Pembatasan BBM Dorong Inflasi 5,8%

NERACA

Jakarta---Bank Indonesia memperkirakan rencana memberlakukan pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi atau menaikkan harga BBM subsidi bisa mendongkrak inflasi tahunan pada 2012 sebesaar 5,2%-5,8%. “Soal rencana pemerintah untuk melakukan pembatasan BBM subsidi, maupun menaikkan harga BBM yang bisa berakibat terhadap kenaikan inflasi di angka 5,2% sampai 5,7% atau 5,8%. Tapi inikan belum pasti," kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution kepada wartawan di Jakarta,15/12

Meski ada tekanan inflasi, namun Darmin, optimiss inflasi tetap akan berada dikisaran 3,9%-4%. “Sementara untuk 2012 posisi angka inflasi akan bergerak antara 4%-4,5%,” tegasnya

Lebih jauh kata mantan Dirjen Pajak ini, dorongan angka inflasi bisa bergerak diantara 5,2%-5,7%. Karena itu kisaran inflasi ini masih berada di level yang wajar. "Cukup rendah untuk inflasi bergerak di sekian tahun terakhir," terangnya

Meski begitu, Darmin enggan berkomentar jauh mengenai langkah yang dinilai tepat terkait kebijakan BBM bersubsidi.

Yang terkait proyeksi pertumbuhan, Darmin yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan berada di angka 6,3%-6,6%. "Kalau lembaga internasional bilang 4% (pertumbuhan ekonomi dunia), maka ekonomi kita, kalau tidak ada hal khusus yang dilakukan pemerintah akan tumbuh 6,3%-6,4%,” paparnya.

Menurut Darmin, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia diawali asumsi perkembangan ekonomi dunia. “Namun, kalau ada langkah-langkah yang dilakukan pemerintah seperti pengeluaran bisa lebih cepet, pembangunan infrastruktur itu paling tidak bisa 6,5%-6,6 persen," tuturnya

Darmin mengaku pertumbuhan ekonomi pada kisaran 6,3%-6,6% bukan hal yang mustahil, meski begitu, pihaknya akan membantu pemerintah mencapai target tersebut. Salah satu cara yang dilakukan BI adalah menurunkan tingkat bunga acuan di level enam persen November lalu. "Dari sisi moneter, kita sudah antisipasi dengan menurunkan policy rate ke bawah. Kalau kemudian policy rate turun, tetapi landingrate tidak turun, kita akan bicarakan baik-baik (dengan perbankan) karena ini bukan main sulap. Iini area yang kita akan perbaiki sama-sama," lanjut dia.

Meskipun optimistis dengan angka pertumbuhan ekonomi tahun depan, Darmin menyadari dengan adanya perlambatan ekonomi di sejumlah negara maju, nilai ekspor Indonesia akan mengalami penurunan. "Di jalur perdagangan, sampai tahun ini tidak terlihat. Di 2012 akan terasa langsung dampaknya dari China dan India. Meskipun kita telah merubah arah ekspor kita selama dua tahun ini ke China dibandingkan Eropa, perubahan ini tetap akan berdampak pada penurunan angka ekspor dari 16% (tumbuh) menjadi sekira 11,7%-12,1% di tahun depan," jelas dia.

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati menilai masyarakat Indonesia perlu mengubah cara pandangnya dalam melihat proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan. "Kita harus memiliki cara pandang baru bahwa ekonomi Indonesia itu ibarat gadis, seksi dan ibarat jejaka itu perkasa. Namun, Indonesia suka lupa pada potensi demand yang luar biasa prospektif ini," ujarnya

Menurut Anny, hal ini membuat Indonesia tahun depan masih akan kebanjiran aliran dana dari para investor. Karenanya, dia mengatakan capital inflow harus digiring masuk dan berkembang di sektor-sektor riil dan bukan hanya di pasar keuangan yang bergerak volatil. "(Kalau di pasar keuangan) bisa masuk pagi, keluar siang. Karenanya, kami di Kementerian Keuangan sudah mencoba beberapa kebijakan fiskal terkait dengan ini, misalnya bagaimana memberikan beberapa insentif terkait pajak," pungkasnya. **cahyo

Related posts