Pertamina Jamin Pasokan BBM - Terkait Kecemasan Turunnya Stok

NERACA

Jakarta----Kekhawatiran terhadap menyusutnya pasokan Bahan Bakar Minyak. Karena persediaan minyak diperkirakan hanya sampai akhir Desember 2011 langsung dibantah PT Pertamina. Bahkan Pertamina tetap menjadi adanya BBM bersubsidi. "Nanti jika BBM bersubsidi distop, kolaps perekonomian kita. Jadi kita tidak mungkin berhenti. Kita tetap memasok," kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Mochamad Harun kepada wartawan di Jakarta.

Menurut Harun, stok premium masih aman karena pihaknya tetap menjaga pasokan hingga 20-22 hari. "Dari sisi stok, kita tetap maintenance stok di 20-22 hari. Cuma dalam pendistribusiannya kita tidak ingin terlampaui terlalu jauh," terangnya.

Lebih jauh Harun menambahkan, pihaknya masih menunggu kuota tambahan yang sedang diajukan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). "Tapi untuk kebutuhan real masyarakat, kita tetap akan menyalurkan. Estimasinya sekitar 1,5-1,8 juta KL," jelasnya.

Karena itulah, lanjut Harun, pihaknya berharap pemerintah mampu memberikan solusi yang terbaik untuk masyarakat trerkait BBM bersubsidi ini. "Semangatnya kita ingin solusi lah. Kita tidak mau kalau kuota habis terus mayarakat tidak dapat BBM," imbuhnya

Sementara itu, harga minyak dunia menanjak setelah para petinggi Uni Eropa mengambil kebijakan untuk perketat anggaran dalam menghadapi krisis. Harganya kembali menembus US$ 100 per barel.

Harga minyak light sweet untuk pengiriman Januari di kontrak utama New York, mengakhiri perdagangan di posisi US$ 99,41 per barel, naik US$ 1,07 per barel dari penutupan hari sebelumnya.

Dari London dilaporkan harga minyak jenis Brent North Sea untuk pengiriman Januari bertambah 51 sen untuk berhenti di posisi US$ 108,62 per barel. Para pialang komoditas sepertinya optimistis Uni Eropa sudah mengambil kebijakan yang tepat dalam menanggulangi krisis utangnya yang hampir menghancurkan ekonomi di 17 negaranya tersebut. Setelah dalam dua tahun terakhir mengalami krisis utang, 26 dari 27 negara Uni Eropa sudah sepakat untuk mengikuti aturan fiskal yang baru dalam rangka menghadapi krisis.

Hanya satu negara yang tidak ikut sepakat dalam kebijakan fiskal baru itu, yaitu Inggris. "Inggris dari dulu sudah tidak mau ikut (memakai mata uang) euro. Makanya, kita sudah terbiasa dengan (penolakan) seperti ini," kata Kanselir Jerman Angela Merkel.

Harga minyak mengawali perdagangan yang lesu dan sempat terkoreksi. Namun, akhirnya berhasil bangkit kembali menjelang penutupan perdagangan. Para pialang komoditas juga masih menunggu hasil pertemuan Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC). Banyak anggotanya yang menyatakan tidak ada perubahan dalam target produksi, meski ada perlambatan dari sumur-sumur minyak di Libya.

Related posts