Keistimewaan Bangunan Banua Mbaso

Keistimewaan bangunan Banua Mbaso memiliki arsitektur yang cukup unik dan artistik. Uniknya, rumah ini berbentuk panggung yang merupakan perpaduan antara arsitektur rumah adat (Bugis) di Sulawesi Selatan dan rumah adat di Kalimantan Selatan. Bangunan rumah ini ditopang oleh sejumlah tiang kayu balok persegi empat dari kayu-kayu pilihan yang berkualitas tinggi, seperti kayu ulin, bayan, atau sejenisnya. Sehingga bangunan rumah ini dapat bertahan sampai ratusan tahun. Atap bangunan ini berbentuk piramida segitiga yang dihiasi dengan ukiran-ukiran yang disebut dengan panapiri. Menariknya lagi, pada ujung bubungan bagian depan dan belakang diletakkan mahkota berukir yang disebut dengan bangko-bangko.

Bangunan Banua Mbaso ini tampak lebih artistik, karena hampir semua bagian bangunan ini diberi hiasan berupa kaligrafi Arab dan ukiran dengan motif bunga-bungaan dan daun-daunan. Hiasan-hiasan tersebut terdapat pada jelusi-jelusi pintu atau jendela, dinding-dinding bangunan, loteng, ruang depan, pinggiran cucuran atap, papanini, dan bangko-bangko. Semua hiasan tersebut melambangkan kesuburan, kemuliaan, keramah-tamahan dan kesejahteraan bagi penghuninya.

Salah satu contoh bangunan Banua Mbaso merupakan tempat wisata sejarah di Tana Kaili, terdapat ditengah pusat kota Kaledo (Palu), Sulawesi Tengah, Kecamatan Palu Selatan. Banua Mbaso atau lebih sering disebut Sou Raja (bahasa daerah kaili berarti Rumah Besar atau Pondok Raja), didirikan sekitar 115 tahun silam dengan ukuran 32x11,5 meter.

Dan rumah besar itu dibangun oleh Raja Palu Jodjokodi sekitar 1892, dan merupakan tempat tinggal sang Raja beserta keluarganya, sekaligus berfungsi sebagai pusat pemerintahan kerajaan pada waktu tersebut. Rumah panggung berbentuk pelana ini merupakan paduan arsitektur gaya Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan, dimana memiliki 28 buah tiang penyangga rumah bagian induk dan gandaria (Teras) serta 8 buah tiang bagian dapur.

Related posts