Momen Mereguk Keuntungan

Oleh : Noor Yanto (Wartawan HE Neraca)

Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. Tiga momen yang setiap tahun berulangkali terjadi. Ketiga momen tersebut, dianggap penting bagi maskapai penerbangan terutama mereguk keuntungan. Berbagai strategi pemasaran dilakukan. Pada musim tersebut biasanya market cenderung naik dari hari biasa atau reguler. Hal tersebut disebabkan oleh tren masyarakat ingin melakukan perayaan ataupun memeriahkannya yang datang sekali dalam setahun.

Dalam dunia pemasaran, momen tersebut biasa dikenal sebagai seasonal marketing. Banyak cara dilakukan oleh perusahaan untuk meraup peluang yang hanya muncul setahun sekali ini. Ada yang menawarkan benefit yang sifatnya fungsional dikombinasi dengan diskon harga besar-besaran. Sebagian lagi menawarkan benefit yang sifatnya emosional, misalnya saja dengan mengaitkan produk/ service dengan kehangatan suasana keluarga saat merayakannya.

Di luar benefit yang bersifat fungsional dan emosional, sebagian perusahaan mulai berupaya untuk menawarkan benefit yang sifatnya lebih “spiritual”. Dipilihnya pendekatan benefit yang ketiga ini bukan tanpa alasan. Selain lonjakan pengeluaran untuk konsumsi, perayaan Natal juga ditandai dengan peningkatan aktifitas filantropi. Spirit Natal dan Tahun Baru memang mendorong agar seseorang lebih murah hati dan memiliki kepekaan sosial lebih tinggi.

Pentingnya benefit yang menyentuh sisi “spiritual” pelanggan semakin menemukan relevansinya dengan adanya paradoks yang tercipta akibat lonjakan konsumsi selama momen tersebut. Jika dianalisa secara lebih dalam, kemungkinan akan ditemukan bahwa kenaikan konsumsi tadi sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke atas, karena memang segmen inilah yang memiliki kemampuan untuk menaikkan daya beli. Namun efeknya, yakni kenaikan harga-harga kebutuhan sehari-hari akibat ledakan permintaan tadi (demand-pull inflation), justru lebih banyak dirasakan oleh masyarakat menengah ke bawah.

Paradoks di atas akan menimbulkan anxiety di tengah masyarakat. Di kalangan masyarakat bawah, kenaikan harga memunculkan kecemasan terkait penurunan daya beli untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara di kalangan masyarakat menengah ke atas, seandainya paradoks di atas disadari, maka akan muncul kecemasan dalam bentuk yang “lebih spiritual”.

Teori-teori diataslah, yang sangat dipahami oleh maskapai penerbangan untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Sangatlah rugi jika harus kehilangan momen ini.

Related posts