Cukai Rokok Dinaikkan Untuk Kejar APBN

NERACA

Jakarta—Pemerintah menaikkan cukai rokok rata-rata 16% per 1 Januari 2011 dinilai hanya untuk memenuhi target penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012. "Seharusnya kenaikan cukai rokok rata-rata 16% itu tidak mementingkan pendapatan negara saja,” Wakil Sekertaris Umum Apindo, Franky Sibarani kepada wartawan di Jakarta,2/12

Padahal, kata Franky lagi, kenaikkan pendapatan cukai itu harus bisa memberikan dampak positif bagi sector lainnya. “Tetapi harus bisa memberikan pendapatan yang besar bagi industri dan kesehatan masyarakatnya perlu ditingkatkan," terangnya

Seperti diketahui, keputusan kenaikan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 167/PMK.011/2011 tentang perubahan ketiga atas PMK Nomor 181/PMK.011/2009 Tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau, dengan ketentuan tarif cukainya mulai berlaku pada tanggal 1 januari 2012.

Menurut Franky, dana hasil kenaikan tersebut seharusnya untuk meningkatkan kesejahteraan perokok. "Pemerintah seharusnya bisa melihat kesehatan masyarakat banyak yang mengkonsumsi rokok tersebut," tambahnya

Dengan demikian industri rokok dan penikmat rokok menerima manfaat dengan kenaikan tersebut. Jadi tidak hanya untuk menambal APBN saja.

Ditempat terpisah, Analis Citi Indonesia, Helmi Arman memperkirakan Pada 2012, pertumbuhan ekonomi diprediksi tetap tinggi, Yakni sebesar 6,3% dipicu oleh permitaan domestik. “Untuk 2012, pertumbuhan keseluruhan dapat melambat menuju 6,3% (dari 6,5% di 2011) di tengah perlambatan permintaan eksternal,” ujarnya.

Hanya saja, Amran optimis, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cenderung positif. Hal ini karena didorong konsumtif yang tinggi. “Namun, pertumbuhan perekonomian relatif kuat didorong permintaan domestik,” ungkapnya

Helmi melanjutkan, dengan lebih dari 60% populasi menghabiskan lebih dari setengah pengeluaran mereka untuk makanan (data tahun 2009), inflasi (dibandingkan dengan pertumbuhan ekspor) merupakan faktor yang lebih penting yang mempengaruhi konsumsi rumah tangga.

“Sejauh ini inflasi telah ditekan, dan meskipun pemotongan subsidi energi tahun depan dapat meningkatkan inflasi, kelas pendapatan rendah mungkin akan kurang terpengaruh seperti tarif listrik mungkin tidak mendaki untuk rumah tangga berpenghasilan rendah dan ada juga bisa kompensasi subsidi berikut setiap pengurangan subsidi BBM,” tuturnya.

Terkait inflasi di 2012, Helmi memerkirakan inflasi berada di level 5,8%. “Tentu sajajika rendana pengurangan subsidi tahun depan untuk TDL naik 10% dan pengurangan subsidi BBM dapat mendoroan inflasi menurut proyeksi kami menjadi 5,8%,” terangnya. **cahyo

Related posts