Janjikan Penurunan Suku Bunga Kredit - Calon Deputi Gubernur BI

Jakarta - Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan pihaknya akan membenahi langkah-langkah dalam menurunkan suku bunga perbankan. Dalam uji kepatutan dan kelayakan Deputi Gubernur BI oleh Komisi XI DPR, Perry melihat suku bunga kredit dan deposito industri perbankan RI masih tinggi di wilayah Asia.

"Setelah menurunkan BI rate sebesar 75 basis poin dari 6,75 persen menjadi 6 persen dalam dua bulan terakhir BI perlu menempuh langkah-langkah untuk mempercepat penurunan suku bunga perbankan dalam mendorong adanya penyaluran kredir dan pembiayaan bagi dunia usaha," ujarnya yang juga sebagai Direktur Riset Ekonomi Bank Indonesia, kepada Komisi XI DPR, Senin (5/12).

Saat ini, spread antara suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan di Indonesia harus mencapai 6%. "Hal ini penurunan BI Rate harus diikuti oleh penurunan suku bunga perbankan, baik suku bunga simpanan maupun kredit," tegasnya.

Namun menurutnya, yang paling penting adalah langkah lanjutan agar penurunan suku bunga kredit dapat turunsecara signifikan. Khususnya melalui penurunan spread antara suku simpanan kredit masih tinggi di Asia sekitar 6%.

Perry menambahkan, perbankan harus didorong untuk menurunkan tingginya spread ini. Implementasinya melalui pengaturan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dan dimasukkan ke dalam target Rencana Bisnis Bank (RBB). "Dengan adanya penurunan bunga kredit diharapkan ada peranan perbankan yang lebih real dalam penyaluran kredit dengan suku bunga rendah," jelasnya.

Yang jelas, Perry memaparkan visi dan misinya dalam uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) kepada komisi XI DPR RI. "Visi dan misi saya ke depan secara umum adalah memperkuat kebangkitan Bank Indonesia dalam artian mengawal perekonomian nasional untuk menghadapi dampak dari krisis global," ujar Perry.

Lebih lanjut dia memperkenalkan tiga langkah yang akan dilakukannya jika kelak terpilih menjadi Deputi Gubernur BI untuk menjadikan peran Bank Indonesia dalam menata perekonomian dan pranata lembaga nasional. "Setidaknya dapat dilakukan tiga langkah pokok seperti kontribusi kebijakan, penguatan koordinasi antar lembaga penyediaan informasi laporan, dan melaksanakan kajian," tegasnya.

Ada pun beberapa tantangan yang akan dihadapi BI ke depan menurutnya berupa bagaimana menghadapi kondisi ekonomi dan keuangan global yang semakin buruk dan kurang menentu akibat dari krisis AS dan Eropa. "Selain itu mengatasi perekonomian nasional yang akan diperkirakan mengalami perlambatan pertumbuhan," paparnya.

Perry menambahkan, tantangan lain yang akan dihadapi BI ke depannya yaitu Bank Indonesia diharapkan tetap mampu secara efektif mengawal perekonomian nasional di tengah adanya beberapa undang-undang yang mempengaruhi tugas dan kewenangannya. "Semua langkah ini bertujuan untuk bagaimana agar bisa menerapkan strategi untuk memperkuat peran BI dalam mengawal perekonomian nasional dalam menghadapi krisis global," jelasnya.

Potensi Domestik

Sementara calon Deputi Gubernur BI lainnya, Ronald Waas, akan melakukan optimalisasi potensi domestik yang secara khusus dapat mendukung pertumbuhan perekonomian.

Ronald merupakan salah satu calon yang hari ini menyampaikan visi dan misinya dalam uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) kepada Komisi XI DPR RI. "Visi dan misi sebagai Deputi Gubernur yaitu untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat," ujar Direktur Direktorat Sistem Pembayaran BI, Ronald Waas di Gedung DPR Jakarta, Senin (5/12).

Bank Indonesia, lanjutnya, harus tetap konsisten untuk pencapaian tingkat inflasi yang rendah. Namun juga tetap peduli terhadap perkembangan ekonomi di sektor lainnya. "Tingkat inflasi yang dicapai akan menjadi landasan meringankan berbagai dunia usaha dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan memihak kaum lemah, yang disebut juga mendukung kebijakan pro growth-pro job-pro poor," tegasnya.

Untuk program yang diusulkan ke depannya, dia akan fokus pada penguatan usaha mikro dan kecil serta penetrasi sistem pembayaran baik tunai maupun tunai. "Program 5+1 adalah lima program yang bersifat eksternal dan satu program bersifat internal yang dapat mendukung pelaksanaan. Program eksternal," jelasnya.

Usai acara, DPR mengakui kedua calon Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI), sama-sama layak menjadi DG. Wakil Komisi XI DPR Achsanul Qosasih menilai, dua calon DG BI yang melakukan fit & proper test hari ini sama-sama unggul dalam bidangnya masing-masing, "Dua calon ini menarik. Keduanya unggul dalam konsentrasi kerjanya sekarang masing-masing. Kita lihat Perry Wadjio kekuatanya lebih ke makro dan moneter, sedangkan Ronald Waas lebih ke mikro pembayaran," ungkapnya kala ditemu usai acara fit & proper test DG BI di Komisi XI DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (5/12).

Menurutnya, dalam menjawab berbagai pertanyaan dari anggota Komisi XI pun keduanya menjawab dengan lugas pertanyaan-pertanyaannya yang diajukan oleh pihaknya.

Karenannya, usai fit n proper test pada dua calon lainnya besok, Komisi XI akan melakukan rapat internal dan mengambil keputusan pada Rabu malam nanti. "Nanti keputusannya akan kita ambil pada Rabu malam, setelah kita lakukan rapat internal," paparnya.

Di sisi lain, dia yakin jika fit & poper test DG BI akan ketat, hal ini diungkapkannya melihat posisi masing-masing calon DG BI tersebut. "Besok pertarungan ketat. kita tahu bahwa Muliaman dalah policy maker sedangkan Riswinandi adalah pelaku dan pengguna kebijakan. Dari sisi background saja sudah kita pisahkan," tukasnya.

Related posts