Realisasi Belanja Modal Memprihatinkan - Akhir 2011

NERACA

Jakarta—Pemerintah akhir mengakui realisasi belanja modal baru mencapai 63% hingga 7 Desember 2011. Dibanding 2010, belanja modal 2011 ternyata lebih rendah. "Memprihatinkan, tapi seperti yang tadi saya sampaikan asal permasalahannya yang utama kombinasi kerja sama yang lebih baik, antara yang melakukan persiapan dengan pelaksanaan," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo kepada wartawan di Jakarta,19/12

Menurut Agus, masih banyak pihak yang menyusun anggaran tidak menyertakan Term of Reference (TOR) atau RAB yang baik. "Sehingga pada saat disetujui kalau mau diadakan pengadaan atau tender menjadi sulit dan nanti menjadi tertunda," terangnya

Dikatakan mantan Dirut Bank Mandiri ini, rendahnya serapan anggaran belanja modal ini juga disebabkan komitmen dari satuan kerja yang melakukan anggaran tidak diberikan motivasi atau arahan kerja sehingga tidak berani melakukan tender. " Itu harus didukung, karena banyak sekali pengadaan barang jasa yang mahal pejabatnya takut sekali melakukan," paparnya

Lebih jauh kata Agus, satuan kerja ini harus diberikan sertifikasi serta penempatan satuan kerja yang tepat sehingga berani melakukan tender. Selain belanja modal yang rendah, penyerapan anggaran kementrian lembaga (KL) saat ini juga masih tergolong renah. "Pembahasan ini akan diangkat oleh dirjen anggaran dan dirjen perbendaharaan. Karena harus realistis dalam lima tahun penyerapan tetap rendah itu artinya ada sistem yang salah,” imbuhnya

Agus juga heran belanja modal untuk membangun infrastruktur yang telah tersedia ternyata tak banyak terserap. Intinya, K/L sangat tidak terencana dalam mencairkannya sehingga tidak optimal. Padahal K/L harus mempunyai meskanisme disbursment loan (pencairan) dan procurement plan (mekanisme pengadaan barang dan jasa) yang baik, sehingga dana tidak tidak terhimpun di kantor pembendaharaan. “"Betul-betul rencana baik, ini kuartal I, ini kuartal II, ini kuartal III, serta pengadaan barang dan jasa, supaya uang yang tersedia bisa dicairkan,”cetusnya.

Agus juga mengatakan dalam planning atau rencana K/L, banyak proyek yang tidak disiapkan dengan matang. “Di organisasi itukan ada unit teknis, harusnya disiapkan rencana ke bagian keuangan kemudian didiskusikan, kemudian kirim ke Bappenas atau Kemenkeu,”tegasnya

Bukan hanya itu Agus juga menyebutkan dalam persiapan penyerapan anggaran, K/L hanya memakai angka lama dalam rencananya. "Perencanaan outcome output-nya jauh, menyiapkannya asal saja. Banyak sekali angka yang ditaruh, angka tahun lalu, dimasukkan saja, proses itu bukan bottom up," jelasnya

Oleh karena itu Agus sangat mengharapkan K/L dapat melakukan penyerapan anggaran yang optimal serta berkualitas. "Mumpung belum akhir tahun, rencana anggaran disusun dan harus realistis, jadi kalau kita lihat anggaran itu, dan yang utama adalah adanya koordinasi antara perencanaan dan kegiatan," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung mengungkapkan fenomena sistem kebut anggaram akhir tahun di kalangan birokrasi. Meski sudah menjadi rahasia umum, praktik semacam ini belum juga berubah yaitu mulai maraknya seminar sampai perjalanan dinas. "Kita tahulah bulan Desember itu banyak seminar. Banyak perjalanan keluar negeri. Bapak ibu tahu lah itu buat apa," tandasnya

Pernyataan Chairul ini merupakan respons dari pertanyaan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di tempat yang sama. Hatta Rajasa bertanya-tanya mengapa pertumbuhan penyerapan anggaran selalu terjadi di kuartal keempat atau akhir tahun. "Saya juga bertanya, kita harus benahi itu," ujarnya. **cahyo

Related posts