Jatah Premium Cuma Sampai Akhir Desember

NERACA

Jakarta---Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksi kuota BBM subsidi akan habis setelah pekan ketiga Desember 2011. Alasanya hal ini sebagai akibat borosnya konsumsi BBM subsidi yang ditetapkan dalam APBN-P 2011 sebesar 40,49 kiloliter. "Melihat kuota sekarang, kemungkinan akan habis di Minggu ketiga Desember ini," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM, Evita H Legowo, di Jakarta, Rabu.

Oleh karena itu, lanjut Evita, pemerintah kemungkinan besar menambah sekitar 500.000 hingga 1 juta kiloliter BBM subsidi hingga akhir 2011. "Jadi besar kemungkinan akan ada tambahan kuota BBM hingga akhir tahun sebesar 500-1 juta kiloliter," tambahnya

Terkait kekurangan kuota BBM tersebut, kata Evita lagi, pemerintah akan membicarakan dengan DPR, apakah masih dimungkinkan untuk penambahan pasokan BBM atau dengan opsi lain. "Kita akan bicarakan terlebih dahulu dengan DPR bahwa kuota ini tidak akan cukup hingga akhir tahun," paparnya

Evita melanjutkan bahwa pembicaraan dengan DPR itu tidak harus dalam bentuk rapat kerja, melainkan hanya pertemuan biasa. Sebab hal itu tidak diatur dalam UU APBN. "Tidak harus dalam bentuk rapat kerja karena memang dalam UU APBN 2011 tidak ada," katanya.

Mengomentari keengganan Kementerian Keuangan yang tidak mau menalangi penambahan BBM subsidi, Evita merasa keberatan. "Negara ini negara `bereng-bareng`, jadi harus ada penyelesaian dan mudah-mudahan bisa," ujarnya.

Sementara itu, pemerintah meyakinan bahwa pasokan BBM sampai dengan pekan ketiga Desember ini masih bisa dipenuhi dan setelah itu akan habis. Untuk diketahui, sesuai dengan APBN-P 2011, kuota BBM subsidi ditetapkan sebesar 40,49 juta kiloliter.

Sementara itu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan kelebihan pemakaian kuota BBM bersubsidi terjadi karena naiknya harga minyak dunia yang meningkat. Artinya, ada perbedaan harga ICP dalam APBN 2011 dengan realisasinya. Kuota BBM subsidi pada 2011 hanya 40,4 juta kiloliter (kl). Harga ICP yang tertera dalam APBN adalah USD95 per barel, sedangkan realisasinya di atas USD111 per barel. "Sebetulnya komponen utama terjadinya kelebihan itu adalah karena faktor ICP, jadi komponen itu adalah komponen yang utama," katanya

Menurut Agus, guna menindaklanjuti kelebihan kuota ini dia akan melakukan pertemuan koordinasi di pemerintah untuk menanyakan tentang bagaimana upaya upaya pengendalian BBM bersubsidi. "Bagaimana upaya untuk bekomunikasi dengan DPR untuk menjelaskan tentang kinerja PLN, karena PLN ada rencana di 2012 ada penyesuaian harga kan," jelasnya.

Mantan Dirut Bank Mandiri ini menambahkan, masalah ini nantinya akan dibahas kembali bersama DPR RI dan akan kembali di-review, untuk menemukan jawaban atas kelebihan pemakaian kuota BBM ini.

Sedangkan ekonom UGM, Anggito Abimanyu meminta pemerintah perlu melakukan pembenahan mendasar dan besar-besaran pada pengelolaan (manajemen) energi primer agar tingkat konsumsi energi bisa terjaga dan kuota BBM bersubsidi tidak terus terlampaui.

Dia menilai, sejak awal perencanaan dan penentuan kuota BBM bersubsidi pada tahun ini, pemerintah telah menyadari bahwa besaran kuota BBM bersubsidi akan terlewati jika tidak dilakukan upaya-upaya membatasi konsumsi energi dalam negeri. “Kuncinya saya lihat pada manajemen energy primer dan ini harus dibenahi, tidak bisa tidak,” tegasnya

Menurutnya, pada saat perencanaan subsidi BBM, pemerintah seharusnya tidak hanya menentukan besaran target kuota saja. Pemerintah perlu menentukan langkah-langkah untuk pembatasan tingkat konsumsi energy nasional, tidak hanya untuk transportasi, tapi juga untuk kebutuhan listrik oleh PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN). **cahyo

Related posts