BEI Bidik Perusahaan Asuransi Asing - Kejar Target IPO 2017

NERACA

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengharapkan perusahaan pertambangan dan asuransi asing melepas sebagian sahamnya ke publik melalui mekanisme penawaran umum perdana saham (IPO).”Beberapa perusahaan terutama yang dimandatorikan pemerintah seperti pertambangan dan asuransi asing kami harap bisa IPO," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat di Jakarta, Selasa (10/1).

Dia menyampaikan bahwa dalam Undang-Undang Asuransian, kepemilikan asing akan dibatasi dalam persentase saham. Perusahaan asuransi asing itu bisa melepas ke investor lokal atau "go public"."Dalam UU Asuransi 2014, mereka diberi waktu hingga 2019 untuk mendivestasikan kepemilikannya, tidak boleh lebih dari 80%. Kami sudah undang perusahaan-perusahaan sektor itu, dan sedang bersiap-siap," katanya.

Samsul Hidayat mengatakan bahwa terdapat sekitar 18 perusahaan asuransi asing. Perusahaan-perusahaan itu mengaku masih mengkaji mekanisme pelaksanaannya. Sementara perusahaan tambang, lanjut dia, juga telah mendapat dorongan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah agar perusahaan tambang asing yang mengelola sumber daya alam Indonesia untuk melepas sebagian sahamnya.

Dalam rangka menambah jumlah emiten di BEI, lanjut Samsul Hidayat, pihaknya juga fokus mendorong perusahaan di sektor atau industri lainnya untuk mencari pendanaan ekspansi melalui pasar modal.”Kita sebenarnya fokus ke beberapa jenis industri yang kita perkirakan merencanakan IPO, tahun 2016 lalu sudah banyak perusahaan yang mendatangi kita untuk merencanakan IPO," katanya.

Dirinya menilai bahwa salah satu hal yang menjadi pertimbangan perusahaan untuk melakukan IPO diantaranya kondisi pasar modal, internal perusahaan, kemudian konversi dari perusahaan keluarga menjadi perusahaan publik yang tentu membutuhkan diskusi panjang.”Sebagian besar yang sudah berniat pada tahun lalu diharapkan bisa merealsiasikan IPO di 2017 ini,"jelasnya.

Menurut Samsul Hidayat, tahun ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan IPO mengingat fundamental ekonomi Indonesia masih cukup positif. Tahun ini pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1%. Sebelumnya, Direktur Utama BEI, Tito Sulistio mengatakan bahwa pihaknya meminta pemerintah mendorong perusahaan yang aset dan pendapatannya berasal dari dalam negeri untuk mencatatkan sahamnya. Disebutkan, ada sekitar 52 perusahaan dengan kategori itu terdapat di Indonesia. Jika sahamya tercatat di BEI nilainya mencapai sekitar Rp400 triliun. Dari 52 perusahaan itu, terdapat tiga perusahaan yang berminat untuk mencatatkan sahamnya di BEI.

Bahkan guna memuluskan rencananya mendesak perusahaan asing IPO di pasar modal, Tito Sulistio meminta dukungan kepada Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Pada pertemuan tersebut, Tito meminta Menteri Keuangan untuk mendesak perusahaan asing atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk go public atau listing di pasar modal. Pasalnya, masih banyak perusahaan-perusahaan Indonesia yang justru mencatatkan sahamnya di bursa saham luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Sidney, dan New York.”Kita minta Sri Mulyani untuk mendesak perusahaan asing di Indonesia melantai di bursa,”kata Tito.

Related posts