Butuh Paradigma Baru Dalam Pembangun

NERACA

Depok--Indonesia tampaknya membutuhkan paradigma baru dalam mengejar percepatan pembangun. Masalahnya, pembangunan yang dilakukan dalam 10 tahun ternyata relatif tanpa perubahan. "Struktur PDB pada 2000 dibanding 2010 relatif tak banyak mengalami perrubahan dilihat dari pola sebarannya berdasarkan sektor," kata ekonom FEUI, Rizal E Halim kepada wartawan di Jakarta,7/12.

Lebih jauh Rizal mengakui pertumbuhan Indonesia pada 2010 cukup menggembirakan dengan angka 6,1%. Namun perlu lebih ditelusuri sumber angka pertumbuhan tersebut. Karena berdasarkan laporan Badan Puat Statistik, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2010 lebih disebabkan oleh pertumbuhan sektor "nontradable" seperti keuangan dan jasa lainnya (8,9%).

Tentu saja, kata Rizal, dapat mendistorsi makna pertumbuhan itu sendiri karena dapat menegasikan sektor tradable yang notabene penggerak sektor riil. Ini juga alasan mengapa pertumbuhan indonesia mengangumkan, tetapi ekonomi di sektor riil relatif tak bergeming.

Rizal menambahkan bagaimana indikator yang digunakan berpotensi bias yakni berita naiknya investasi (baik PMA maupun PMDN) periode januari-september 2011 yang menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan di angka 15%, namun konsentrasi investasi sebagian besar di jawa (55%) dan sumatera (17%).

Selain itu katanya terkonsentrasinya investasi di Jawa dan Sumatera juga bisa mengurangi makna pertumbuhan investasi karena investasi yang terkonsentrasi tersebut hanya akan menyisakan disparitas wilayah sehingga target pemerataan pembangunan semakin terhambat. "Indonesia butuh memperbaharui paradigma pembangunan ke depan. Butuh ukuran-ukuran yang lebih konkrit dalam memahami realita sebenarnya," ujarnya.

Menurut Rizal, guna menyelaraskan kinerja pembangunan. Maka FEUI akan mengadakan Research Day 2011 pada Selasa (13/12) untuk membahas masalah peluang dan tantangan perekonomian di Indonesia pada 2012 mendatang. "Bagaimana seharusnya menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan pembangunan nasional, ini akan kita jelaskan alam acara tersebut," tuturnya

Dalam kegiatan reserach day tersebut akan dipaparkan perlunya memutakhirkan paradigma pembangunan Indonesia agar tidak terjebak pada indikator tradisional (pertumbuhan pdb, kurs,indeks gabungan, dll) yang berpotensi bias jika tidak disertai ukuran-ukuran lainnya. Selain itu FEUI juga akan memberikan pemaparan tentang proyeksi ekonomi Indonesia 2012 ditengah turbulensi pasar yang semakin tidak menentu.

Sementara itu, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengataka ekonomi Indonesia dapat tumbuh di kisaran delapan persen hanya dengan membubuhkan tiga tanda tangan. "Indonesia saat ini hanya mematok pertumbuhan sebesar 6,5% padahal pertumbuhan kita bisa saja menjadi 8%," terangnya saat menghadiri “Komodo the seven wonders, what’s next” di Universitas Paramadina, Jakarta,7/12.

Adapun cara yang paling mudah, kata JK lagi, hanya dengan menandatangani tiga peraturan. "Kita hanya butuh tiga tanda tangan untuk mewujudkan hal tersebut, yaitu dengan menaikkan harga BBM, kurangi overhead (pengeluaran tambahan) pemerintah, dan perbaiki sistem pajak," ungkapnya.

JK menambahkan pemerintah sebenarnya tidak perlu memberikan subsidi kepada BBM."Kenapa ada subsidi? Harusnya tidak ada, ini semua masalah keputusan," imbuhnya.

Lebih lanjut JK mengungkapkan, jika BBM dinaikkan menjadi Rp7.500 per liter, maka pendapatan negara dari BBM akan naik Rp120 triliun. Untuk mewujudkan ada tiga syarat bagi pemerintah yaitu, tujuannya harus jelas, menguntungkan semua orang dan jangan ada kepentingan pribadi. Dengan cara-cara itu, maka bangsa akan mudah dimajukan. **sahlan/cahyo

Related posts