Mencetak Generasi Cerdas Dan Keuntungan - Bisnis Pendidikan:

Neraca. Tak ada orang tua yang menginginkan pendidikan anaknya rendah. Bahkan semua orang tua dengan senang hati mengeluarkan dana tambahan, hanya untuk pendidikan buah hatinya. Berapapun biaya yang dibutuhkan untuk pendidikan sang anak, akan mereka penuhi agar putra-putri kesayangan mereka menjadi anak yang cerdas dan pintar dengan mengenyam pendidikan yang cukup.

Saat ini, bukan hanya pendidikan formal saja yang menjadi konsentrasi para orang tua. Guna menunjang bakat dan keterampilan sang anak, banyak orang tua yang memberikan pendidikan tambahan bagi putra-putrinya diluar jam sekolah. Semangat dan dorongan dari para orang tua yang seperti itu, menjadikan bisnis pendidikan non formal menjadi peluang usaha yang prospeknya sangat bagus. Hal ini pula yang membuat bisnis pendidikan sekarang semakin menjamur diberbagai daerah di Indonesia.

Bidang pendidikan merupakan lahan empuk dan subur untuk dijadikan bisnis. Karena menurut pakar bisnis, ada dua bidang bisnis yang tidak akan pernah mati, dalam keadaan perang sekalipun; yaitu, pendidikan, dan kesehatan. Orang takut bodoh, karena bodoh berakibat miskin. Begitu juga orang tidak mau sakit, maka apabila sakit maka akan membla-belain mengobati penyakitnya demi mendapatkan kesembuhan.

Ada sebutan bagi bisnis pendidikan yaitu Edu Preneurship. Dimana pendidikan menjadi lahan basah untuk berbisnis. Bisnis di bidang pendidikan bersifat padat modal, mahal dan jangka panjang.

Untuk menilai sukses tidaknya bisnis pendidikan tidak bisa ditentukan oleh bilangan tahun, karena orang perlu bukti. Bayangkan, untuk bisnis sekolah tingkat SD, paling tidak indikator berkualitasnya sekolah tersebut, dilihat dari lulusannya. Berati harus nunggu selama enam tahun untuk mendapat kepercayaan masyarakat. Tapi bisa juga berkualitas dilihat dari proses pendidikannya, input yang diberikan kepada siswa, juga hasil berupa kemampuan kognitif, apektif dan psikomotorik siswa.

Bisnis pendidikan non formal cukup luas, dengan target pasar mulai para balita umur enam bulan sampai lima tahun, anak-anak umuran SD, SMP, dan SMA, sampai para mahasiswa yang membutuhkan pendidikan tambahan diluar jam kuliah mereka.

Bisnis pendidikan adalah bisnis kepercayaan, maka sekalinya dipercaya image itu akan melekat pada lembaganya. Tidak perlu mencari siswa, tapi orang tua lah yang berbondong-bondong mencari lembaga semacam itu. Sehingga percaya gak, ada sekolah di bintaro yang waiting list-nya hingga tiga tahun.

So sekolah tersebut tidak pernah membuka pendaftaran, seringnya juga menutup pendaftaran. Padahal harga uang pangkal untuk masuknya saja senilai biaya semesteran di UIN sampai lulus. Jadi kalau mau masuk Play Group harus daftar sejak bayi dalam kandungan. Alamak.

Kalau diperhatikan, sekarang ini bisnis pendidikan makin subur dan menjamur. Dengan menu jualan yang bervariasi seperti, bilingual, full english, lebel IT (Islam terpadu), label Plus, kurikulum Cambridge, dll membuat sekolah seperti perusahaan, profit oriented. Salahkah? tentu tidak. Tapi ada hal yang ekslusif bahwa sekolah-sekolah tersebut hanya untuk kalangan berduit, borjuis bukan untuk orang miskin.

Kualitas sebanding dengan harga, benar adanya. Tapi kalau pendidikan membuat kastanisasi kehidupan, pemenuhan otak, namun pengeringan hati, patut dipertanyakan; bahwa pendidikan telah kehilangan rohnya. Kini di dunia pendidikan tidak bisa lagi diajarkan toleransi, saling menghargai dan saling membutuhkan. Lho bagaimana mau toleransi, saling menghargai dan saling membutuhkan karena di suatu sekolah siswanya bersifat homogen. Kaya, kaya semua. Miskin miskin semuanya. Di suatu sekolah hanya ada satu agama tertentu saja.

Namun siapa yang peduli? tidak ada. Apalagi kini, yang terjadi adalah leberalisasi pendidikan. Siapa saja boleh mendirikan dan mengadakan pendidikan. Bahkan pendidikan luar negeri pun dengan mudah bisa masuk ke sini. Undang-undang BHMN bagi perguruan tinggi yang dibatalkan oleh MK menunjukan wajah pendidikan kita sebenarnya, liberal. Inilah moment untuk berbisnis bidang pendidikan. Bisnis pendidikan sebagai provit oriented.

Bisnis pendidikan itu tidak pernah rugi. Andai sekolah yang sudah berjalan lima tahun bubar, tidak ada murid satu pun, itu pun tidak akan rugi, tetap untung. Caranya? nilai propertinya selalu naik, jual aja.

Dan satu hal yang perlu diingat, bisnis pendidikan menelorkan banyak turunan. Seperti guru, buku, ATK, catering, jemputan, lembaga bimbingan belajar, dll. Bahkan kini lembaga pendidikan menjadi market bagi promosi sebuah produk. Berkedok sponsorship dan kerjasama produk makanan, kesehatan, olahraga, bimbel, menjadikan sekolah sebagai tujuan promosi. Terjadilah barter produk, dan bagi owner sangatlah jelas, bahwa ini sangat menguntungkan dan menambah pundi-pundi pendapatan.

Salah satu sektor bisnis yang dinilai punya potensi besar mendulang profit besar adalah bidang pendidikan. Sektor ini tak rentan dengan kondisi perekonomian yang buruk. Dapat dikatakan, hampir seluruh masyarakat memahami bahwa pendidikan merupakan salah satu kebutuhan primer masyarakat.

Pendidikan sudah menjadi investasi! Betapa tidak! Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi tingkat status sosialnya. Semakin tinggi tingkat pendidikan juga, maka semakin besar peluang mendapatkan pekerjaan yang sesuai keterampilan atau keahlian pendidikan yang dicapainya.

Related posts