Inflasi Diperkirakan 6% Pada 2012

NERACA

Jakarta---Perkiraan tekanan inflasi pada 2012 kemungkinan besra masih tinggi. Apalagi ada rencana pembatasan BBM bersubsidi. Sehingga kemungkinan berubah bisa naik turun. "Angkanya masih berkisar antara lima hingga enam persen, bahkan pemerintah juga masih pakai inflasi 5,3% di asumsi APBN 2012. Ekspektasi tersebut tentu akan berubah, bisa naik, bisa turun," kata ekonom Mirza Adityaswara kepada wartawan di Jakarta, (9/12).

Menurut Mirza, Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini, pengurangan volume BBM bersubsidi, serta naik atau turunnya harga komiditas memberikan ketidakpastian angka inflasi 2012. “Maka dari itu, sudah betul BI kemarin tidak menurunkan rate nya karena inflasi ekspektasi masih agak tinggi," terangnya

Mirza mengakui ketidakpastian angka ekspetasi inflasi ini membuat kebijakan bank sentral dalam menahan suku bunga acuan alias BI Rate sudah tepat. "BI rate harus juga melihat ekspektasi inflasi, bukan hanya inflasi yang sudah terjadi,”ungkapnya.

Dikatakan Mirza, rkspektasi tersebut tambahnya masih akan berubah dan bisa naik dan juga bisa turun. Tergantung dari naik turun nya harga komoditas dan realisasi pengurangan volume subsidi BBM.”"Inflasi tahun depan dikisaran 5%-6%.BI rate tentunya juga harus melihat ekspektasi inflasi, bukan hanya inflasi yang sudah terjadi," pungkasnya.

Berdasarkan catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi untuk November 2011 sebesar 0,34% dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat deflasi sebesar 0,12%. Adapun pemicu inflasi bulan ini karena disokong tiga faktor, yakni emas, cabai rawit, dan beras

Sementara itu, Ekonom dari Universitas Atmajaya, A Prasentyatoko mengatakan kebijakan BI menahan suku bunga acuan atau alias BI rate dipandang pantas sebagai sesuatu yang wajar. Karena ekspetasi inflasi pada 2012 masih cenderung meningkat. "Langkah BI menahan BI rate di level 6% karena mengantisipasi inflasi tahun depan yang berpotensi meningkat," ujarnya.

Selain itu, kata Prasetyantoko, tekanan inflasi ini bisa berubah-ubah dan bisa naik dan juga bisa turun. Tergantung dari naik turun nya harga komoditas dan realisasi pengurangan volume subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas BI Difi A Johansyah menjelaskan, rendahnya inflasi volatile food prices terutama ditopang oleh pasokan yang terjaga, baik dari produksi domestik maupun impor. "Jika kecenderungan penurunan inflasi ini berlanjut, maka inflasi IHK secara keseluruhan 2011 diperkirakan dapat lebih rendah dari empat persen," tuturnya

Meskipun beras mencatat inflasi yang cukup tinggi, kata Difi lagi, namun koreksi harga yang cukup besar terjadi pada aneka bumbu, seperti bawang dan cabe merah, serta pada kelompok daging. "Penurunan inflasi sepanjang 2011 terjadi karena koreksi inflasi volatile food prices dan minimalnya inflasi administered prices, sementara inflasi inti cenderung moderat," tambahnya

Direktur Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia (BI), Rizal Jafara

mengaku belum mengkaji kenaikan angka inflasi jika pemerintah menaikkan harga BBM subsidi sebesar Rp1.000 per liter dan mobil mewah dilarang menggunakan BBM subsidi.

"Kalau naik Rp500, premium naik semua sudah dikaji. Tapi kalau (naik) Rp1.000, mobil mewah (dilarang gunakan BBM subsidi), belum lihat," ungkapnya

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk inflasi akhir tahun sendiri memang ada kecenderungan naik. Hanya dia tidak bisa mengatakan berapa kenaikannya. Namun, menurutnya lebih mirip inflasi akhir tahun pada tahun-tahun sebelumnya. "Historical-nya berapa, saya lupa, tinggal November dan Desember, bisa setengah persen pada Desember, November cek lagi deh, ambil rata-ratanya saja," pungkasnya. **cahyo

Related posts