Indikator Pembangunan Perlu Dirombak

NERACA

Jakarta – Kemauan kuat untuk menerapkan indikator ekonomi baru yang tegas menjadi tantangan parameter pertumbuhan ekonomi Indonesia 2012. Hal itu untuk menangkap realitas pembangunan di seluruh Indonesia secara fisik maupun manusia Indonesia. "Apa yang telah ditentukan dalam indikator lama, sudah saatnya dirombak dan disesuaikan dalam seperangkat indikator ekonomi yang baru," kata Dekan FEUI Prof. Firmanzah Ph.D kepada pers, Senin (12/12).

Menurut Firmanzah, seperangkat ekonomi yang baru tersebut diharapkan mampu menjawab perubahan dan tantangan jaman ke depan. Hal itu terutama terkait dalam upaya mendorong perbaikan kebijakan publik di Indonesia pada masa mendatang.

Lebih jauh kata Firmanzah, saat ini dimana perkeonomian zona euro terkapar rekor indeks bursa Indonesia terus megalami peningkatan, dan juga cadangan devisa dan investasi langsung asing (FDI) yang juga mencetak rekor surplus pada 2011.

Firmanzah mengatakan, lembaga kerja sama ekonomi dan pembangunan (OECD) memprediksi pertumbuhan ekonomi ndonesia pada 2012-2016 akan mencapai 6,6% yang merupakan pertumbuhan tertinggi diantara negara Asean lainnya yang rata-rata 5,6.

Dikatakan Guru Besar FEUI ini, kemajuan yang menggembirakan tersebut bukanlah tanpa tantangan dan ancaman, jadi perlu kehati-hatian dan kecermatan, mengingat pengalaman membuktikan bahwa seringkali pertumbuhan ekonomi tidak mencerminkan pertumbuhan riil manusia Indonesia.

Guru Besar FEUI lainnya, Prof. Dr. Aris Ananta mengatakan, tantangan lain yang dihadapi Indonesia adalah kesenjangan pertumbuhan ekonomi dengan melambannya sektor riil. “Terutama, itu disebabkan oleh tidak adanya instrumen kebijakan yang diarahkan untuk dapat memaksimalkan arus modal yang masuk ke sektor riil, sehingga pertumbuhan sektor tradable jauh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.

Hal senada juga diingatkan Prof. Dr. Sri Edi Swasono, kesenjangan pendapatan di negeri ini perlu menjadi perhatian bagi semua pengambil kebijakan nasional. “Kelompok miskin dan hampir miskin masih sangat besar. Mereka sangat rentan terhadap gejolak peningkatan harga kebutuhan dasar sandang, pangan dan papan,” ujarnya.

Dari fakta tantangan dan pertumbuhan yang tumpang tindih tersebut, FEUI akan menyelenggarakan kegiatan Research Day 2011 dan Indonesia Economic Outlook 2012, untuk meluruskan kembali dan mendorong tentang perlunya cara pandang, dan tindakan baru yang konkret dan tegas dalam pengukuran indikator ekonomi Indonesia yang baru di masa depan.

Sementara itu manajer riset FEUI Rizal E Halim mengatakan, Indonesia membutuhkan paradigma baru dalam membangun karena pembangunan yang dilakukan selama kurun waktu 10 tahun terakhir ternyata relatif tanpa perubahan."Struktur PDB tahun 2000 dibanding 2010 relatif tidak banyak berubah jika dilihat dari pola sebarannya berdasarkan sektor," ujarnya. **cahyo

Related posts