanian.

Namun sayangnya, sentimen positif investment grade tersebut tidak berlangsung lama pengaruhnya terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Karena diawal pekan saja, indeks masih rawan terhadap ancaman krisis ekonomi global dan termasuk pengaruh terhadap bursa global.

Oleh karena itu, apa yang disampaikan Direktur Utama BEI Ito Warsito tentag naik peringkatnya Indonesia dalam investment grade tetap harus diwaspadai oleh para pelaku pasar modal. Karena ancaman indeks saham terhadap sentimen negatif global akan datang tiba-tiba karena pergerakan saham saat ini belum stabil.

Namun terlepas dari seberapa jauh pengaruhnya bagi industri pasar modal, tetapi yang harus diperhatikan adalah dampak dari investment grade tersebut bagi perekonomian sektor riil dan termasuk pengurangan angka kemiskinan. Jangan sampai, klaim pemerintah akan pertumbuhan ekonomi yang positif dan berbagai kenaikan peringkat rating lembaga internasional tidak memberikan makna yang berarti bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Karena saat ini yang dibutuhkan rakyat bukan mengoleksi kenaikan peringkat dari lembaga rating, tetapi adalah dampak positif bagi pengurangan kemiskinan dan jumlah pengangguran.

Kendati demikian, kondisi ini juga tidak langsung memberikan efeknya bagi perkonomian kelas bawah tetapi hal yang harus tetap diperhatikan adalah jangan terlena dan lupa diri dengan kenaikan peringkat tersebut. Karena masih banyak tugas pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menurunkan angka kemiskinan. Bagaimanapun juga peringkat yang disampaikan lembaga asing tersebut belum tentu menggambarkan kondisi Indonesia sebenarnya terlepas apakah itu berdasarkan penilaian subjektif atau objektif.

Artinya, apalah artinya pertumbuhan ekonomi dan kenaikan peringkat yang akhirnya hanya akan menjadi angka-angka kosong di atas kertas, jika tidak di imbangi dengan prestasi nyata pemerintah menekan angka kemiskinan dan minimnya kesempatan kerja di negeri ini.

Related posts