Perlu Antisipasi Cepat Terkait Harga Minyak

NERACA

Jakarta—Kondisi harga minyak dunia mulai tak bisa dikendalikan dan menuju level US$ 100/barel. Tentu saja ini membuat asumsi dasar dalam APBN 2012 perlu diwaspadai. Pemerintah harus mengantisipasi pergerakan harga minyak dan menyiapkan revisi APBN 2012. "Kita punya APBN di 2012 disitu kan (defisit) 1,53%. Kita sama-sama mengikuti, harga minyak tidak seperti yang dianggarkan. Yang kita anggarkan US$ 90, sekarang sekitar US$ 110," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Jakarta,12/12/11.

Diakui Agus, posisi APBN memang perlu diwaspadai. Masalahnya lifting minyak juga tak bisa dikejar. “Ini membuat kondisi APBN 2012 perlu diwaspadai terus, seandainya dalam waktu dekat tidak turun, dan kita juga tidak bisa kejar penerimaan gas atau lainnya, maka kita akan ajukan APBN-P," terangnya

Terkait defisit APBN-P 2011 yang ditargetkan sebesar 1,7%, Agus optimistis tercapai. Hal itu didasarkan dari banyaknya pencairan anggaran di kantor perbendaharaan negara.

"Bagaimana tahun-tahun sebelumnya, Desember banyak pencairan. Jadi 1,7% defisit akan tercapai," paparnya

Menurut Agus, akibat krisis Eropa yang belum usai pemerintah melebarkan kisaran pertumbuhan ekonomi tahun depan menjadi 6,5%-6,7%. Sebelumnya pemerintah pede ekonomi dapat tumuh 6,7% di 2012. "Secara budget 6,7% tahun depan. Tapi development yang terakhir kita kasih range 6,5-6,7%. Tapi seandainya kita betul-betul bisa atasi, misal pembebasan lahan, supaya memperbaiki infrastruktur itu tinggi," ungkapnya

Pada perdagangan Senin (12/12/2011), harga minyak mentah terkoreksi tipis. Minyak light sweet pengiriman Januari turun 18 sen menjadi US$ 99,23 per barel, sementara minyak Brent turun 16 sen menjadi US$ 108,46 per barel.

Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun dalam rilisnya mengungkapkan hingga 11 Desember 2011, konsumsi BBM subsidi telah mencapai 102,8% dari kuota subsidi yang telah ditetapkan atau sekitar 39,23 juta kiloliter (kl). Konsumsi tersebut terdiri dari 24 juta kl premium, 1,6 juta kl minyak tanah, dan 13,64 juta kl solar. "Kuota BBM bersubsidi total adalah 40,36 juta kl sampai akhir tahun, atau 38,15 juta kl per 11 Desember 2011. Dibandingkan dengan kuota per 11 Desember 2011, realisasi konsumsi yang terbesar terjadi pada produk premium yaitu mencapai 103,6%. Realisasi konsumsi solar mencapai 102,7%, sementara realisasi konsumsi minyak tanah mencapai 95,1%," katanya

Lebih lanjut kata Harun, realisasi konsumsi yang melebihi kuota terutama terjadi di beberapa di wilayah Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan. Dia juga memastikan stok dan pendistribusian tidak terdapat kendala yang berarti. Stok BBM saat ini mencapai 3,86 juta kl atau mencapai 20 hari. "Pertamina terus berusaha memastikan BBM bersubsidi terdistribusi dengan baik. Pada saat bersamaan Pertamina juga meminta instansi terkait untuk mencegah terjadinya penyelewengan penggunaan BBM,” pungkasnya. **cahyo

Related posts