UNESCO-APEID, Ajak Dunia Pendidikan Lebih Kreatif

Neraca. Pendidikan merupakan tolak ukur kemajuan suatu bangsa dan Negara, dimana suatu bangsa yang memiliki pendidikan tinggi melahirkan manusia-manusia yang berkarakter dan kreatif dalam upaya meningkatkan kualitas hidup baik individu maupun masyarakat luas. Pendidikan selalu membawa pada perubahan kearah yang lebih baik dan terarah, sehingga masyarakat dapat menggapai cita-cita bersama. Dalam acara konferensi yang diadakan oleh UNESCO-APEID ke 15 ini, mengambil tema Pendidikan Yang Inspiratif; Kreatifitas dan Kewirausahaan.

Acara yang dihadiri lebih dari 400 peserta dan berasal dari 20 negara untuk mengambil contoh-contoh bidang usaha dan kisah-kisah keberhasilan dari berbagai sector public maupun swasta dan dapat menggalani kemampuan kreatifitas dan kewirausahaan sehingga dapat meninspirasi generasi berikut kedepannya. Generasi yang memiliki inovatif dan berfikir secara kreatif dan berani mengambil dan menghadapi resiko yang telah diperhitungkan secara matang. Setelah itu dapat menjadi warga Negara yang panjang akal, memiliki komitmen dan dapat bertanggung jawab dan terus berproduktif.

Dalam sambutannya Larry O`Farrell, Guru besar dan Ketua Bidang Seni dan Pembelajaran UNESCO, Fakultas Pendidikan, Universitas Queen`s, Kanada. Mengatakan ada kebutuhan mendesak terhadap orang-orang kreatif yang dapat menyelesaikan masalah di semua sector perekonomian untuk meningkatkan produktifitas dan kewirausahaan dan mengatasi berbagai tantangan social dan budaya. Kebutuhan yang mendesak adalah system pendidikan yang dapat meningkatkan kapasitas kreatif generasi mahasiswa saat ini dan kedepannya. Saat ini system pendidikan masih kurang karena belum dilengkapi beberapa standarisasi yang berkualitas.

“Di berbagai dunia saat ini, metode penghafalan masih menjadi sitem pengajaran yang diterapkan sedang dinegara-negara maju, lebih memprioritaskan kepada penguasaan ilmu pengetahuan disbanding eksperimen kreatif akibat adanya efek penghambat dari ujian yang terstandarisasi,” jelas O`Farrell.

Bila dilihat di pada dunia pendidikan di Cina, mereka memperluas system pendidikan tinggi selama dasawarsa terakhir ini, telah mampu mentransformasi dari system elit menjadi system pendidikan tinggi massal. Hal itu bertujuan untu mendorong terbentuknya penerapan kreatifitas dan kewirausahaan di bidang pendidikan pada perguruan tinggi disanah. “Orientasi pendidikan akademis tradisional digantikan dengan sistem pendidikan secara professional yang menuju kepada lapangan pekerjaan,” menurut Wang Libing, Guru Besar Bidang Pendidikan, Universitas Zhejiang, RRC.

“Untuk Indonesia dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerintah berupaya memperbaiki sector kewirausahaan untuk jangka menengah sehingga dapat bersaing ditingkat global,”menurut Mae Chu Chang,” Bidang Pengembangan Manusia Bank Dunia untuk Indonesia.

Pendidikan merupakan sumber kemajuan peradaban dan kebudayaan umat manusia. Bila suatu masyarakat memiliki tingkat pendidikan yang tinggi maka akan tercermin suatu pola kehidupan yang ramah, terbuka, kreatif dan mandiri. Dalam kemandirian itu, orang-orang dipetemukan untuk bertukar wawasan dan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas diberbagai sektor kehidupan secara layak. “Menumbuhkan kreatifitas mahasiswa dan mendorong kemandirian para mahasiswa untuk menjadi seorang yang memiliki produktifitas yang unggul dan memiliki daya saing terhadap tantangan sekarang dan kedepannya,” menurut Didi Lestariyono, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, Universitas WidyaGama, Malang, Jawa Timur.

Kehadiran para mahasiswa baik dari Indonesia sendiri maupun mahasiswa dari Negara-negara lain merupakan suatu bentuk perkenalan dan upaya pertukaranpemikiran kearah yang positif. Selain itu, para pengusaha sukses yang datang juga berpartisipasi untuk memberikan masukan dan contoh konkret atas kesuksesan mereka dalam perekonomian. “Mendidik jiwa-jiwa entrepreneurship sehingga lulusan mahasiswa dari perguruan tinggi bukan hanya menjadi pengangguran, karena menurut Pak Joko Santoso yang mewakili menteri pendidikan M.Nuh, mengatakan bahwa lulusan perguruan tinggi sekitar 10 persennya menganggur. Acara ini memberikan semangat dan dorongan agar para mahasiswa memiliki kemampuan entrepreneurship,” menurut Dwi Novi, Kabid.Hubungan Luar negeri BEM Univ.WidyaGama, Malang, Jawa Timur.

Related posts