Jor-joran Anggaran Negara Bisa Picu Inflasi - KONDISI JELANG AKHIR TAHUN 2011

NERACA

Jakarta— Menjelang akhir tahun ini, sejumlah kementerian maupun lembaga negara saling berkompetisi, alias jor-joran “menghabiskan” uang negara guna mendongkrak kinerja melalui penyerapan anggaran. Padahal langkah itu bisa memberikan efek besar, termasuk tekanan inflasi. Masalahnya, selain jor-joran anggaran, ada efek lain juga perlu diwaspadai yaitu liburan sekolah, perayaan Natal dan Tahun Baru.

Dengan adanya tiga situasi tersebut, bisa jadi Sementara untuk tahun depan, inflasi akan berada di kisaran 4,5%-5%. Tentu ini perlu dicermati, perkiraan Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi untuk year on year (yoy) mencapai 4,15%. Sedangkan inflasi untuk year to date (ytd) sebesar 3,2%. Padahal inflasi November 2011 sebesar 0,34%. Pemicunya, tiga faktor, yakni emas, cabai rawit, dan beras. Adapun perkiraan inflasi Desember 2011 berkisar 0,75%.

“Jelas dong, penyerapan anggaran negara saat akhir tahun bisa menjadi salah satu penyebab naiknya inflasi. Alasanya kondisi ini akan berdampak pada relatif tingginya permintaan domestik pada akhir tahun sehingga dapat menimbulkan tekanan inflasi dari sisi permintaan atau demand pull inflation,” kata ekonom LIPI, Agus Eko Nugroho kepada Neraca, Senin (12/12).

Namun menurut dia, ini inflasi Desember 2011 diperkirakan masih dalam ambang batas normal, alias bisa dikendalikan. “Tapi akan lebih baik lagi apabila inflasi dibawah 5%, sehingga perekonomian Indonesia akan lebih baik lagi,”terangnya.

Agus tak menampik jor-joran anggaran kegiatan akhir tahun kementerian dan lembaga negara bisa memberi warna inflasi. Apalagi ada libur sekolah, Natal dan Tahun Baru. Ditambah lagi gangguan cuaca. “Hal-hal ini memang bisa mengakibatkan inflasi tinggi, terutama pada kelompok bahan makanan pokok khususnya cabe merah dan beras. Dua komoditas ini penyumbang inflasi tinggi, sebesar 52,84%,” paparnya

Untuk itu, menurut dia, dalam rangka untuk meredam gejolak harga beras di pasaran, pemerintah dan instansi terkait harus menjaga ketersediaan bahan pokok,karena saat ini cuaca juga sedang tidak bersahabat dan bahan pokok adalah penyumbang inflasi tertinggi.

Hal yang senada juga diakui ekonom Danareksa, Purbaya Yudhi Sadewa, bahwa aksi jor-joran semua kementerian dalam menghabiskan APBN di akhir tahun akan memberikan inflasi. Namun dampak inflasi itu terlalu signifikan.”Ya, ada, tapi tidak terlalu berpengaruh,” ujarnya.

Purbaya juga tak menampik inflasi memang kerap terjadi pada Desember. Adapun yang memberi dampaknya adalah Natal dan Tahun Baru. “Seperti tahun-tahun sebelumnya, inflasi diakibatkan hal itu,” tegasnya

Malah, Purbaya memperkirakan, tingkat inflasi akhir pertahun bisa dikisaran 6%. Namun tetap terkendali. Masalahnya aksi-aksi spekulan bisa merubah segalanya. Karena mereka membuat pasar musiman yang memberikan sentimen negatif. ”Kalau keadaan normal, bisa segitu, tapi kita kan tidak tahu aksi-aksi spekulan nanti,” jelasnya.

Untuk itu, dalam memerangi aksi para spekulan ini, kata Purbaya, pemerintah diharapkan melakukan tindakan nyata untuk menghentikannya. Seperti dengan menerapkan operasi pasar misalnya, tentunya aksi para spekulan itu dapat diredam. ”Pemerintah ya harus sering-sering melakukan operasi pasar,” ungkapnya

Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengatakan, semua kegiatan akhir tahun dan penyerapan anggaran APBN tak akan meningkatkan angka inflasi yang berarti. Kecuali, bulan puasa, dan Lebaran. “Angka permintaan makanan dan minuman (mamin) tidak naik terlalu banyak. Paling-paling kenaikannya hanya 5%-10%, karena yang merayakan Hari Raya Natal dan Tahun Baru jumlahnya tidak sampai 10% dari jumlah penduduk,” katanya.

Menurut Franky, berbeda halnya dengan kondisi pada bulan puasa dan libur Lebaran, karena yang merayakan hari besar keagamaan itu mencapai 80% dari 241 juta penduduk Indonesia. “Kenaikan permintaan saat Lebaran lalu mencapai 20%, bahkan produk tertentu seperti sirup dan biskuit kenaikannya melebihi 100%,”terangnya

Tidak Sehat

Menurut Franky, kegiatan industri tidak akan meningkat secara tajam dibandingkan hari biasa, karena perayaan Natal, Tahun Baru dan libur sekolah itu tidak berlangsung lama.

Dengan kondisi permintaan akan makanan dan minuman yang meningkat 5%-10%, Franky yakin angka inflasi akan tetap bertahan pada kisaran 4%-5%. “Saya kira angka inflasi akan bisa terkendali di kisaran itu,” katanya.

Sementara menurut Direktur Eksekutif Indonesian Budget Center (IBC), Arif Nur Alam, ‘buang-buang’ anggaran menjelang akhir tahun membuktikan pengelolaan keuangan negara tak ada perubahan. “(Anggaran) cair di bulan Oktober-November. Mana mungkin bisa menyelesaikan proyek dalam waktu singkat? Tidak sehat APBN kita. Pemerintah berfikir yang penting anggaran habis. Inilah yang mengganggu pembangunan infrastruktur,” ujarnya kemarin.

Arif menegaskan, ada tiga hal yang harus dilakukan pemerintah agar APBN terserap baik di tahun depan. Pertama, koordinasi dan sinergi antarkementerian dan pemerintah pusat-daerah harus terjalin. Ini agar terjadi efektivitas penggunaan anggaran, mulai dari proses perencanaan sampai pemakaian anggaraan harus jelas. “Ini kan tidak. Banyaknya anggaran yang menumpuk, akibatnya muncullah istilah rekening gendut PNS. Itu baru satu kasus,” tambahnya.

Kedua, kata Arif lagi, jangan lakukan seremoni yang tidak penting, seperti melakukan kegiatan di hotel dan vila mewah. Memasuki Oktober anggaran turun, infrastruktur dibenahi dengan terburu-buru. Sehingga, terjadilah penumpukan penyelesaian proyek. iwan/ardi/ahmad/agus/cahyo

Related posts