Bisa Menjadi Alternatif Jasa Keuangan - Perbankan Syariah

Jakarta - Bank Indonesia (BI) yakin industri perbankan syariah akan menjadi salah satu alternatif masyarakat dalam memperoleh jasa dan layanan keuangan.

Menurut Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah, hal ini bila melihat kondisi perekonomian krisis global yang terus bergejolak. "Kami optimis ke depan dapat mengembangkan perbankan syariah kearah yang lebih baik, karena kita lihat kondisi global sekarang ini juga belum dapat membaik," ujarnya dalam Seminar Akhir Tahun, Outlook dan arah Kebijakan Perbankan Syariah di Gedung BI, Rabu (14/12).

Ditegaskan Halim, hingga saat ini pelayanan perbankan syariah semakin luas. Jangkauannya sudah menyebar ke seluruh wilayah nusantara. Pada Oktober 2011 pangsa pasar dari sisi aset telah mencapai 3,7% dari total industri perbankan nasional. "Bank sentral mencatat aset perbankan syariah sudah naik 47,5% (Rp130,5 triliun) dalam setahun," tegasnya.

Halim menambahkan, gejolak ekonomi global belum ada tanda-tanda pulih akibat makin larutnya penyelesaian krisis baik di Eropa dan Amerika Serikat. "Perbankan syariah masih sangar kuat dan aman dari krisis global," jelasnya.

Selain itu, BI juga optimistis di tahun 2012 para perbankan syariah bisa mengumpulkan Dana Pihak Ketiganya (DPK) sekitar Rp198,6 triliun atau setara dengan kenaikan 79% dari pengumpulan dana ketiga untuk tahun ini. "Untuk DPK perbankan syariah optimis sekitar 78-79% atau senilai (Rp)198,6 triliun. Untuk moderat sendiri 63 persen (Rp180,6 triliun), dan pesimistis di titik 55 persen (Rp171,5 triliun) untuk dibandingkan tahun ini," ujar Halim.

Lebih lanjut dia menyampaikan, pertumbuhan DPK yang secara optimistis ini, BI berkeyakinan di 2012 perbankan syariah dapat membiayai pembiayaan sekitar Rp191,4 triliun atau naik 79% dari tahun ini. "Untuk Oktober lalu pembiayaan perbankan syariah Rp100 triliun. Ke depan secara pesimistis naik 50% (Rp165,3 triliun) atau pun moderat sekitar 163% (Rp174 triliun)," tegasnya.

Namun menurutnya, agar realisasi ini tercapai, BI akan bekerjasama dengan stakeholders Dewan Syariah Nasional, Pemerintah, Kemenkeu, dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). "Salah satu peningkatan bank syariah dalam meningkatkan layanan perbankan syariah agar tidak jauh dengan induknya," jelasnya.

Oleh karena itu, BI akan meminta kepada bank konvensional yang memiliki anak-anak usaha bank umum syariah (BUS) di dalamnya untuk meningkatkan sinergi. "BI sendiri sudah meminta kepada bank konvensional yang memiliki anak usaha bank umum syariah untuk tetap memasukkan program sinergi dalam rencana bisnis bank (RBB) pada 2012," ujar Halim.

Lebih lanjut dirinya menyampaikan, paling tidak perbankan syariah harus bisa menyesuaikan kualitas dalam pelayanannya yang setara dengan bank induk mereka. Hal tersebut bisa didapat melalui peningkatan sinergi antara induk dan anak usahanya. "Bank sentral optimis pertumbuhan perbankan syariah pada 2012 akan lebih besar, dengan persyaratan 11 bank umum syariah yang baru saja memisahkan diri dari induknya atau dapat melakukan spin off," tegasnya.

Halim menambahkan, beberapa BUS yang belum optimal dalam melakukan kinerja usahanya karena baru terbentuk. "Tahun sekarang ini baru berjalan, saya yakin perkembangan itu akan cepat dan akan luar biasa pertumbuhannya."

Targetkan Aset Rp200 T

Tak hanya itu, BI juga akan menargetkan aset perbankan syariah Indonesia mencapai sekitar Rp200 triliun di akhir tahun 2012 nanti."Aset perbankan syariah Indonesia akan mencapai sekitar Rp200 triliun di akhir tahun 2012, aset tersebut diikuti pertumbuhan sektor pembiayaan. Total aset perbankan syariah per Oktober sekitar Rp127,19 triliun dan jika digabung BPR syariah sudah lebih dari Rp130,5 triliun, tumbuhnya sekitar 47,5 persen YoY. Pertumbuhan tinggi ini mampu meningkatkan pasar syariah sebesar 3,7 persen dari total aset perbankan," ujarnya.

Dengan adanya perkembangan ini BI optimistis pertumbuhan perbankan syariah tahun depan akan sama dan tidak terpengaruh krisis global. "Akhir tahun total aset perbankan syariah baseline bisa mencapai Rp180 triliun. Secara premi Rp177 triliun, dan jika optimis bisa di atas Rp200 triliun”, tegasnya.

Halim menambahkan, untuk mewujudkan target pertumbuhan ini, ada 6 strategi dalam mengembangkan perbankan syariah. Enam strategi itu di antaranya adalah penguatan intermediasi perbankan syariah kepada sektor ekonomi produktif, pengembangan produk perbankan syariah secara lebih terarah.

Related posts