Cadangan Devisa Tergerus US2,6 Miliar - Diyakini Bisa Naik Lag

NERACA

Jakarta----Pemerintah masih yakin jumlah cadangan devisa nasional bisa kembali naik ke level US$ 120 miliar pada akhir 2011. Turun naiknya posisi devisa Indonesia dipengaruhi krisis global. Karena itu sebagai hal yang wajar. "Di akhir tahun kita perkirakan akan kembali di kisaran US$ 120 miliar," kata Menteri Keuangan, Agus Martowardojo kepada wartawan di Jakarta,6/12.

Menurut Agus, cadangan devisa nasional tersimpan dalam berbagai bentuk. Artinya bukan hanya dolar. Namun ada mata uang lainnya, begitu juga emas. "Jadi kita punya cadangan devisa itu cukup beragam didalamnya, tapi memang dominasinya dalam dolar. Kalau seandainya ada krisis global kondisi naik dan turun itu sesuatu yang wajar," tambahnya

Lebih jauh mantan Dirut Bank Mandiri ini menambahkan pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) terus memantau dan mencermati kepada self insurance yakni cadangan devisa. Dengan cadangan devisa mumpuni maka tidak usah takut akan krisis. "Kita dan bersama-sama dengan BI tentu nanti akan ada solusi dari currency tadi. Jadi bahwa cadangan devisa kita di bulan Oktober sedikit menurun dibandingkan bulan Agustus, itupun sesuatu yang wajar," tegasnya.

Cadangan devisa Indonesia sempat anjlok US$ 1,3 miliar di awal Oktober 2011 dari posisi September 2011 yang mencapai US$ 114,5 miliar. Namun per 31 Oktober, cadangan devisa RI sudah kembali mencapai US$ 114 miliar.

Ditempat terpisah, Bank Indonesia dalam situsnya mengungkapkan jumlah cadangan devisa Indonesia menurun sekitar US$ 2,6 miliar dalam tempo satu bulan. Tercatat, hingga November 2011 posisi cadangan devisa tinggal US$ 111,316 miliar. Padahal akhir Oktober 2011, tercatat cadangan devisa sudah mencapai US$ 113,962 miliar.

Gubernur BI, Darmin Nasution pekan lalu mengatakan BI harus bersusah payah dalam mengelola derasnya aliran modal yang masuk alias capital inflow. "Nah yang belum yaitu lelang dengan valas sekaligus beli SUN. Itu tidak harus dilakukan anytime tapi pada saat diperlukan saja," ucapnya.

Pasalnya, kata mantan Dirjen Pajak ini, volume inflow yang cukup besar membuat bank sentral harus mengeluarkan berbagai bauran kebijakan dan intervensi untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah terutama menggunakan cadangan devisa. "Sebetulnya susah karena bagaimanapun juga dengan capital inflow yang ada menunjukkan dia itu volumenya besar sehingga emerging market tidak mudah meredam dan mengabsorb gejolak yang ada," terangnya

Lebih jauh Darmin mengatakan, bank sentral terus melakukan inovasi guna meredam tingginya arus modal masuk. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga rupiah stabil. "Kita juga menginovasi cara mengintervensi. Sekarang kita konsisten mengintervensi di pasar valas sekaligus pasar SUN, itu sendiri banyak dampaknya," jelasnya.

Adapun gambaran cadangan devisa 2011, antara lain, Januari US$ 95,3 milliar, Februari US$ 97 miliar, Maret US$ 105,7 miliar, April US$ 116,5 miliar, Mei US$ 118 miliar, Juni US$ 119,65 miliar, Juli US$ 122,7 miliar, Agustus US$ 124,5 miliar, September US$ 114,5 miliar, Oktober US$ 114 miliar, November 2011 US$ 111 miliar. **cahyo

Related posts