BI : Ekonomi Tumbuh Sekitar 6,3-6,7% di 2012

NERACA

Jakarta----Bank Indonesia (BI) memperkirakan gerak pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 6,3%-6,7% pada 2012. Alasanya melambatnya perrtumbuh ekonomi global ikut mempengaruhi. "Momentum penurunan suku bunga di November lalu, dari 6,5% menjadi 6% akan mengefektifan stimulus pada perekonomian," ujar Kepala Humas BI Difi A Johansyah kepada wartawan di Jakarta,8/12.

Berdasarkan catatan Bank Sentral, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal IV ini diperkirakan akan tetap sebesar 6,5%. Sehingga pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan (year on year) juga tetap berada di angka 6,5%. "Sementara itu, nilai tukar rupiah selama 2011 mengalami apresiasi meski pada semester dua mengalami tekanan depresiasi akibat memburuknya sentimen terkait gejolak di pasar keuangan," tambahnya

Terkait dengan cadangan devisa Indonesia di akhir November 2011, Bank Sentral menyebut masih sekitar USD111,3 miliar atau setara dengan 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. "Di sisi harga, pada 2011 diwarnai oleh inflasi yang menurun. Inflasi pada November 2011 tercatat sebesar 0,34% (month to month) atau 4,15% (year on year). Penurunan inflasi sepanjang 2011 terjadi karena koreksi inflasi volatile food prices dan minimalnya inflasi administered prices, sementara inflasi inti cenderung moderat," terangnya

Stabilitas sistem perbankan, lanjutnya, juga tetap terjaga dengan fungsi intermediasi yang membaik, meski sempat terjadi gejolak di pasar keuangan. Rasio kecukupan modal perbankan masih di atas delapan persen dan NPL di bawah lima persen dengan pertumbuhan kredit hingga akhir Oktober mencapai 25,7%.

Ditempat terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menilai terjadinya penurunan ekspor di 2012 tidak akan menggerus pertumbuhan ekonomi. Alasanya, kontribusi ekspor terhadap Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) di Indonesia masih terbilang kecil.

Hatta Rajasa menambahkan kontribusi ekspor terhadap PDB Indonesia hanya 25% dan ini jauh berbeda dengan Malaysia yang mencapai 80%, serta Singapura yang mencapai 200%. "Yang paling penting adalah kita cermati ekspor melemahnya permintaah China dan India, tapi kontribusi ekspor terhadap PDB kita rendah kok," paparnya

Lebih jauh kata Hatta, dengan kecilnya kontribusi ekspor terhadap PDB, maka tidak akan menurunkan angka pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Selain itu, Hatta mengatakan pemerintah akan menjaga konsumsi domestik dan menjaga volatile foods agar permintaan dalam negeri tidak tergerus. "Kita setuju jangan terlalu bergantung sama konsumsi domestik, tapi akan terus kita jaga," imbuhnya

Ditempat terpisah, Kepala Bappenas Armida Alisjahbana mengatakan ekspor akan tetap tumbuh, karena Indonesia juga melakukan ekspor ke negara berkembang, dimana demand negara tersebut tidak terganggu karena adanya krisis global ini. "Ekspor sangat dipengaruhi permintaan kan. Kalau negara yang akan meminta barang dari indonesia macam Eropa, pasti akan berkurang prmintaannya," ujarnya

Armidah menambahkan, perlambatan ekspor ini akan memang menganggu pertumbuhan ekonomi, namun masih akan tertutup dengan kenaikan investasi yang terus diupayakan pemerintah. "Berarti investasi harus tetap kita upayakan tumbuh 2011. Nah itu kemungkinan akan berdampkan pada pertumbuhan ekonomi 0,2% Tapi itu dari satu sisi, ingat kalau Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) itu dari berbagai sumber," tegas Armida.

Karenannya, dia optimis angka pertumbuhan ekonomi pada 2012 masih akan tetap tercapai. "Memang jadi lebih berat. Oleh karena itu sumber sumber pertumbuhan yang bisa kita jaga dan genjot supaya 6,7% bisa tercapai," pungkasnya. **cahyo

Related posts