Diplomasi Kapal Perang AS

Oleh : A Eko Cahyono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Jakarta –Meski ekonomi AS morat marit akibat krisis global. Namun keperkasaan militer AS belum ada tandingannya. Bahkan militer AS secara terang-terangan mulai ikut terlibat dalam kekuatan diplomasi dalam berbagai hal. Diplomasi AS dengan menggunakan kapal perang perlu diwaspadai, termasuk kehadirannya di Singapura.

Meski tak perlu disikapi dengan kepanikan dan kekhawatiran yang berlebihan dengan munculnya beberapa kapal tempur pantai (littoral combat ships-LCS). Bisa jadi kehadiran itu juga berdampak positif, yakni memperkuat pengamanan di kawasan ASEAN. Artinya, penempatan kapal perang AS di Singapura bukan sebagai bentuk ancaman terhadap kawasan ASEAN

Apalagi memang belakangan sempat menghangat soal isu perbatasan laut negara China dengan negara-negara ASEAN, seperti dengan Filipina dan Thailand. Di mana sepertinya AS memiliki ketertarikan untuk sedikit memberikan perhatian dalam masalah ini. Namun sesungguhnya di antara negara ASEAN dengan China sendiri sudah tercapai sebuah kerangka berfikir untuk penyelesaian tersebut.

Meski tak ada gelagat negatif terkait kehadiran kapal perang AS.Hal ini tetap perlu diantisipasi intervensi terselubung dalam persoalan perbatasan laut China dengan negara-negara ASEAN. Masalahnya, AS sadar betul kawasan ASEAN kini menjadi pusat perhatian dunia, dalam hal pertumbuhan ekonomi dan investasi. Karenanya AS akan berpikir berulang kali, jika ingin menciptakan ketegangan di kawasan ASEAN.

Jika itu terjadi, hanya akan merugikan kepentingan AS sendiri dari segi ekonomi yang sedang kini terpuruk. Selain itu AS juga akan mendapat kecaman luas dari masyarakat internasional. Walau AS sudah biasa menggunakan diplomasi kapal perang. Intinya, AS tak mau terganggu kepentinganya di ASEAN. Karena itu wajar AS juga menempatkan pesawat patroli P-8A Poseidon atau pesawat pengintai tak berawak pada 2025. Pesawat itu secara rutin terbang di atas wilayah Filipina dan Thailand membantu patroli wilayah maritim.

Yang jelas sejauh penempatan kapal-kapal itu tidak permanen dan tidak melanggar kesepakatan perjanjian di tingkat kawasan ASEAN bisa saja dibenarkan. Namun jika penempatan kapal perang AS di Singapura itu bersifat permanen, perlu dibahas di tingkat negara-negara ASEAN.

Mau tak mau Indonesia perlu memantau perkembangan atas rencana penempatan kapal perang AS di Singapura tersebut. Kalau memang untuk membantu pengamanan Selat Malaka, maka tak perlu menempatan kapal perang begitu banyak di Singapura. Toh, sudah sesama negara ASEAN, baik Indonesia, Malaysia dan Singapura sudah ada kesepakatan untuk selalu menggelar patroli maritim bersama. Baik secara terkoordinir dan simultan untuk menjamin keamanan wilayah Selat Malaka.

Bagaimanapun juga tingkat kewaspadaan perlu dijaga. Jangan terlalu percaya dengan sikap AS. Apalagi di Indonesia kepentingan dengan Freeport sudah jelas. Karena itu AS terus melebarkan pengaruh militernya hingga di kawasan ASEAN setelah mereka membangun pangkalan militernya di Australia.

Related posts