Suku Bunga Kredit Ditekan, Pertumbuhan Ekonomi Capai 6,7% - SELAIN OPTIMALKAN BELANJA PEMERINTAH

Jakarta - Kecemasan dan ketidakpastian krisis ekonomi tahun 2012 serta pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan akan berada 6,2%, ternyata tidak akan membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi dalam negeri direvisi lebih dalam. Bahkan Bank Indonesia (BI) optimistis pertumbuhan ekonomi tahun depan berkisar 6,3%-6,7%.

NERACA

Namun sayangnya, BI belum memperhitungkan jika seandainya mampu menekan perbankan menekan suku bunga kredit bank seiring dengan acuan suku bunga bank Indonesia (BI Rate) yang telah di pangkas hingga di level 6%. Pasalnya, suku bunga yang rendah akan lebih mendorong kucuran kredit pada sektor ril dan memberikan imbas positif bagi perputaran roda ekonomi nasional.

Menurut guru besar FE Univ.Brawijaya, Prof. Dr Ahmad Erani Yustika, masih enggannya perbankan Indonesia menyalurkan kredit untuk sektor riil lebih disebabkan oleh tingkat risiko yang cukup besar dari sektor tersebut sehingga pihak perbankan tidak mau masuk kesana. “Keengganan pihak perbankan terjadi karena rata-rata pengembalian pinjaman dari sektor riil tersebut berlangsung cukup lama atau boleh dikatakan macet,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Minggu (11/12).

Menurut dia, sebenarnya pihak perbankan tidak perlu khawatir dengan hal tersebut apabila pihaknya mau menurunkan suku bunga kreditnya dengan mengurangi biaya operasional (BOPO) sehingga lebih efisien dan hal ini salah satu penyebab kenapa pihak perbankan tidak bisa menurunkan suku bunganya.

“Pemborosan pihak perbankan sangat parah,sehingga pemborosan tersebut ingin dibebankan kepihak lain dan terlebih rata-rata rasio BOPO bank sudah tinggi yaitu 85%. Di Asia saja rasio perbankan itu hanya di bawah 65 %”tegas Erani.

Dia menambahkan, sesuatu yang tidak kalah pentingnya adalah struktur perbankan di Indonesia yang masih menganut “oligopoli” 10 bank besar saja yang bermain, sehingga suku bunga dan kredit untuk sektor riil sulit terealisasikan.

Asal tahu saja, perbankan dalam pembiayaan sektor riil dinilai penting. Sebab, perlambatan ekonomi global akan berdampak pada kinerja ekspor (sektor riil)."Memang dampak pada sektor riil belum kelihatan. Pada tahun 2012 akan terasa dampaknya. Perekonomian 2012 yang semula diperkirakan tumbuh 6,7 %, kini diperkirakan tumbuh hanya 6,5 %, karena ada pengaruh penurunan ekonomi global terhadap ekonomi kita. Sehingga antisipasi perlu kita lakukan," jelasnya.

Berbeda dengan pengamat ekonomi UGM Sri Adiningsih yang menyatakan, penurunan suku bunga tidak akan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Walau dengan penurunan suku bunga tersebut dapat meningkatkan investasi. “Mungkin ada perubahan, tetapi tidak signifikan,” ujarnya.

Selain itu, faktor infrastruktur yang buruk juga akan menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karena tidak akan dilirik investor, akibatnya, banyak bank yang enggan mengucurkan dana kredit kepada nasabahnya. Karena dalam mengucurkan dana investasi misalnya, semua bank pasti ingin memperoleh keuntungan kecuali, kalau ada proyek untung dan aman.

Kendati demikian, Sri menilai target BI akan pertumbuhan ekonomi di atas 6% tahun depan bukanlah yang mustahil dicapai, bahkan kemungkinan pertumbuhan ekonomi tahun depan akan melebihi angka yang ditergetkan, dengan catatan, ekonomi dunia (Amerika dan Eropa) yang kini tengah krisis mampu pulih. Kalau tidak, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan berubah secara signifikan dari saat ini.

Maka dari itu, pemerintah seharusnya mampu menangani krisis yang terjadi. “Tapi kan, hingga saat ini kondisi ekonomi dunia masih tidak menentu, dan tidak ada yang berani menjamin kalau tahun depan telah usai,”jelasnya.

Perlu Sigle Digit

Bicara soal suku bunga, ekonom LIPI Agus Eko Nugroho mengatakan bahwa BI tidak bisa menetapkan suku bunga kredit karena spread antara deposito dan suku bunga kredit sebesar 5%. “Kalau bunga deposito sebesar 7% maka suku bunga kredit akan menjadi 13%-14%,” katanya.

Oleh karena itu, Agus Eko meminta agar sukubunga kredit bisa menjadi single digit, maka bank sentral harus menurunkannya lagi menjadi 5%. “Kalau BI ingin mendorong sukubunga kredit menjadi single digit maka sukubunga acuan BI Rate harus diturunkan menjadi 5%,” tuturnya.

Meski demikian, Agus Eko melihat bahwa berat kemungkinan BI bisa menurunkan suku bunga menjadi single digit, karena banyak faktor yang mempengaruhi tingkat sukubunga, termasuk angka inflasi yang di luar kendali bank sentral. Bahkan upaya pemerintah yang berhasil menurunkan angka inflasi menjadi 4,15% merupakan suatu prestasi yang luar biasa. Namun ironisnya, kondisi tersebut belum berhasil menjadi pemicu turunnya tingkat suku bunga.

Menurut Agus, upaya untuk menurunkan tingkat sukubunga kemungkinannya sangat kecil untuk bisa terwujud. Karena dari BI sendiri tidak mempunyai inovasi yang bisa mendorong penurunan suku bunga.

Inovasi yang dimaksudkan Agus Eko adalah pemberian stimulan untuk mendorong penurunan sukubunga itu a.l. dengan menurunkan capital adequacy ratio (CAR) bank-bank yang sehat dari 18%-20% menjadi 16%-17%. Sementara untuk aset yang berisiko juga tidak terlalu diperlakukan secara ketat tergantung tingkat kesehatan banknya.

Menurut dia, spread antara deposito dan bunga kredit sebesar 4%-5% karena hal itu berkaitan dengan cost of fund yang tinggi, selain premi asuransi yang harus dibayar oleh bank juga relatif tinggi. Kemudian kondisi non performing loan (NPL) perbankan juga menjadi acuan bagi perbankan untuk bisa menurunkan tingkat sukubunganya.

Selain itu, menurut dia, optimalisasi penyerapan anggaran pemerintah untuk belanja modal pada sektor infrastruktur akan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lebih maju lagi dan hal ini juga akan memberikan stimulasi bagi investor swasta untuk investasi di Indonesia.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono mengatakan, pertumbuhan ekonomi dalam negeri tahun depan bisa masih positif dan bahkan bisa lebih tinggi, “Masih ada ruang pertumbuhan ekonomi berada diatas 6,7%, jika semua sumber pertumbuhan ekonomi terus digenjot salah satunya optimalisasi penyerapan belanja pemerintah,”katanya di Bali, akhir pekan lalu.

Keyakinan masih ada ruang pertumbuhan ekonomi tahun depan, kata Hartadi bisa dilakukan jika seluruh sumber pertumbuhan ekonomi terus di optimalkan. Salah satunya, mendorong perbankan lebih banyak mengucurkan kredit kepada sektor yang lebih produktif ketimbang kucuran kredit pada sektor konsumtif.

Dia melihat, pertumbuhan kredit tahun depan berkisar 27% atau tumbuh pesat dengan target tahun ini 22%. Kendatipun demikian, dirinya melihat pertumbuhan kredit tahun ini dinilai masih rendah terhadap PDB sebesar 60% bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia sudah diatas 100%.

Kemudian industri perbankan dalam negeri dinilainya juga masih sehat. Dimana kecukupan modal (CAR) masih aman sebesar 17% dari yang disyaratkan 18%. Sementara untuk non performing loan (NPL) 3% dari yang disyaratkan 5%.

Klaim pertumbuhan ekonomi dalam negeri sebesar 6,5% tahun ini atau masih yang terkuat di regional setelah Cina sebesar 9%, dijelaskan Hartadi tidak bisa lepas dari kebijakan moneter yang dilakukan BI selama ini dengan trade off berupa pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi di iringi dengan inflasi yang rendah, “Biasanya menekan inflasi rendah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi sulit dilakukan BI, tetapi kini berhasil dilakukan,”ujarnya.

Kondisi tersebut tidak bisa lepas dari kordinasi dengan pemerintah berupa menyimbangi kombinasi biaya ekspor murah dan pasokan bahan pokok. Bahkan selama kondisi tersebut, BI, kata Hartadi tidak mengubah interest rate yang selama ini sudah terpangkas dan berada di level 6%. iwan/ahmad/agus/bani

Related posts