ExxonMobil Tunggu Amdal Tingkatkan Produksi Blok Cepu - Industri Energi

NERACA

Jakarta – ExxonMobil Indonesia mengaku masih menunggu izin analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk bisa meningkatkan produksi Lapangan Banyu Urip Blok Cepu, Jawa Timur, menjadi 200.000 barel minyak per hari.

Vice President Public and Government Affairs ExxonMobil Indonesia Erwin Maryoto yang ditemui di Kemenko Kemaritiman Jakarta, sebagaimana disalin dari Antara, mengatakan, izin amdal itu masih dalam proses.

"Kami sedang proses amdalnya. Inginnya (selesai) secepatnya. Tapi kan ada proses yang masih harus dilalui. Dari segi fasilitas sudah siap, tinggal mendapat izin lingkungan saja," katanya.

Peningkatan produksi di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, dilakukan guna mencapai target lifting minyak tahun ini sebesar 815.000 barel minyak per hari sesuai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017.

Target lifting tersebut turun dari APBN Perubahan 2016 sebesar 820.000 barel per hari yang telah terlampaui pada November 2016 sebesar 822.000 barel per hari.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan target yang telah terlampaui itu terutama berasal dari Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu setelah "train" B mulai berproduksi pada kapasitas penuh 185.000 barel per hari semenjak Januari 2016.

Kontributor terbesar "lifting" minyak lainnya adalah Blok Rokan, Pertamina EP, Mahakam, dan Offshore Northwest Java (ONWJ). Sedangkan lima blok terbesar untuk gas adalah Mahakam, Berau, Pertamina EP, Corridor, dan Senoro-Toili.

Presiden ExxonMobil Indonesia Daniel Wieczynski mendatangi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan guna membahas kemajuan kontrak Blok East Natuna. "Mereka (ExxonMobil) melaporkan mengenai kemajuan East Natuna," kata Luhut.

Menurut mantan Menko Polhukam itu, pembahasan meliputi perbaikan kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) di blok yang nantinya dikelola konsorsium pimpinan PT Pertamina (Persero). Konsorsium itu juga beranggotakan PTT Thailand.

Luhut menuturkan, sesuai permintaan pemerintah, konsorsium menyetujui untuk terlebih dahulu melakukan pengembangan minyak. "Mereka akan mulai dengan yang ada minyaknya dulu, baru nanti yang ada gasnya," tuturnya.

Dengan lebih dulu mengembangkan minyak, Luhut mengatakan belum tentu nantinya akan ada PSC. "Tidak dua kali. Mungkin nanti ada perbaikan implementasi atau penyesuaian dengan keadaan harga seperti sekarang ini," imbuhnya.

Mantan Kepala Staf Presiden itu mengaku kontraktor migas asal Amerika Serikat itu tidak memiliki permintaan khusus. Ia juga mengatakan semua urusan mengenai fiskal seperti insentif pajak atau nilai bagi hasil masih terus dibicarakan dengan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar.

Namun ia menekankan isi kontrak itu harus menguntungkan kedua belah pihak, baik konsorsium maupun pemerintah. "Yang jelas kita mau semua menguntungkan," ujarnya.

Penandatanganan kontrak bagi hasil Blok East Natuna terus mundur lantaran belum adanya kesepakatan pemerintah dan konsorsium mengenai syarat dan ketentuan kontrak. Konsorsium meminta agar syarat dan ketentuan dalam draf PSC atraktif secara ekonomi.

Sayangnya, pengembangan gas masih terkendala teknologi dan risiko kerusakan pipa karena kadar karbon dioksida yang mencapai 72 persen. Ada pun pemerintah menginginkan agar segera ada kegiatan ekonomi di wilayah itu.

Oleh karena itu, untuk tahap awal, pemerintah menawarkan kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) untuk pengembangan minyak dengan struktur AP. Ada pun pengembangan gas dengan struktur AL masih terus dimatangkan.

Kendati demikian, hingga saat ini belum ada keputusan lanjutan mengenai rincian draf kontrak pengembangan lapangan gas yang ditengarai lebih besar empat kali lipat dari Blok Masela itu.

Di pihak lain, PT Pertamina EP, anak perusahaan PT Pertamina (Persero) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama di bawah SKK Migas, menargetkan tingkat produksi minyak dan gas bumi pada tahun 2017 sebesar 264.000 barel setara minyak per hari (BOEPD).

Target tersebut didukung dengan rencana kerja perusahaan yang masih aktif melakukan pengeboran sumur pengembangan dan mencari cadangan baru melalui sumur eksplorasi, kata Vice President Legal Relation PT Pertamina EP, D Yodi Priyatna dalam kegiatan diskusi media di Jakarta, sebagaimana disalin dari Antara.

"Bila dirinci masing-masing, target produksi minyak 2017 sebesar 85.000 barel minyak per hari (BOPD) dan target produksi gas sebesar 1.041 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD)," kata Yodi.

Related posts