Obligasi Jatuh Tempo Capai Rp 12,177 Triliun

NERACA

Jakarta – Keyakinan pasar obligasi di tahun ini makin marak, selain dipicu pertumbuhan ekonomi yang masih positif juga karena maraknya obligasi yang jatuh tempo. Bahkan mengutip data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) di Jakarta, kemarin mengungkapkan, surat utang senilai Rp12,177 triliun yang diterbitkan perusahaan pelat merah atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan jatuh tempo tahun ini.

Disebutkan, obligasi yang akan jatuh tempo tersebut berasal dari sembilanBUMN yang terdiri dari 22 seri. PT Sarana Multigriya Finansial (Persero), misalnya, mencatat tujuh seri obligasi yang akan jatuh tempo dengan jumlah Rp3,01 triliun. Di antaranya, senilai Rp838 miliar jatuh tempo pada 25 April, Rp488 miliar jatuh tempo pada 27 Juni, dan Rp753 miliar jatuh tempo pada 16 Desember.

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) juga mencatat obligasi dengan total nilai Rp2,42 triliun, terdiri dari Rp1,5 triliun jatuh tempo pada 10 Juli dan Rp920 miliar jatuh tempo 12 Januari. Kemudian PT Pegadaian (Persero) mencatat obligasi sebesar Rp1,95 triliun. Antara lain, Rp500 miliar jatuh tempo pada Rp14 Februari, Rp650 miliar jatuh tempo pada 1 Juli, Rp370 miliar jatuh tempo pada 4 September.

Sementara itu, BUMN lain yang juga memiliki obligasi jatuh tempo, yakni Jasa Marga Tbk senilai Rp1,5 triliun, Permodalan Nasional Madani Rp687 miliar, Bank Rakyat Indonesia Rp1,42 triliun, PT Adhi Karya Rp375 miliar, PT Danareksa Rp250 miliar, serta Pupuk Indonesia Rp568 miliar. Dalam membayar obligasi jatuh tempo tersebut, sejumlah BUMN akan menawarkan surat utang baru. Namun, belum tentu juga aksi korporasi tersebut ditujukan untuk membiayai obligasi jatuh tempo. Perseroan bisa jadi menggunakan kas internal atau pinjaman bank.

PLN, salah satunya yang mengantongi pinjaman tahap II senilai Rp12 triliun dari enam institusi keuangan. Direktur Utama PLN Sofyan Basir menerangkan, pinjaman bertenor 10 tahun tersebut akan digunakan untuk mempercepat pembangunan pembangkit listrik.”Kredit investasi sebesar Rp12 triliun ini merupakan dukungan dari perbankan terhadap program listrik 35.000 Megawatt (MW) yang dilaksanakan oleh PLN," ujar Sofyan.

Namun demikian, perseroan juga akan merilis obligasi berdenominasi dolar AS senilai US$1,5 miliar. Obligasi ini rencananya dirilis April mendatang. "Kemarin juga kami dapat uang dari Penyertaan Modal Negara (PMN) sudah turun Rp23,6 triliun. Subsidi juga masuk Rp10,9 triliun. Jadi, kami sedang kaya," jelasnya.

Sementara itu, Jasa Marga berniat mendivestasikan dua asetnya tahun ini. Namun, aksi tersebut bukan dilakukan untuk melunasi obligasi jatuh tempo, melainkan untuk menggemukkan kantong perseoan demi membangun proyek lainnya. Direktur Keuangan Jasa Marga Anggiasari Hindratmo mengungkapkan, perseroan akan melepas 10 persen-15 persen kepemilikannya di PT Trans Marga Jateng dan melepas seluruh sahamnya atau sebanyak 19 persen di jalan tol JORR W1 (Kebon Jeruk-Penjaringan). (bani)

Related posts