Cadangan Devisa 55% Dalam Dolar

NERACA

Jakarta---Bank Indonesia (BI) mengungkapkan sekitar 55% cadangan devisa (cadev) negara dalam bentuk mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Tentu saja mata uang dolar ini dimaksudkan untuk berjaga-jaga, termasuk bisa digunakan untuk membayar utang. “Sebenarnya cadangan utama kita masih berbentuk dolar (AS) mungkin antara 55%, selain itu ada juga dolar Australia, euro, dan utang pemerintah,” kata Gubernur BI Darmin Nasution kepada wartawan di Jakarta, Senin (5/12)

Diakui Darmin, dolar milik BI tersebut tentu akan terkait dengan komposisi utang pemerintah. Karena kebutuhan untuk membayar cicilan utang bagian dari langkah BI. “Kita perhatikan juga komposisi utang pemerintah kalau pemerintah perlu mata uang tertentu untuk bayar bunga dan cicilan utang ya kita harus ada valasnya," tambahnya

Menurut mantan Dirjen Pajak ini, Bank Indonesia masih mencukupi untuk simpanan valas dan mampu menyediakan, manakala korporasi membutuhkan valas. Bahkan Bank sentral juga akan mempertimbangkan seperti apa ekonomi Indonesia. "Itu tergantung seperti apa ekonomi kita. Pertama-tama kita akan sediakan bagi eksportir untuk kebutuhan impor dan yang lain. kalau kemudian kurang BI akan turun," paparnya

Lebih jauh kata Darmin, pihaknya selama ini terus memantau pergerakan nilai tukar di pasar valuta asing (valas) dan juga dalam asar sekunder untuk memantau Surat Berharga Negara (SBN). "Pekerjaan di BI sehari-hari ya operasi pasar. Kalau rupiah berlebih, kita tarik rupiah, kalau dolar (AS) kurang, kita sediakan dolar (AS). Kalau harga SUN jatuh, kita beli. Itu pekerjaan BI dari jam ke jam. Orang dioperasi moneter, itu dari pagi sampai sore memantau, tidak hanya saat situasi bergejolak," ungkapnya

Namun demikian, kata Darmin lagi, sampai saat ini pihaknya masih menggunakan dua langkah dalam melakukan operasi pasar ini. "Belum yang langsung. Kita masih bisa mekanisme biasa. Tidak usah terlalu khawatir," imbuhnya

Sementara itu, Direktur Direktorat Kebijakan Moneter BI, Perry Warjiyo menilai terjadinya pelarian dana asing (capital outflow) akhir-akhir ini bukan dikarenakan oleh langkah BI yang menurunkan suku bunga acuan bank Indonesia (BI) dari 6,75% menjadi 6%. "Saya kira pelarian modal asing itu murni karena faktor global saja, bukan karena langkah BI yang menurunkan BI Rate kemarin," ujarnya

Menurut pandangannya, hal tersebut merupakan hal yang lumrah terjadi karena di semua negara pun mengalami hal yang sama. Selain itu, Perry pun melihat bahwa suku bunga yang ditawarkan oleh Indonesia masih menarik. "Saya rasa suku bunga yang ditawarkan oleh Indonesia masih cukup menarik. Yield obligasi pemerintah yang ditawarkan pun cukup menarik," paparnya.

Dalam kondisi seperti ini, Indonesia masuk dalam kategori aman dibandingkan dengan negara lain. "Dampak pelarian modal asing ini masih terhitung cukup baik bagi Indonesia, dibandingkan dengan negara Malaysia dan Singapura, kita jelas lebih baik," tukasnya. **cahyo

Related posts