Pendidikan Karakter Antikorupsi

Maraknya perilaku tindak korupsi yang dilakukan petinggi negara bahkan kini sudah merasuk ke kalangan pegawai negeri sipil (PNS) muda, merupakan bukti rapuhnya pendidikan moral bangsa di negeri ini. Hal ini diakui oleh Dirjen Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr. Suyanto di Semarang belum lama ini, bahwa hal itu sebagai representasi kegelisahan bangsa.

Sebab itu, grand design pendidikan karakter di seluruh jenjang pendidikan perlu diarahkan pada antisipasi bahaya korupsi. Berlatar keprihatinan hampir setiap hari ada pemberitaan tentang kasus korupsi, ada baiknya sejak sekarang pendidik perlu mengajarkan mengenai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Dan pentingnya sosialisasi bahwa jujur itu hebat, korupsi itu jahat, dan sejenisnya.

Kita merasa berbagai persoalan yang terkait dengan karakter dan mentalitas bangsa belakangan ini benar-benar menggumpalkan kecemasan tentang Indonesia pada masa sekarang dan masa depan. Potret bangsa kita di depan tercermin dari kekusutan yang sekarang melilit kehidupan; dengan puncak kristal endemik korupsi yang makin marak, ketidakamanahan kekuasaan, kemudahan pilihan solusi atas semua kebuntuan dengan peletupan amarah lewat ungkapan anarkisme seperti tawuran pelajar, dan aneka macam kebrutalan yang cukup menggelisahkan masyarakat.

Pendidikan moral sebagai landasan berpijak berbangsa, sejatinya dipandang memikul tanggung jawab ketika hulu dari pembentukan watak dan karakter ini menyinggungkan macam-macam aspek: mulai dari konsep, model, materi, hingga idealita contoh-contoh nyata lewat keteladanan para pemimpin di berbagai level.

Saat ini kita merasa gundah oleh watak, karakter, dan mentalitas ketika muncul persoalan demi persoalan. ”Tokoh Masyarakat” yang seharusnya menjadi panutan, ternyata jadi simbol kejahatan korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Aneka perilaku para politikus dan penegak hukum lintas generasi juga memperlihatkan kolaborasi yang memprihatinkan.

Sederetan nama yang menjadi contoh aktual dalam dunia kebobrokan seperti Gayus Tambunan, M.Nazaruddin, dan banyak PNS muda yang ditengarai memiliki rekening “gendut” mencurigakan patut ditelisik mendalam. Mereka orang-orang muda dengan posisi strategis di lingkungan pekerjaannya, juga punya akses luas ke lingkaran kekuasaan. Berada di dalam sistem dan struktur yang tidak berbasis pada kekuatan karakter dan mentalitas untuk membangun negara, mereka ternyata makin matang sebagai penggerogot uang negara.

Kita akui kesempatan setiap orang boleh jadi sama. Modal intelektualitasnya merata. Mereka juga berpayung di bawah struktur yang sama, sistem yang satu. Yang akan membedakan adalah basis karakter dan mentalitasnya. Sebagai contoh, ketika pendidikan moral Pancasila (PMP) diterapkan di masa lalu, pembentukan karakter bangsa setidaknya mengacu pada pola PMP yang terkait dengan falsafah Negara Kesatuan RI.

Nah, jika PMP sekarang sudah dianggap tidak ada. Apakah landasan lain yang didapatkan dari pendidikan, lingkungan keluarga, akan mampu mencapai pada hulunya, yakni sejauh mana nilai-nilai pendidikan menginternal sebagai way of life? Bagaimanapun, sikap hidup hakikatnya merupakan pengejawantahan nilai-nilai yang diserap dan mempengaruhi mind set-nya seseorang untuk berperilaku.

Menginternalisasikan sikap antikorupsi sebagai ruh dalam pendidikan karakter merupakan tuntutan kebutuhan menghadapi realitas kehidupan saat ini. Kita tentu memimpikan Indonesia masa depan yang bermartabat, jiwa-jiwa bersih angkatan muda dengan landasan karakter dan mentalitas positif kuat. Semua itu kita bangun dari sistem, konsep, pola, materi, dan pengejawantahan pendidikan yang memberi arah untuk keluar dari cengkeraman kekarutmarutan seperti sekarang. PMP boleh jadi bisa menjadi alternatif yang mendukung pendidikan atikorupsi.

Related posts