Ada Apa Saham Garuda "Digoreng"? - KEMEROSOTAN HARGA BUKAN SEKEDAR SENTIMEN GLOBAL

Jakarta – Sejak di awal perdagangan (11/2) hingga kemarin (22/2), harga saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) terus merosot. Lambat tapi pasti, terkoreksinya nilai saham maskapai penerbangan BUMN ini membuat banyak pihak mempertanyakan kemungkinan adanya indikasi "penggorengan" di Bursa Efek Indonesia (BEI). Artinya, bukan hanya sentimen negatif pasar regional dan global yang membuat terkoreksinya saham Garuda, namun ada pengaruh lain yang bertujuan negatif.

NERACA

Berdasarkan data transaksi di BEI, sejak perdagangan perdana saham Garuda (11/2) harga merosot menjadi Rp 620 dari harga IPO Rp 750 per lembar. Kemudian pada pekan berikutnya harga saham BUMN itu terus merosot menjadi Rp 590 (14/2), Rp 570 (17/2) dan kemarin melorot lagi menjadi Rp 520 per lembar.

Pengamat pasar modal Yanuar Rizki menilai, terkoreksinya harga saham Garuda bukan semata-mata karena sentimen pasar global, namun ada upaya sengaja untuk "menggoreng" saham Garuda. “Sejak dari awal saya melihat saham Garuda sudah dibuat murah dan janggal,”katanya kepada Neraca, Selasa (22/2).

Yanuar mengatakan, saham Garuda cenderung dipaksakan untuk dijual murah karena didalamnya terdapat penyertaan modal milik Bank Mandiri sebagai konversi utang Garuda. Oleh karena itu, jelas terkoreksinya harga Garuda ada upaya untuk "menggoreng" saham. Dimana, saat harga Garuda murah akan diborong oleh underwriter-nya, tetapi akan jual lagi ketika harga sudah mencapai tertinggi. “Kondisi Garuda yang sedang murah, investor perlu mewaspadai gejolak berikutnya,”ujarnya.

Sementara Kepala Riset PT Recapital Securities Pardomuan Sihombing membantah, bila terkoreksinya saham Garuda yang cukup dalam karena ada upaya "menggoreng" saham yang dilakukan underwriter untuk mencari keuntungan. “Tidak tepat kalau anjloknya Garuda karena ada aksi "penggorengan" saham,”tegasnya.

Menurut dia, melorotnya harga Garuda murni karena sentimen negatif pasar global akibat krisis politik Timur Tengah, khususnya negara Libya. Oleh karena itu, sangat tidak beralasan untuk disuspensi perdagangan saham Garuda hanya karena terus melorot tiap harinya.

Pardomuan mengatakan, dampak negatif krisis politik Libya mengerek harga minyak dunia. Tentunya dari dalam negeri memberikan imbas kepada kenaikan harga komoditi dan terlebih komoditas yang menggunakan minyak dunia, seperti maskapai penerbangan Garuda.

Selain itu, tidak dibenarkan adanya upaya "menggoreng" saham Garuda. Pasalnya, tidak hanya Garuda yang harganya terkoreksinya, tetapi hampir seluruh emiten di BEI mengalami hal yang sama. “Bila dilihat fundamentalnya, saham Garuda sangat bagus dan tidak perlu "digoreng" lagi,”tuturnya.

Kemudian, para investor pemilik saham Garuda diminta untuk tidak panik dan terlebih lepas saham karena harga yang turun. Namun kondisi ini akan harus dimanfaatkan untuk mengkoleksi saham Garuda lebih banyak lagi.

Hal senada juga disampaikan ekonom LIPI Agus Eko Nugroho. Dia melihat anjloknya harga saham Garuda dikarenakan kelangkaan minyak mentah dunia jadi harganya meningkat. “Karena harga minyak tinggi, investor pesimis melihat prospek profitabilitas ke depan. Saya pun pesimis dalam dua hingga tiga tahun ke depan, harga Garudabakal kembali ke harga IPO,” ujarnya.

Ada dua poin yang disampaikan ekonom LIPI ini untuk memperbaiki wajah Garuda. Pertama, utamakan dan optimalkan pelayanan pasar domestik. Kedua, segera realisasikan janji manajemen Garuda, dengan segera menambah armada serta rute baru. “Kesemuanya ini untuk meningkatkan profitabilitas dan keprofesionalan,” tuturnya.

Meski demikian, dia juga menduga kemungkinan besar ada permainan di kalangan internal, dalam hal ini tiga underwriter (Danareksa, Bahana, Mandiri Sekuritas) dan tentunya merugikan Garuda maupun negara.

Sedangkan ekonom UI Marwan Batubara lebih mengusulkan agar BEI mensuspensi saham Garuda. “Suspend dulu, lihat situasi, terus baru dijual. Selama suspend, galang seluruh BUMN/D supaya membeli saham Garuda,”tandasnya.

Sementara guru besar FE Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika melihat persoalan saham Garuda yang anjlok ada di internal Garuda sendiri. “Manajemen Garuda hingga sekarang kurang jelas arahnya. Seperti apa dan mau kemana. Sulit melihat fenomena Garuda sekarang. Harga Rp750 saja sudah rendah, pascaIPO pun makin melorot,”ceritanya.

Erani tidak yakin, jika anjloknya saham Garuda ini akibat ulah dari kalangan internal mereka sendiri. “Bodoh kalau memang benar. Dan itu harus segera diusut karena kerugiannnya akan besar,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN Mustafa Abubakar membantah tudingan telah melakukan intervensi kepadaunderwriterIPO PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), untuk mencairkan sejumlah dana dan pinjaman kepada sesama BUMN Sekuritas. "Pinjaman antar BUMN sekuriktas dilakukan oleh mereka sendiri, karena punya kiat masing-masing untuk saling menjaga. Kita tidak ada (intervensi),"tegasnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Seperti diketahui, terdapat sisa saham IPO GIAA yang tidak terserap investor sebanyak 3,008 miliar lembar dengan nilai Rp 2,25 triliun. Dimana 3 sekuritas BUMN harus menyerap secara tanggung renteng masing-masing Rp 752 miliar.

Khusus Danareksa Sekuritas, total pendanaan bersumber dari induk usahanya, PT Danareksa (Persero). Danareksa juga memberi dana segar kepada Bahana Securities Rp 200 miliar. Total yang dikucurkan Danareksa (Persero) mencapai Rp 950 miliar.

Sisa kebutuhan modal Bahana, didapatkan dari pinjaman money market dan interbank loan. Satu lagi pendanaan PT Mandiri Sekuritas Rp 752 miliar disuntikkaan oleh Bank Mandiri sebagai induk usaha. Kabar pinjaman Rp 1,7 triliun dana kepada 3 BUMN sekuritas sudah santer dibicarakan oleh para pelaku pasar.

Mustafa menyebut, segala proses IPO Garuda termasuk pembentukan harga saham perdana sudah memenuhi prosedur yang berlaku. Rp 750 merupakan harga terbaik untuk semua pihak.

"Bagi kami ini yang terbaik untuk semua," paparnya. ardi/bani

Related posts