Stabilitas Jadi Fokus Utama Pasar Keuangan

NERACA

Jakarta---Bank Indonesia terus mengamati bagaimana imbas langsung dari krisis global. Karena itu langkah antisipasinya adalah terus menerus menyeimbangkan dan menstabilkan pasar keuangan. "Fokus kita dalam situasi saat ini, bagaimana menyetabilkan pasar keuangan, untuk meningkatkan kepercayaan diri para pelaku pasar," kata Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono di Jakarta, Senin (12/12)

Lebih jauh kata Hartadi, dengan kondisi perekonomian global saat ini, maka ada investor yang beralih ke negara-negara dengan minat uang dinilai aman atau save heaven currency, sehingga membuat pasar keuangan utamanya pasar obligasi anjlok. "Policy kita lakukan aktivasi dua instrumen kita secara paralel, beli bond di second market, dan intervensi di pasar valas," tambahnya

Menurut Hartadi, pada saat pasar obligasi anjlok karena banyak investor menjual surat berharga negara (SBN) Indonesia, BI aktif membeli dan menjadikan SBN tersebut sebagai salah satu instrumen. "Jadi kita beli SBN dari para investor jangka pendek. Nah strategi seperti ini bisa stabilkan harga SBN dari kejatuhan yang cepat,”paparnya.

Diakui Hartadi, saat ini untuk sementara waktu sudah stabil. Padahal beberapa waktu nilai bond sempat menyentuh 9%. “Jadi stabil, sekarang sudah turun, yield return bond pernah naik 8%-9%, kita intervensi sekarang sudah membaik di kisaran 6,3%," tandasnya

Hartadi mengatakan, untuk rupiah yang dilepas membeli SBN tersebut diserap kembali dengan melepas valuta asing atau dolar AS dalam upaya membuat nilai tukar rupiah stabil akibat adanya investor yang menarik dananya. "Dengan dua strategi yang kita lakukan secara bersamaan tersebut bisa menstabilkan pasar keuangan," imbuhnya

Sementara itu, Direktur finance & Strategy Bank Mandiri, Pahala N.Mansury mengingatkan agar pelaku bisnis harus siap menghadapi persaingan dalam Asean Economic Community (AEC). "2015 nanti, para pelaku bisnis di Indonesia harus sudah mempersiapkan akan kedatangan AEC," katanya

Pahala melanjutkan, kedatangan AEC ini bisa menjadi peluang, namun bisa juga jadi tantangan untuk kita, selain itu para pemain juga diharapkan tidak ketar-ketir menghadapi AEC ini. Pasalnya dua tahun yang lalu, Indonesia memberlakukan AFTA (Asean Free Trade) dan CAFTA (china asean free trade) kita sempat kalang kabut dengan banyaknya barang-barang luar yang masuk dan tak banyak usaha-usaha mengalami kerugian atas hal ini.

Lebih lanjut, Pahala menyarankan agar tahun 2015 nanti agar negara-negara di ASEAN bisa terbuka sama hal yang dilakukan Indonesia saat ini. "Indonesia sendiri sudah mengalami keterbukaan, hal ini dapat dilihat dari banyaknya bank-bank asing yang masuk melalui pengambilan saham," tambah Pahala.

Dikatakan Pahala, berangkat dari dukungan fundamental ekonomi yang kuat dan struktur demografi yang sehat, maka pelaku bisnis Indonesia bisa memanfaatkan kawasan ASEAN yang semakin terintegrasi. “Perluasan jaringan produksi dan sumber daya alam yang melimpah tentu dapat menjadikan Indonesia sebagai salah satu basis penting di kawasan ASEAN,”terangnya

Sejalan dengan persiapan menuju ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2015, Bank Mandiri menyiapkan para nasabahnya untuk mempersiapkan hal tersebut mulai dari sekarang. "Acara ini diharapkan meningkatkan kepekaan para calon pemimpin bisnis terhadap tantangan yang akan dihadapi seiring beralihnya peta perekonomian global," lanjutnya.

Pada kondisi dimana tantangan dan kompetisi berjalan semakin ketat, perlu dilakukan regenerasi sejak dini. “Kami merasa perlu untuk memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan pelaku-pelaku bisnis yang handal, berwawasan international dan siap menghadapi kompetisi global yang semakin ketat,” pungkasnya. **bari/cahyo

Related posts